Surat Al-Fiil: Memetik Pelajaran Kisah Pasukan Bergajah
Jum'at, 15 Oktober 2021 - 06:43 WIB
loading...
A
A
A
Allah ta’ala membinasakan mereka semua kecuali satu tentara yang mengabarkan pada kaumnya, namun kondisinya terluka parah seperti halnya raja mereka Abrahah.
Kondisi tentara tadi terbelah dada dan hatinya hingga ketika sampai di negerinya Shan’a dan mengabarkan kejadiannya lalu setelah itu dia pun mati.
Baca juga: Yaman Pra-Islam: Abrahah dan Pembantaian 20.000 Umat Nasrani
Dua Pelajaran
Dr Amin bin Abdullah asy-Syaqawi dalam tulisannya berjudul وقفات مع سورة الفيل menyebut dua pelajaran dari surat ini:
Pertama: Inilah akhir perjalanan dari setiap orang yang menentang Allah ta’alla dan memerangi Allah SWT serta menghalalkan apa yang telah diharamkan.
Allah ta’ala menjelaskan hal tersebut dalam ayat yang lain:
“Dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih”. [ QS al-Hajj/22: 25 ]
Di dalam sebuah hadits, dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni seorang yang zalim hingga ketika Allah menyiksanya, Dia tidak memedulikannya”.
Kemudian beliau membaca firman Allah:
“Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila –Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab -Nya itu adalah sangat pedih lagi keras”. [Huud/11: 102] HR Bukhari no: 4686. Muslim no: 2483.
Kedua: Kekuasaan Allah ta’alla Maha Perkasa. Dan -Dia Maha Mampu melakukan segala sesuatu. Allah Shubhanahu wa ta’ala menjelaskan dalam ayat lain:
“Sesungguhnya keadaan -Nya apabila –Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” Maka terjadilah ia”. [ QS Yaasin/36: 82 ].
Dalam ayat lain Allah ta’ala menjelaskan:
“Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata”. [ QS al-Qomar/54: 50 ].
Tidak ada yang menghalangi kehendak Allah ta’ala untuk melakukan segala sesuatu, Allah ta’ala berfirman:
“Dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Kuasa”. [ QS Faathir/35: 44 ]
Kondisi tentara tadi terbelah dada dan hatinya hingga ketika sampai di negerinya Shan’a dan mengabarkan kejadiannya lalu setelah itu dia pun mati.
Baca juga: Yaman Pra-Islam: Abrahah dan Pembantaian 20.000 Umat Nasrani
Dua Pelajaran
Dr Amin bin Abdullah asy-Syaqawi dalam tulisannya berjudul وقفات مع سورة الفيل menyebut dua pelajaran dari surat ini:
Pertama: Inilah akhir perjalanan dari setiap orang yang menentang Allah ta’alla dan memerangi Allah SWT serta menghalalkan apa yang telah diharamkan.
Allah ta’ala menjelaskan hal tersebut dalam ayat yang lain:
وَمَن يُرِدۡ فِيهِ بِإِلۡحَادِۢ بِظُلۡمٖ نُّذِقۡهُ مِنۡ عَذَابٍ أَلِيمٖ
“Dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih”. [ QS al-Hajj/22: 25 ]
Di dalam sebuah hadits, dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ اللَّهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ. قَالَ: ثُمَّ قَرَأَ {وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ » [أخرجه البخاري ومسلم ]
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni seorang yang zalim hingga ketika Allah menyiksanya, Dia tidak memedulikannya”.
Kemudian beliau membaca firman Allah:
وَكَذَٰلِكَ أَخۡذُ رَبِّكَ إِذَآ أَخَذَ ٱلۡقُرَىٰ وَهِيَ ظَٰلِمَةٌۚ إِنَّ أَخۡذَهُۥٓ أَلِيمٞ شَدِيدٌ
“Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila –Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab -Nya itu adalah sangat pedih lagi keras”. [Huud/11: 102] HR Bukhari no: 4686. Muslim no: 2483.
Kedua: Kekuasaan Allah ta’alla Maha Perkasa. Dan -Dia Maha Mampu melakukan segala sesuatu. Allah Shubhanahu wa ta’ala menjelaskan dalam ayat lain:
إِنَّمَآ أَمۡرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيًۡٔا أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ
“Sesungguhnya keadaan -Nya apabila –Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” Maka terjadilah ia”. [ QS Yaasin/36: 82 ].
Dalam ayat lain Allah ta’ala menjelaskan:
وَمَآ أَمۡرُنَآ إِلَّا وَٰحِدَةٞ كَلَمۡحِۢ بِٱلۡبَصَرِ
“Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata”. [ QS al-Qomar/54: 50 ].
Tidak ada yang menghalangi kehendak Allah ta’ala untuk melakukan segala sesuatu, Allah ta’ala berfirman:
وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعۡجِزَهُۥ مِن شَيۡءٖ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَلَا فِي ٱلۡأَرۡضِۚ إِنَّهُۥ كَانَ عَلِيمٗا قَدِيرٗا
“Dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Kuasa”. [ QS Faathir/35: 44 ]
(mhy)
Lihat Juga :