Ingin Menjadi Istri Berkarakter Surga? Yuk, Amalkan Sifat Ini !
Jum'at, 08 Oktober 2021 - 06:31 WIB
loading...
Di antara sifat seorang istri berkarakter surga adalah memiliki sifat hemat dalam hidupnya. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Di antara sifat seorang istri berkarakter surga adalah memiliki sifat hemat dalam hidupnya. Ia tidak pernah boros apalagi komsumtif. Selalu efisien dan sesuai skala prioritas dari penghasilan dan pendapatan suaminya.
Muhammad Mutawalli Asy-Sya'rawi dalam kitabnya ' Shifat Az-Zauj wa Az-Zaujah Ash-Shalihah' menjelaskan sifat hemat seorang istri berkarakter surgawi ini. Jadi dalam mengatur pengeluaran, hendaknya seorang istri bisa hemat dan ekonomis. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda, "Tidak akan jatuh miskin orang yang berhemat."
Baca juga: Memberi Kesenangan dan Bersenang-senang dengan Hati Suami
Keseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran pun harus diperhatikan. Istri tidak boleh membebani suami dengan beban kebutuhan dana di luar kemampuannya. Hal ini sesuai dengan pemahaman QS Al-Baqarah ayat 286. Allah Ta'ala berfirman :
لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا ٱكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦ ۖ وَٱعْفُ عَنَّا وَٱغْفِرْ لَنَا وَٱرْحَمْنَآ ۚ أَنتَ مَوْلَىٰنَا فَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". (QS Al Baqarah : 286)
Islam menganjurkan umatnya untuk bekerja dan berusaha dengan baik, pun menganjurkan agar hasil usaha dikeluarkan untuk tujuan yang baik dan bermanfaat.
Karena itu, keluarga muslim dalam mengelola pembelanjaan harus berprinsip pada pola konsumsi islami yaitu berorientasi kepada kebutuhan (need) dan manfaat (utility), sehingga hanya akan belanja apa yang dibutuhkan dan hanya akan membutuhkan apa yang bermanfaat.
Berkaitan dengan prinsip pengelolaan tersebut, maka sebagai seorang istri harus memiliki skala prioritas pengeluaran. Harus tahu mana yang dibutuhkan atau sekadar ingin. Islam mengajarkan agar pengeluaran rumah tangga Muslim lebih mengutamakan pembelian kebutuhan-kebutuhan pokok sehingga sesuai dengan tujuan syariat.
Baca juga: Siksaan Neraka Teringan, Inilah Gambarannya!
Muhammad Mutawalli Asy-Sya'rawi dalam kitabnya ' Shifat Az-Zauj wa Az-Zaujah Ash-Shalihah' menjelaskan sifat hemat seorang istri berkarakter surgawi ini. Jadi dalam mengatur pengeluaran, hendaknya seorang istri bisa hemat dan ekonomis. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda, "Tidak akan jatuh miskin orang yang berhemat."
Baca juga: Memberi Kesenangan dan Bersenang-senang dengan Hati Suami
Keseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran pun harus diperhatikan. Istri tidak boleh membebani suami dengan beban kebutuhan dana di luar kemampuannya. Hal ini sesuai dengan pemahaman QS Al-Baqarah ayat 286. Allah Ta'ala berfirman :
لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا ٱكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦ ۖ وَٱعْفُ عَنَّا وَٱغْفِرْ لَنَا وَٱرْحَمْنَآ ۚ أَنتَ مَوْلَىٰنَا فَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". (QS Al Baqarah : 286)
Islam menganjurkan umatnya untuk bekerja dan berusaha dengan baik, pun menganjurkan agar hasil usaha dikeluarkan untuk tujuan yang baik dan bermanfaat.
Karena itu, keluarga muslim dalam mengelola pembelanjaan harus berprinsip pada pola konsumsi islami yaitu berorientasi kepada kebutuhan (need) dan manfaat (utility), sehingga hanya akan belanja apa yang dibutuhkan dan hanya akan membutuhkan apa yang bermanfaat.
Berkaitan dengan prinsip pengelolaan tersebut, maka sebagai seorang istri harus memiliki skala prioritas pengeluaran. Harus tahu mana yang dibutuhkan atau sekadar ingin. Islam mengajarkan agar pengeluaran rumah tangga Muslim lebih mengutamakan pembelian kebutuhan-kebutuhan pokok sehingga sesuai dengan tujuan syariat.
Baca juga: Siksaan Neraka Teringan, Inilah Gambarannya!
Lihat Juga :