Kisah Bijak Para Sufi: Tuan Rumah dan Tamu
Sabtu, 30 Mei 2020 - 17:58 WIB
loading...
Kisah ini merupakan salah satu kisah Sufi yang mengandung pembatasan. Foto/Ilustrasi/Ist
A
A
A
SORANG guru adalah laksana tuan rumah. Para tamunya adalah orang-orang yang berusaha mempelajari Jalan. Mereka ini adalah orang-orang yang belum pernah berada dalam rumah sebelumnya, dan hanya mempunyai bayangan samar-samar tentang ujudnya. Bagi mereka, rumah itu ada, tidak lebih.
Ketika tamu memasuki rumah dan melihat bangku, mereka pun bertanya, "Apa gerangan ini?' Dijawab: "Ini tempat duduk." Demikianlah, tamu itu pun duduk di kursi, tetapi tak sadar sepenuhnya tentang kegunaannya.
Tuan rumah menjamu mereka, namun mereka melanjutkan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, yang beberapa di antaranya tidak ada sangkut pautnya. Layaknya tuan rumah yang baik, pemilik rumah itu tidak menyalahkan ketololan mereka tersebut. Misalnya, mereka ingin mengetahui tempat dan waktu makan. Para tamu itu tidak menyadari bahwa tak ada orang yang sendirian, dan bahwa pada saat itu pun ada orang lain yang sedang memasak makanan, dan bahwa terdapat kamar lain tempat mereka nanti akan duduk makan. Karena tidak melihat tepung, atau proses pengolahannya, mereka pun bingung, mungkin ragu, dan bahkan gelisah.
Baca juga: Baginda Sultan dan Para Menteri Bertelur, Abu Nawas Berkokok
Karena memahami kebingungan tamunya, tuan rumah yang baik pun mencoba menenteramkan hati mereka agar nantinya mereka bisa menikmati makanan ketika waktunya tiba. Semula, tidak siap untuk mencicipi hidangan.
Beberapa di antara para tamu itu cepat mengerti; mereka hubungkan suatu hal tentang rumah tersebut dengan hal lainnya. Mereka inilah yang bisa meneruskan pengetahuan itu kepada teman-temannya yang lebih lambat tanggap. Sementara itu, tuan rumah menjawab pertanyaan setiap tamu sesuai dengan kemampuan mereka itu memahami kesatuan dan kegunaan rumah tersebut.
Tidaklah cukup apabila rumah itu sekadar ada, sebab ia dibuat untuk menerima tamu, untuk didiami oleh pemiliknya. Seseorang harus rajin-rajin mengurus rumah tersebut agar orang asing yang menjadi tamu, dan tuan rumahnya sendiri, bisa merasa kerasan. Pada awalnya, banyak di antara para tamu itu yang tidak sadar bahwa mereka adalah tamu, atau seperti apakah sopan-santun seorang tamu itu: apa yang bisa mereka bawa ke dalam rumah, apa yang akan mereka peroleh.
Baca juga: Ketika Nasruddin Hoja Tidak Konsisten Lagi
Seorang tamu yang berpengalaman, yang telah mempelajari mengenai rumah dan keramah-tamahan, akan merasa nyaman dalam kedudukannya sebagai tamu; dan selanjutnya, ia sudah siap untuk memahami lebih jauh tentang rumah dan berbagai segi kehidupan di dalamnya. Ketika ia masih mencoba memahami apa gerangan rumah itu, atau berusaha mengingat-ingat aturan etiket, perhatiannya akan sangat tersedot oleh unsur-unsur tersebut, daripada untuk mengamati, misalnya, keindahan, nilai, atau kegunaan perabotan.
Kisah perumpamaan yang luhur ini, yang dikutip dari ajaran-ajaran Nizamudin Awlia yang hidup pada abad keempat belas, dianggap memiliki pesan-pesan kebaikan pada beberapa tingkat. Kisah ini menunjuk pada beragam urutan kegunaan akal agar suatu pemahaman tertentu yang lebih tinggi bisa dicapai.
Ketika tamu memasuki rumah dan melihat bangku, mereka pun bertanya, "Apa gerangan ini?' Dijawab: "Ini tempat duduk." Demikianlah, tamu itu pun duduk di kursi, tetapi tak sadar sepenuhnya tentang kegunaannya.
Tuan rumah menjamu mereka, namun mereka melanjutkan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, yang beberapa di antaranya tidak ada sangkut pautnya. Layaknya tuan rumah yang baik, pemilik rumah itu tidak menyalahkan ketololan mereka tersebut. Misalnya, mereka ingin mengetahui tempat dan waktu makan. Para tamu itu tidak menyadari bahwa tak ada orang yang sendirian, dan bahwa pada saat itu pun ada orang lain yang sedang memasak makanan, dan bahwa terdapat kamar lain tempat mereka nanti akan duduk makan. Karena tidak melihat tepung, atau proses pengolahannya, mereka pun bingung, mungkin ragu, dan bahkan gelisah.
Baca juga: Baginda Sultan dan Para Menteri Bertelur, Abu Nawas Berkokok
Karena memahami kebingungan tamunya, tuan rumah yang baik pun mencoba menenteramkan hati mereka agar nantinya mereka bisa menikmati makanan ketika waktunya tiba. Semula, tidak siap untuk mencicipi hidangan.
Beberapa di antara para tamu itu cepat mengerti; mereka hubungkan suatu hal tentang rumah tersebut dengan hal lainnya. Mereka inilah yang bisa meneruskan pengetahuan itu kepada teman-temannya yang lebih lambat tanggap. Sementara itu, tuan rumah menjawab pertanyaan setiap tamu sesuai dengan kemampuan mereka itu memahami kesatuan dan kegunaan rumah tersebut.
Tidaklah cukup apabila rumah itu sekadar ada, sebab ia dibuat untuk menerima tamu, untuk didiami oleh pemiliknya. Seseorang harus rajin-rajin mengurus rumah tersebut agar orang asing yang menjadi tamu, dan tuan rumahnya sendiri, bisa merasa kerasan. Pada awalnya, banyak di antara para tamu itu yang tidak sadar bahwa mereka adalah tamu, atau seperti apakah sopan-santun seorang tamu itu: apa yang bisa mereka bawa ke dalam rumah, apa yang akan mereka peroleh.
Baca juga: Ketika Nasruddin Hoja Tidak Konsisten Lagi
Seorang tamu yang berpengalaman, yang telah mempelajari mengenai rumah dan keramah-tamahan, akan merasa nyaman dalam kedudukannya sebagai tamu; dan selanjutnya, ia sudah siap untuk memahami lebih jauh tentang rumah dan berbagai segi kehidupan di dalamnya. Ketika ia masih mencoba memahami apa gerangan rumah itu, atau berusaha mengingat-ingat aturan etiket, perhatiannya akan sangat tersedot oleh unsur-unsur tersebut, daripada untuk mengamati, misalnya, keindahan, nilai, atau kegunaan perabotan.
Kisah perumpamaan yang luhur ini, yang dikutip dari ajaran-ajaran Nizamudin Awlia yang hidup pada abad keempat belas, dianggap memiliki pesan-pesan kebaikan pada beberapa tingkat. Kisah ini menunjuk pada beragam urutan kegunaan akal agar suatu pemahaman tertentu yang lebih tinggi bisa dicapai.
Lihat Juga :