Ikrar Aqaba: Peristiwa di Musim Haji yang Menegangkan
Rabu, 03 Juni 2020 - 15:47 WIB
loading...
A
A
A
Peristiwa Suwaid bin Shamit ini bukan contoh satu-satunya yang menunjukkan adanya pengaruh Yahudi dan Arab di Yathrib yang bertetangga itu, dari segi rohani.
Baca juga: Tragedi Qaramithah: Ka'bah Tanpa Hajar Aswad Selama 22 Tahun
Baiat Pertama
Keadaan Aus dan Khazraj yang begitu bermusuhan sebagai akibat provokasi pihak Yahudi, satu sama lain mencari sekutu di kalangan kabilah-kabilah Arab untuk memerangi lawannya. Dalam hal ini kedatangan Abu'l Haisar Ans bin Rafi' ke Makkah disertai pemuda-pemuda dari Banu Abd'l-Asyhal - termasuk Iyas bin Mu'adh - adalah dalam rangka mencari persekutuan dengan pihak Quraisy dan golongannya sendiri dari pihak Khazraj. Nabi Muhammad mengetahui hal ini. Ditemuinya mereka itu, dan diperkenalkannya Islam kepada mereka. Lalu dibacanya ayat-ayat Qur'an kepada mereka.
Pada waktu itu, Iyas bin Mu'adh sebagai pemuda remaja mengatakan: "Kawan-kawan, ini adalah lebih baik daripada apa yang ada pada kita semua."
Mereka kemudian kembali pulang ke Yastrib. Tak ada yang masuk Islam di antara mereka itu, selain Iyas. Mereka semua sedang sibuk mencari sekutu sebagai suatu persiapan karena adanya insiden Bu'ath yang telah melibatkan Aus dan Khazraj ke dalam api perang saudara itu, tidak lama sesudah Abu'l Haisar dan rombongannya kembali dari Makkah.
Akan tetapi kata-kata Nabi Muhammad SAW telah meninggalkan bekas yang dalam ke dalam jiwa mereka setelah terjadinya insiden itu, yang lalu membuat Aus dan Khazraj menantikan Muhammad sebagai Nabi, sebagai Rasul, sebagai wakil dan pemuka mereka.
Memang, terjadinya insiden Bu'ath itu tidak lama sesudah Abu'l-Haisar kembali ke Yastrib. Pada waktu itulah pertempuran sengit antara Aus dan Khazraj terjadi, yang membawa akibat timbulnya permusuhan yang berakar dalam sekali. Setiap golongan lalu bertanya-tanya kalau-kalau mereka itu yang menang: akan tetapkah mereka dengan kawan-kawan mereka itu, ataukah akan dikikis habis. Abu Usaid Hudzair sebagai pemuka Aus, sangat dendam sekali kepada Khazraj.
Musim haji berikutnya, sebagian peziarah dari Yatsrib mencari Rasulullah. Bertemulah di bukit Aqabah, tidak jauh dari Makkah. Mereka terdiri enam orang. ”Kami orang-orang Khazraj dari Yatsrib,” kata mereka mengenalkan diri.
”Apakah kalian tetangga orang Yahudi?” tanya Rasul.
”Ya,” jawab mereka.
Menurut Haekal, di tempat ini Rasulullah menemui mereka dan menanyakan keadaan mereka, yang kemudian diketahuinya, bahwa mereka adalah kawan-kawan orang-orang Yahudi. Ketika itu orang-orang Yahudi di Yathrib mengatakan apabila mereka saling berselisih.
"Sekarang akan ada seorang nabi utusan Tuhan yang sudah dekat waktunya. Kami akan jadi pengikutnya dan kami dengan dia akan memerangi kamu seperti dalam perang 'Ad dan Iram."
Setelah Nabi bicara dengan mereka dan diajaknya mereka bertauhid kepada Allah, satu sama lain mereka saling berpandang-pandangan. "Sungguh inilah Nabi yang pernah dijanjikan orang-orang Yahudi kepada kita," kata mereka. "Jangan sampai mereka mendahului kita."
Seruan Rasulullah mereka sambut dengan baik dan menyatakan diri mereka masuk Islam. Lalu kata mereka: "Kami telah meninggalkan golongan kami - yakni Aus dan Khazraj- dan tidak ada lagi golongan yang saling bermusuhan dan saling mengancam. Mudah-mudahan Tuhan mempersatukan mereka dengan tuan. Bila mereka itu sudah dapat dipertemukan dengan tuan, maka tak adalah orang yang lebih mulia dari tuan."
Orang-orang itu lalu kembali ke Madinah. Dua orang di antara mereka itu dari Banu'n-Najjar, keluarga Abd'l-Muttalib dari pihak ibu - kakek Muhammad yang telah mengasuhnya sejak kecil. Kepada masyarakatnya itu mereka menyatakan sudah menganut Islam. Ternyata merekapun menyambut pula dengan senang hati agama ini, yang berarti akan membuat mereka menjadi golongan monotheis seperti orang-orang Yahudi. Bahkan membuat lebih baik dari mereka. Dengan demikian tiada suatu keluargapun, baik Aus atau Khazraj, yang tidak menyebut nama Nabi Muhammad SAW.
Musim haji tahun berikutnya, yakni pada 621 M atau pada tahun kedua belas kenabian, ada dua belas orang Khazraj dan Aus pergi ke Makkah. Di antara dua belas orang itu, lima orang pernah bertemu nabi. Lima orang ini adalah As’ad bin Zurarah, Auf bin Al Harts, Rafi’ bin Malik bin Ajlan, Quthbah bin Amir bin Hadidah, dan Uqbah bin Amir bin Nabi.
Pertemuan terjadi di bukit Aqabah lagi secara rahasia. Setelah mendengar ajaran Islam, mereka menerimanya dengan berbaiat kepada Nabi Muhammad. Inilah baiat Aqabah pertama. Isinya tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh bayi, tidak mendatangkan kebohongan, dan tidak bermaksiat.
Sewaktu mereka pulang, Rasulullah memerintahkan sahabat Mush’ab bin Umair ikut mereka untuk mengajarkan Al-Quran dan menjadi imam salat. Mush’ab bin Umair tinggal di rumah As’ad bin Zurarah. (Baca juga: Duta Islam Pertama dan Bapak Tauhid, Sukses Membuka Jalan Hijrah Nabi )
Misi Sukses Mush’ab
Masalahnya, orang-orang suku Khazraj dan Aus masih menyimpan permusuhan dan persaingan. Orang Khazraj kalau salat tidak mau bermakmum kepada orang Aus dan sebaliknya. Kehadiran Mush’ab bin Umair menjadi penengah dan juru damai di antara dua suku itu. Dialah yang menjadi imam.
Tapi kedatangan Mush’ab bin Umair juga memunculkan masalah politik. Pemimpin suku Khazraj, Sa’ad bin Muadz dan Usaid bin Hudhair, tidak senang karena mengusik Mush’ab wilayah kepemimpinannya. Karena itu keduanya ingin mengusir Mush’ab.
Saat bertemu dua pemimpin itu, Mush’ab menjelaskan ajaran Islam dan membacakan ayat al-Quran. Ternyata dua orang ini langsung tertarik menerima ayat itu dan bersyahadat. Setelah itu pergi menemui kaumnya, Bani Abdul Asyhal, mengumumkan keislamannya.
Kaumnya tersentak kaget mendengar perkataan Sa’ad bin Muadz. Tapi menyadari pemimpinnya masuk Islam, maka semua anggotanya mengikutinya hingga hanya dalam sehari semua kaumnya bersyahadat di depan Mush’ab.
Menjelang bulan-bulan suci akan tiba, Mush’ab datang lagi ke Makkah dan kepada Rasulullah diceritakannya keadaan Muslimin di Yathrib itu; tentang ketahanan dan kekuatan mereka, dan bahwa pada musim haji tahun ini mereka akan datang lagi ke Makkah dalam jumlah yang lebih besar dengan iman kepada Tuhan yang sudah lebih kuat.
Berita-berita yang disampaikan oleh Mush'ab ini membuat Nabi Muhammad berpikir lebih lama lagi. Pengikut-pengikutnya di Yathrib kini makin sehari makin berkuasa dan bertambah kuat juga. Dari orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik mereka tidak mendapat gangguan seperti yang dialami oleh kawan-kawannya di Makkah karena gangguan Quraisy.
Baca juga: Keputusan Pembatalan Keberangkatan Haji Dilakukan Sepihak oleh Pemerintah
Di samping itu Yathrib lebih makmur daripada Makkah - ada pertanian, ada kebun kurma, ada anggur. Bukankah lebih baik sekali apabila Muslimin Makkah itu hijrah saja ke tempat saudara-saudara mereka di sana, yang akan terasa lebih aman? Mereka akan bebas dari Quraisy yang selalu memfitnah agama mereka.
Selama Nabi Muhammad berpikir-pikir itu teringat olehnya akan orang-orang dari Yastrib, mereka yang mula-mula masuk Islam itu, dan yang menceritakan adanya permusuhan antara golongan Aus dan Khazraj. Apabila dengan perantaraannya mereka itu sudah dapat dipersatukan Tuhan, maka tak ada orang yang lebih mulia dari Muhammad. Sekarang mereka sudah dipertemukan Allah bersama dia, bukankah lebih baik apabila dia juga hijrah? Ia tidak ingin membalas kejahatan Quraisy itu.
Tahun berikutnya, yakni tahun 622 M, Mush’ab bin Umair pulang ke Makkah diiringi jemaah haji dari Yathrib terdiri dari tujuhpuluh lima orang, tujuhpuluh tiga pria dan dua wanita.
Mengetahui kedatangan mereka ini, menurut Haekal, terpikir oleh Rasulullah akan mengadakan suatu ikrar lagi, tidak terbatas hanya pada seruan kepada Islam seperti selama ini, yang selama tigabelas tahun ini terus-menerus dilakukannya, dengan lemah-lembut, dengan segala kesabaran menanggung pelbagai macam pengorbanan dan kesakitan - melainkan kini lebih jauh lagi dari itu.
Ikrar itu hendaknya menjadi suatu pakta persekutuan, yang dengan demikian kaum Muslimin dapat mempertahankan diri: pukulan dibalas dengan pukulan, serangan dengan serangan. Rasulullah lalu mengadakan pertemuan rahasia dengan pemimpin-pemimpin mereka.
Ketika waktu yang dijanjikan tiba, di ujung malam sekelompok muslim Yatsrib keluar dari tendanya diam-diam. Berjalan mengendap-endap menuju bukit Aqabah sehingga berkumpul 73 laki-laki dan dua perempuan.
Dengan hati berdebar-debar mereka menunggu kedatangan Rasulullah di malam gelap itu. Tak lama kemudian Rasulullah muncul ditemani pamannya, Abbas bin Abdul Muththalib, pemimpin Bani Hasyim setelah kematian Abu Thalib.
Baca juga: Ibadah Haji 2020 Dibatalkan, Pemerintah Harus Serius Pikirkan Nasib Jamaah
Baca juga: Tragedi Qaramithah: Ka'bah Tanpa Hajar Aswad Selama 22 Tahun
Baiat Pertama
Keadaan Aus dan Khazraj yang begitu bermusuhan sebagai akibat provokasi pihak Yahudi, satu sama lain mencari sekutu di kalangan kabilah-kabilah Arab untuk memerangi lawannya. Dalam hal ini kedatangan Abu'l Haisar Ans bin Rafi' ke Makkah disertai pemuda-pemuda dari Banu Abd'l-Asyhal - termasuk Iyas bin Mu'adh - adalah dalam rangka mencari persekutuan dengan pihak Quraisy dan golongannya sendiri dari pihak Khazraj. Nabi Muhammad mengetahui hal ini. Ditemuinya mereka itu, dan diperkenalkannya Islam kepada mereka. Lalu dibacanya ayat-ayat Qur'an kepada mereka.
Pada waktu itu, Iyas bin Mu'adh sebagai pemuda remaja mengatakan: "Kawan-kawan, ini adalah lebih baik daripada apa yang ada pada kita semua."
Mereka kemudian kembali pulang ke Yastrib. Tak ada yang masuk Islam di antara mereka itu, selain Iyas. Mereka semua sedang sibuk mencari sekutu sebagai suatu persiapan karena adanya insiden Bu'ath yang telah melibatkan Aus dan Khazraj ke dalam api perang saudara itu, tidak lama sesudah Abu'l Haisar dan rombongannya kembali dari Makkah.
Akan tetapi kata-kata Nabi Muhammad SAW telah meninggalkan bekas yang dalam ke dalam jiwa mereka setelah terjadinya insiden itu, yang lalu membuat Aus dan Khazraj menantikan Muhammad sebagai Nabi, sebagai Rasul, sebagai wakil dan pemuka mereka.
Memang, terjadinya insiden Bu'ath itu tidak lama sesudah Abu'l-Haisar kembali ke Yastrib. Pada waktu itulah pertempuran sengit antara Aus dan Khazraj terjadi, yang membawa akibat timbulnya permusuhan yang berakar dalam sekali. Setiap golongan lalu bertanya-tanya kalau-kalau mereka itu yang menang: akan tetapkah mereka dengan kawan-kawan mereka itu, ataukah akan dikikis habis. Abu Usaid Hudzair sebagai pemuka Aus, sangat dendam sekali kepada Khazraj.
Musim haji berikutnya, sebagian peziarah dari Yatsrib mencari Rasulullah. Bertemulah di bukit Aqabah, tidak jauh dari Makkah. Mereka terdiri enam orang. ”Kami orang-orang Khazraj dari Yatsrib,” kata mereka mengenalkan diri.
”Apakah kalian tetangga orang Yahudi?” tanya Rasul.
”Ya,” jawab mereka.
Menurut Haekal, di tempat ini Rasulullah menemui mereka dan menanyakan keadaan mereka, yang kemudian diketahuinya, bahwa mereka adalah kawan-kawan orang-orang Yahudi. Ketika itu orang-orang Yahudi di Yathrib mengatakan apabila mereka saling berselisih.
"Sekarang akan ada seorang nabi utusan Tuhan yang sudah dekat waktunya. Kami akan jadi pengikutnya dan kami dengan dia akan memerangi kamu seperti dalam perang 'Ad dan Iram."
Setelah Nabi bicara dengan mereka dan diajaknya mereka bertauhid kepada Allah, satu sama lain mereka saling berpandang-pandangan. "Sungguh inilah Nabi yang pernah dijanjikan orang-orang Yahudi kepada kita," kata mereka. "Jangan sampai mereka mendahului kita."
Seruan Rasulullah mereka sambut dengan baik dan menyatakan diri mereka masuk Islam. Lalu kata mereka: "Kami telah meninggalkan golongan kami - yakni Aus dan Khazraj- dan tidak ada lagi golongan yang saling bermusuhan dan saling mengancam. Mudah-mudahan Tuhan mempersatukan mereka dengan tuan. Bila mereka itu sudah dapat dipertemukan dengan tuan, maka tak adalah orang yang lebih mulia dari tuan."
Orang-orang itu lalu kembali ke Madinah. Dua orang di antara mereka itu dari Banu'n-Najjar, keluarga Abd'l-Muttalib dari pihak ibu - kakek Muhammad yang telah mengasuhnya sejak kecil. Kepada masyarakatnya itu mereka menyatakan sudah menganut Islam. Ternyata merekapun menyambut pula dengan senang hati agama ini, yang berarti akan membuat mereka menjadi golongan monotheis seperti orang-orang Yahudi. Bahkan membuat lebih baik dari mereka. Dengan demikian tiada suatu keluargapun, baik Aus atau Khazraj, yang tidak menyebut nama Nabi Muhammad SAW.
Musim haji tahun berikutnya, yakni pada 621 M atau pada tahun kedua belas kenabian, ada dua belas orang Khazraj dan Aus pergi ke Makkah. Di antara dua belas orang itu, lima orang pernah bertemu nabi. Lima orang ini adalah As’ad bin Zurarah, Auf bin Al Harts, Rafi’ bin Malik bin Ajlan, Quthbah bin Amir bin Hadidah, dan Uqbah bin Amir bin Nabi.
Pertemuan terjadi di bukit Aqabah lagi secara rahasia. Setelah mendengar ajaran Islam, mereka menerimanya dengan berbaiat kepada Nabi Muhammad. Inilah baiat Aqabah pertama. Isinya tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh bayi, tidak mendatangkan kebohongan, dan tidak bermaksiat.
Sewaktu mereka pulang, Rasulullah memerintahkan sahabat Mush’ab bin Umair ikut mereka untuk mengajarkan Al-Quran dan menjadi imam salat. Mush’ab bin Umair tinggal di rumah As’ad bin Zurarah. (Baca juga: Duta Islam Pertama dan Bapak Tauhid, Sukses Membuka Jalan Hijrah Nabi )
Misi Sukses Mush’ab
Masalahnya, orang-orang suku Khazraj dan Aus masih menyimpan permusuhan dan persaingan. Orang Khazraj kalau salat tidak mau bermakmum kepada orang Aus dan sebaliknya. Kehadiran Mush’ab bin Umair menjadi penengah dan juru damai di antara dua suku itu. Dialah yang menjadi imam.
Tapi kedatangan Mush’ab bin Umair juga memunculkan masalah politik. Pemimpin suku Khazraj, Sa’ad bin Muadz dan Usaid bin Hudhair, tidak senang karena mengusik Mush’ab wilayah kepemimpinannya. Karena itu keduanya ingin mengusir Mush’ab.
Saat bertemu dua pemimpin itu, Mush’ab menjelaskan ajaran Islam dan membacakan ayat al-Quran. Ternyata dua orang ini langsung tertarik menerima ayat itu dan bersyahadat. Setelah itu pergi menemui kaumnya, Bani Abdul Asyhal, mengumumkan keislamannya.
Kaumnya tersentak kaget mendengar perkataan Sa’ad bin Muadz. Tapi menyadari pemimpinnya masuk Islam, maka semua anggotanya mengikutinya hingga hanya dalam sehari semua kaumnya bersyahadat di depan Mush’ab.
Menjelang bulan-bulan suci akan tiba, Mush’ab datang lagi ke Makkah dan kepada Rasulullah diceritakannya keadaan Muslimin di Yathrib itu; tentang ketahanan dan kekuatan mereka, dan bahwa pada musim haji tahun ini mereka akan datang lagi ke Makkah dalam jumlah yang lebih besar dengan iman kepada Tuhan yang sudah lebih kuat.
Berita-berita yang disampaikan oleh Mush'ab ini membuat Nabi Muhammad berpikir lebih lama lagi. Pengikut-pengikutnya di Yathrib kini makin sehari makin berkuasa dan bertambah kuat juga. Dari orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik mereka tidak mendapat gangguan seperti yang dialami oleh kawan-kawannya di Makkah karena gangguan Quraisy.
Baca juga: Keputusan Pembatalan Keberangkatan Haji Dilakukan Sepihak oleh Pemerintah
Di samping itu Yathrib lebih makmur daripada Makkah - ada pertanian, ada kebun kurma, ada anggur. Bukankah lebih baik sekali apabila Muslimin Makkah itu hijrah saja ke tempat saudara-saudara mereka di sana, yang akan terasa lebih aman? Mereka akan bebas dari Quraisy yang selalu memfitnah agama mereka.
Selama Nabi Muhammad berpikir-pikir itu teringat olehnya akan orang-orang dari Yastrib, mereka yang mula-mula masuk Islam itu, dan yang menceritakan adanya permusuhan antara golongan Aus dan Khazraj. Apabila dengan perantaraannya mereka itu sudah dapat dipersatukan Tuhan, maka tak ada orang yang lebih mulia dari Muhammad. Sekarang mereka sudah dipertemukan Allah bersama dia, bukankah lebih baik apabila dia juga hijrah? Ia tidak ingin membalas kejahatan Quraisy itu.
Tahun berikutnya, yakni tahun 622 M, Mush’ab bin Umair pulang ke Makkah diiringi jemaah haji dari Yathrib terdiri dari tujuhpuluh lima orang, tujuhpuluh tiga pria dan dua wanita.
Mengetahui kedatangan mereka ini, menurut Haekal, terpikir oleh Rasulullah akan mengadakan suatu ikrar lagi, tidak terbatas hanya pada seruan kepada Islam seperti selama ini, yang selama tigabelas tahun ini terus-menerus dilakukannya, dengan lemah-lembut, dengan segala kesabaran menanggung pelbagai macam pengorbanan dan kesakitan - melainkan kini lebih jauh lagi dari itu.
Ikrar itu hendaknya menjadi suatu pakta persekutuan, yang dengan demikian kaum Muslimin dapat mempertahankan diri: pukulan dibalas dengan pukulan, serangan dengan serangan. Rasulullah lalu mengadakan pertemuan rahasia dengan pemimpin-pemimpin mereka.
Ketika waktu yang dijanjikan tiba, di ujung malam sekelompok muslim Yatsrib keluar dari tendanya diam-diam. Berjalan mengendap-endap menuju bukit Aqabah sehingga berkumpul 73 laki-laki dan dua perempuan.
Dengan hati berdebar-debar mereka menunggu kedatangan Rasulullah di malam gelap itu. Tak lama kemudian Rasulullah muncul ditemani pamannya, Abbas bin Abdul Muththalib, pemimpin Bani Hasyim setelah kematian Abu Thalib.
Baca juga: Ibadah Haji 2020 Dibatalkan, Pemerintah Harus Serius Pikirkan Nasib Jamaah
Lihat Juga :