Ibn al-Haitham: Ilmuwan Gila Penemu Kamera, Jungkir Balikkan Teori Pemikir Yunani
Senin, 27 September 2021 - 18:26 WIB
loading...
A
A
A
Dia menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bagaimana para arsitek Fatimiyah yang terdahulu ternyata sudah membuat mega proyek yang luar biasa untuk mengatasi masalah tersebut.
Ibnu Haitham pun mulai berpikir, jika memang solusi yang ada dibenaknya bisa menyelesaikan masalah banjir tersebut, tentunya itu sudah lama dipikirkan oleh para arsitek yang menciptakan semua desain yang luar biasa ini.
Menyaksikan ini, dia pun menyadari kelemahannya. Hal ini kemudian diakuinya secara terbuka di hadapan Khalifah Al-Hakim. Dan khalifah pun sangat kecewa. Tapi Al-Hakim tidak menjatuhkan hukuman pada Ibnu Haitham. Sebaliknya, dia justru memerintahkan Ibnu Haitham agar membantu dalam urusan pemerintahan. Sangat mungkin keputusan ini dikeluarkan karena khalifah melihat sejumlah potensi intelektual dari Ibnu Haitham yang sangat dibutuhkan istana.
Tapi bagaiamana pun, masalah banjir di Mesir masih terus menjadi permasalah yang ingin dipecahkan oleh Al-Hakim. Hal ini membuat Ibnu Haitham agaknya kurang tenang dengan situasi yang dihadapinya. Mengingat suasana hati khalifah yang sangat mudah berubah-ubah. Kadang dia menjadi sosok yang cerdas dan bijak, tapi kadang menjadi sangat mudah murka dan mudah menghukum.
Khawatir dengan keselamatannya, akhirnya Ibnu Haitham berpura-pura hilang ingatan alias gila. Dan sebagai akibatnya, dia dikurung di dalam rumah yang gelap.
Tidak diketahui berapa lama tepatnya Ibnu Haitham berada di dalam rumah tersebut. Tapi umumnya disebutkan bahwa dia dikurung dalam rumah ini sampai wafatnya Al-Hakim tahun 1021.
Baca juga: Pertempuran Sungai Nil, Perebutan Energi Sumber Daya Alam
Munculnya Inspirasi Monumental
Selama di dalam rumah tersebut, Ibnu Haitham berada di bawah perlindungan permanen dari pemerintah Fatimiyah. Hal ini memang diwajibkan oleh hukum untuk memastikan keselamatannya dan keselamatan orang lain. Tapi yang paling menyedihkan, selama masa pengurungan tersebut, Ibnu Haitham harus berpisah sementara waktu dari wacana dan diskusi yang biasa dia lakukan.
Namun demikian, ternyata pada kondisi inilah inspirasi monumental itu muncul. Menurut legenda, suatu hari dia melihat cahaya bersinar melalui lubang kecil ke kamarnya yang gelap. Cahaya tersebut memproyeksikan gambar dunia di luar ke dinding yang berlawanan, sehingga menampilkan bayangan. Dia memulai menyadari bahwa fenomena tersebut terjadi akibat benda-benda yang berada di luar diterangi oleh cahaya matahari.
Dari percobaan yang berulang-ulang dia menyimpulkan bahwa sinar cahaya bergerak dalam garis lurus, dan penglihatan manusia terjadi ketika sinar ini masuk ke mata.
Sebagai catatan, selama ratusan tahun, para pemikir dari Yunani seperti Ptolemeus, beranggapan bahwa penglihatan manusia disebabkan karena cahaya yang memancar dari mata menerangi benda-benda.
Melalui pengalamannya sendiri di ruangan gelap tersebut, Ibnu Haitham mulai meragukan dogma ilmiah tersebut. Dan ketika dia dikeluarkan dari ruangan tersebut, hal pertama yang ingin dilakukannya tidak lain adalah mengembangkan hipotesisnya ini.
Ibnu Haitham pun mulai berpikir, jika memang solusi yang ada dibenaknya bisa menyelesaikan masalah banjir tersebut, tentunya itu sudah lama dipikirkan oleh para arsitek yang menciptakan semua desain yang luar biasa ini.
Menyaksikan ini, dia pun menyadari kelemahannya. Hal ini kemudian diakuinya secara terbuka di hadapan Khalifah Al-Hakim. Dan khalifah pun sangat kecewa. Tapi Al-Hakim tidak menjatuhkan hukuman pada Ibnu Haitham. Sebaliknya, dia justru memerintahkan Ibnu Haitham agar membantu dalam urusan pemerintahan. Sangat mungkin keputusan ini dikeluarkan karena khalifah melihat sejumlah potensi intelektual dari Ibnu Haitham yang sangat dibutuhkan istana.
Tapi bagaiamana pun, masalah banjir di Mesir masih terus menjadi permasalah yang ingin dipecahkan oleh Al-Hakim. Hal ini membuat Ibnu Haitham agaknya kurang tenang dengan situasi yang dihadapinya. Mengingat suasana hati khalifah yang sangat mudah berubah-ubah. Kadang dia menjadi sosok yang cerdas dan bijak, tapi kadang menjadi sangat mudah murka dan mudah menghukum.
Khawatir dengan keselamatannya, akhirnya Ibnu Haitham berpura-pura hilang ingatan alias gila. Dan sebagai akibatnya, dia dikurung di dalam rumah yang gelap.
Tidak diketahui berapa lama tepatnya Ibnu Haitham berada di dalam rumah tersebut. Tapi umumnya disebutkan bahwa dia dikurung dalam rumah ini sampai wafatnya Al-Hakim tahun 1021.
Baca juga: Pertempuran Sungai Nil, Perebutan Energi Sumber Daya Alam
Munculnya Inspirasi Monumental
Selama di dalam rumah tersebut, Ibnu Haitham berada di bawah perlindungan permanen dari pemerintah Fatimiyah. Hal ini memang diwajibkan oleh hukum untuk memastikan keselamatannya dan keselamatan orang lain. Tapi yang paling menyedihkan, selama masa pengurungan tersebut, Ibnu Haitham harus berpisah sementara waktu dari wacana dan diskusi yang biasa dia lakukan.
Namun demikian, ternyata pada kondisi inilah inspirasi monumental itu muncul. Menurut legenda, suatu hari dia melihat cahaya bersinar melalui lubang kecil ke kamarnya yang gelap. Cahaya tersebut memproyeksikan gambar dunia di luar ke dinding yang berlawanan, sehingga menampilkan bayangan. Dia memulai menyadari bahwa fenomena tersebut terjadi akibat benda-benda yang berada di luar diterangi oleh cahaya matahari.
Dari percobaan yang berulang-ulang dia menyimpulkan bahwa sinar cahaya bergerak dalam garis lurus, dan penglihatan manusia terjadi ketika sinar ini masuk ke mata.
Sebagai catatan, selama ratusan tahun, para pemikir dari Yunani seperti Ptolemeus, beranggapan bahwa penglihatan manusia disebabkan karena cahaya yang memancar dari mata menerangi benda-benda.
Melalui pengalamannya sendiri di ruangan gelap tersebut, Ibnu Haitham mulai meragukan dogma ilmiah tersebut. Dan ketika dia dikeluarkan dari ruangan tersebut, hal pertama yang ingin dilakukannya tidak lain adalah mengembangkan hipotesisnya ini.
Lihat Juga :