Orang yang Merasa Tawadhu dan Ikhlas Bisa Jadi Bagian dari Riya
Rabu, 29 September 2021 - 13:59 WIB
loading...
A
A
A
Maka da'i yang tawadhu akan melihat semua orang dengan pandangan positif. Tidak menghakimi siapapun karena apapun dan bagaimanapun keadaannya. Tentu hal ini juga berarti bahwa da'i yang tawadhu akan selalu memandang obyek Dakwah dengan mata positif.
Ada sebuah pepatah terkenal yang mengatakan: "Nahnu du'aatun, lasna qudhootun" (kita adalah du'at dan bukan qadhi atau hakim).
Ketawadhuan pada sisi ini (memandang obyek Dakwah dengan mata positif) Sesungguhnya menjadi peringatan kepada Rasulullah SAW berkali-kali dalam Al-Qur'an. Satu contoh di antaranya ketika Allah berfiman: "Sesungguhnya engkau tidak mampu memberikan hidayah kepada siapa yang Engkau cintai. Tapi Allah memberikan hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki".
Ayat ini dan banyak lagi ayat lain Al-Qur'an menggambarkan bahwa konsep hidayah dalam dakwah itu ada di tangan Allah. Ini sekaligus bermakna bahwa kemungkinan untuk seseorang mendapat hidayah itu selalu ada.
Maka di satu sisi seorang da'i akan positif dalam melihat obyek dakwah (orang yang di dakwahi). Di sisi lain pandangan ini akan menjadikannya optimistik dalam menjalankan amanah dakwahnya.
Ketawadhuan (pandangan positif) kepada obyek Dakwah juga menyadarkan kita bahwa Dakwah itu tidak pernah, dan pastinya dilarang agama, untuk memaksakan Dakwah kepada orang lain. "Tidak ada pemaksaan dalam agama." (Al-Baqarah 256) adalah ayat yang sangat masyhur.
Pada akhirnya poin yang ingin saya sampaikan adalah biarkanlah perjuangan dakwah itu mengalir bagaikan air sejuk. Mengalir secara alami tanpa perasaan hebat (angkuh atau riya). Tapi juga mengalir sesuai ajaran dan ridho Allah. Dijalankan dengan mata positif, baik kepada obyek Dakwah, terlebih lagi kepada hidayah yang memang ketentuannya ada di tangan Pencipta hamba-hambaNya.
Semoga Allah menjaga hati kita, dan menjaga kita selalu di jalanNya. Aamin!
NYC, 28 September 2021
Baca Juga: 4 Wasiat Salafus Saleh Agar Bersikap Tawadhu
Ada sebuah pepatah terkenal yang mengatakan: "Nahnu du'aatun, lasna qudhootun" (kita adalah du'at dan bukan qadhi atau hakim).
Ketawadhuan pada sisi ini (memandang obyek Dakwah dengan mata positif) Sesungguhnya menjadi peringatan kepada Rasulullah SAW berkali-kali dalam Al-Qur'an. Satu contoh di antaranya ketika Allah berfiman: "Sesungguhnya engkau tidak mampu memberikan hidayah kepada siapa yang Engkau cintai. Tapi Allah memberikan hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki".
Ayat ini dan banyak lagi ayat lain Al-Qur'an menggambarkan bahwa konsep hidayah dalam dakwah itu ada di tangan Allah. Ini sekaligus bermakna bahwa kemungkinan untuk seseorang mendapat hidayah itu selalu ada.
Maka di satu sisi seorang da'i akan positif dalam melihat obyek dakwah (orang yang di dakwahi). Di sisi lain pandangan ini akan menjadikannya optimistik dalam menjalankan amanah dakwahnya.
Ketawadhuan (pandangan positif) kepada obyek Dakwah juga menyadarkan kita bahwa Dakwah itu tidak pernah, dan pastinya dilarang agama, untuk memaksakan Dakwah kepada orang lain. "Tidak ada pemaksaan dalam agama." (Al-Baqarah 256) adalah ayat yang sangat masyhur.
Pada akhirnya poin yang ingin saya sampaikan adalah biarkanlah perjuangan dakwah itu mengalir bagaikan air sejuk. Mengalir secara alami tanpa perasaan hebat (angkuh atau riya). Tapi juga mengalir sesuai ajaran dan ridho Allah. Dijalankan dengan mata positif, baik kepada obyek Dakwah, terlebih lagi kepada hidayah yang memang ketentuannya ada di tangan Pencipta hamba-hambaNya.
Semoga Allah menjaga hati kita, dan menjaga kita selalu di jalanNya. Aamin!
NYC, 28 September 2021
Baca Juga: 4 Wasiat Salafus Saleh Agar Bersikap Tawadhu
(rhs)
Lihat Juga :