Surat Al-Fiil: Memetik Pelajaran Kisah Pasukan Bergajah
Jum'at, 15 Oktober 2021 - 06:43 WIB
loading...
A
A
A
Dalam kondisi seperti itu, Allah SWT mengirim kepada mereka burung dari arah laut, yang bagaikan layang-layang menyambar dengan berbondong-bondong, dan setiap burung membawa tiga buah batu seukuran kerikil.
Satu berada di paruhnya dan yang dua di kakinya. Tidak ada satu batu pun yang menimpa kepala mereka melainkan pasti hancur. Semua pasukan ini terkena lemparan batu tersebut, maka mereka lari berpencaran mencari jalan pulang, lalu mereka bertanya kepada Nufail supaya memberi tahu arah jalan pulang ke negerinya.
Sedangkan Nufail sudah berada di puncak gunung bersama warga Quraiys dan warga Arab lainnya. Mereka menyaksikan kejadian dan siksaan Allah SWT yang maha dahsyat atas pasukan bergajah tersebut.
Nufail pun melantunkan bait syairnya:
Tiada tempat berlari, bila Tuhan yang mengejarnya
Dan Asyram lah yang kalah, bukan yang menang
Dan kejadian itu terjadi tepatnya empat puluh tahun sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW, dan sebagian saksi mata peristiwa itu masih hidup manakala Muhammad diangkat menjadi utusan.
Kemudian Allah ta’ala menjelaskan dalam ayat kedua:
“Bukankah –Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia?”. [al-Fiil/105: 2].
Maksudnya bukankah Allah SWT telah menjadikan tipu daya mereka serta usaha yang mereka lakukan untuk menghancurkan Ka’bah sebagai perbuatan yang tidak punya pegangan yang mengantarkan pada kebinasaan mereka?
Kemudian Allah SWT mengatakan sebab kehancuran mereka:
“Dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong”. [al-Fiil/105: 3].
Maksudnya sekumpulan burung yang berpencar, dan burung ini berwarna hitam dari arah lautan dengan berbondong-bondong. Pada tiap burung membawa tiga buah batu kerikil, dua batu di kakinya dan satunya lagi diparuhnya, tidaklah batu tersebut mengenai sesuatu melainkan menghancurkanya.
Selanjutnya Allah SWT menjelaskan tugas burung tadi dengan mengatakan:
“Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar”. [al-Fiil/105: 4].
Para ulama tafsir ada yang mengatakan batu tersebut terbuat dari tanah yang terbakar di neraka Jahanam yang sudah diperuntukkan khusus untuk mereka dengan tertulis nama-nama kaum tersebut. Apabila batu tersebut mengenai mereka maka menembus sampai keluar dari duburnya. Ukuran batu itu seperti kerikil kecil.
Lalu Allah SWT menerangkan akhir dari perjalanan anak manusia yang sombong di muka bumi ini. Allah ta’ala berfirman:
“Lalu –Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)”. [al-Fiil/105: 5]
Yaitu mereka seperti dedaunan yang dimakan ulat lalu ulat tersebut melemparkan sisanya jatuh ke bawah. Ada yang mengatakan, maksudnya mereka seperti dedaunan yang dimakan ulat sehingga tinggal batangnya.
Adapun maksud ayat secara global, bahwa Allah ta’ala menghancurkan serta memporak porandakan tipu daya yang mereka rencanakan sehingga mereka tidak mendapat keuntungan sedikit pun.
Satu berada di paruhnya dan yang dua di kakinya. Tidak ada satu batu pun yang menimpa kepala mereka melainkan pasti hancur. Semua pasukan ini terkena lemparan batu tersebut, maka mereka lari berpencaran mencari jalan pulang, lalu mereka bertanya kepada Nufail supaya memberi tahu arah jalan pulang ke negerinya.
Sedangkan Nufail sudah berada di puncak gunung bersama warga Quraiys dan warga Arab lainnya. Mereka menyaksikan kejadian dan siksaan Allah SWT yang maha dahsyat atas pasukan bergajah tersebut.
Nufail pun melantunkan bait syairnya:
Tiada tempat berlari, bila Tuhan yang mengejarnya
Dan Asyram lah yang kalah, bukan yang menang
Dan kejadian itu terjadi tepatnya empat puluh tahun sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW, dan sebagian saksi mata peristiwa itu masih hidup manakala Muhammad diangkat menjadi utusan.
Kemudian Allah ta’ala menjelaskan dalam ayat kedua:
أَلَمۡ يَجۡعَلۡ كَيۡدَهُمۡ فِي تَضۡلِيلٖ
“Bukankah –Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia?”. [al-Fiil/105: 2].
Maksudnya bukankah Allah SWT telah menjadikan tipu daya mereka serta usaha yang mereka lakukan untuk menghancurkan Ka’bah sebagai perbuatan yang tidak punya pegangan yang mengantarkan pada kebinasaan mereka?
Kemudian Allah SWT mengatakan sebab kehancuran mereka:
وَأَرۡسَلَ عَلَيۡهِمۡ طَيۡرًا أَبَابِيلَ
“Dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong”. [al-Fiil/105: 3].
Maksudnya sekumpulan burung yang berpencar, dan burung ini berwarna hitam dari arah lautan dengan berbondong-bondong. Pada tiap burung membawa tiga buah batu kerikil, dua batu di kakinya dan satunya lagi diparuhnya, tidaklah batu tersebut mengenai sesuatu melainkan menghancurkanya.
Selanjutnya Allah SWT menjelaskan tugas burung tadi dengan mengatakan:
تَرۡمِيهِم بِحِجَارَةٖ مِّن سِجِّيلٖ
“Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar”. [al-Fiil/105: 4].
Para ulama tafsir ada yang mengatakan batu tersebut terbuat dari tanah yang terbakar di neraka Jahanam yang sudah diperuntukkan khusus untuk mereka dengan tertulis nama-nama kaum tersebut. Apabila batu tersebut mengenai mereka maka menembus sampai keluar dari duburnya. Ukuran batu itu seperti kerikil kecil.
Lalu Allah SWT menerangkan akhir dari perjalanan anak manusia yang sombong di muka bumi ini. Allah ta’ala berfirman:
فَجَعَلَهُمۡ كَعَصۡفٖ مَّأۡكُولِۢ
“Lalu –Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)”. [al-Fiil/105: 5]
Yaitu mereka seperti dedaunan yang dimakan ulat lalu ulat tersebut melemparkan sisanya jatuh ke bawah. Ada yang mengatakan, maksudnya mereka seperti dedaunan yang dimakan ulat sehingga tinggal batangnya.
Adapun maksud ayat secara global, bahwa Allah ta’ala menghancurkan serta memporak porandakan tipu daya yang mereka rencanakan sehingga mereka tidak mendapat keuntungan sedikit pun.
Lihat Juga :