Imam Syafi'i Tak Pernah Mengatakan Allah Bertempat di Atas 'Arsy (1)
Minggu, 03 Oktober 2021 - 06:30 WIB
loading...
A
A
A
"Kita tak boleh membahas masalah aqidah hanya berdasarkan terjemahan saja, sebab bisa jadi terjemahannya tidak tepat. Tentu saja cara seseorang menerjemah tergantung pada mazhab yang ia anut sehingga terjemahan satu orang bisa berbeda dengan lainnya. Apalagi ini terkait dengan ayat Al-Qur’an yang memang kaya makna," kata Ustaz Abdul Wahab dalam catatannya di NU Online.
Ayat tersebut menggunakan redaksi Istawa yang diterjemahkan sebagai "bersemayam". Bila kita melihat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bersemayam berarti: duduk, berkediaman, tinggal atau bila konteksnya adalah bersemayam dalam hati, maka maknanya adalah terpatri dalam hati.
Dengan demikian, dapat diketahui bahwa dalam peristilahan bahasa Indonesia, kalimat "bersemayam di atas 'Arasy artinya adalah duduk, berdiam atau tinggal di atas Arasy. Kesemua makna ini tanpa diragukan adalah makna jismiyah yang seharusnya dibuang jauh-jauh dari Allah sebab tak layak bagi kesucian-Nya. Makna duduk sendiri secara tegas dikecam keras oleh Imam Syafi'i.
Mengatakan Allah bersemayam di atas 'Arasy adalah ungkapan yang tidak tepat. Tim penerjemah dari Kementerian Agama tampaknya sadar akan celah ini sehingga mereka memberi catatan "Bersemayam di atas 'Arasy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dan kesucian-Nya" seolah mau menjelaskan bahwa bersemayam yang mereka maksud bukanlah bersemayam dalam arti duduk, tinggal atau berdiam yang kesemuanya tidak layak bagi kebesaran dan kesucian Allah, tetapi makna lain yang layak bagi-Nya.
Yang lebih paham tentang kalam dan paham Imam Syafi'i tentu para ulama bermazhab Syafi'i, bukan ulama di luar Syafi'iyyah.
(Bersambung)
Baca Juga: Pentingnya Belajar Islam kepada Guru yang Bersanad dan Bermazhab
Wallahu A'lam
Ayat tersebut menggunakan redaksi Istawa yang diterjemahkan sebagai "bersemayam". Bila kita melihat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bersemayam berarti: duduk, berkediaman, tinggal atau bila konteksnya adalah bersemayam dalam hati, maka maknanya adalah terpatri dalam hati.
Dengan demikian, dapat diketahui bahwa dalam peristilahan bahasa Indonesia, kalimat "bersemayam di atas 'Arasy artinya adalah duduk, berdiam atau tinggal di atas Arasy. Kesemua makna ini tanpa diragukan adalah makna jismiyah yang seharusnya dibuang jauh-jauh dari Allah sebab tak layak bagi kesucian-Nya. Makna duduk sendiri secara tegas dikecam keras oleh Imam Syafi'i.
Mengatakan Allah bersemayam di atas 'Arasy adalah ungkapan yang tidak tepat. Tim penerjemah dari Kementerian Agama tampaknya sadar akan celah ini sehingga mereka memberi catatan "Bersemayam di atas 'Arasy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dan kesucian-Nya" seolah mau menjelaskan bahwa bersemayam yang mereka maksud bukanlah bersemayam dalam arti duduk, tinggal atau berdiam yang kesemuanya tidak layak bagi kebesaran dan kesucian Allah, tetapi makna lain yang layak bagi-Nya.
Yang lebih paham tentang kalam dan paham Imam Syafi'i tentu para ulama bermazhab Syafi'i, bukan ulama di luar Syafi'iyyah.
(Bersambung)
Baca Juga: Pentingnya Belajar Islam kepada Guru yang Bersanad dan Bermazhab
Wallahu A'lam
(rhs)
Lihat Juga :