Abu Dzar al-Ghifari (4): Ketika Suriah Berubah Jadi Sel-Sel Lebah yang Temukan Ratunya
Sabtu, 16 Oktober 2021 - 15:07 WIB
loading...
A
A
A
Dia segera pergi menemui Muawiyah dan berkata kepadanya, “Wahai Mu’awiyah! Abu Dzar benar-benar akan mengacaukan pemerintah Suriah. Jika engkau membutuhkan Suriah, engkau harus menghentikan gangguan ini sejak awal.”
Seruan-seruan Abu Dzar terhadap rakyat akhirnya mencapai puncaknya, Muawiyah menjadi gerah karenanya, maka dipanggil lah Abu Dzar untuk berdialog. Dialog tersebut dihadiri juga oleh beberapa kalangan sahabat.
Tanpa merasa gentar dan tanpa basa-basi, Muawiyah ditanya perihal kekayaannya sewaktu sebelum menjadi pejabat dan sesudahnya. Dia mempertanyakan mengenai rumah Muawiyah dulu di Makkah dan membandingkannya dengan istana-istana megahnya di Suriah saat ini.
Kemudian, dihadapkannya pula pertanyaan kepada para sahabat yang duduk di sekeliling Muawiyah mengenai bangunan-bangunan mewah dan lahan pertanian luas yang mereka miliki di Suriah.
Lalu dia berseru, “apakah tuan-tuan yang sewaktu Qur'an diturunkan kepada Rasulullah, dia (harta kekayaan) berada di lingkungan tuan-tuan?”
Sebelum sempat dijawab Abu Dzar telah berbicara kembali, “benar, kepada tuan-tuanlah Al-Qur'an diturunkan, dan tuan-tuanlah yang telah mengalami sendiri berbagai peperangan!”
Abu Dzar kembali bertanya, tidakkah tuan-tuan jumpai dalam Al-Quran ayat ini?:
“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”. (Q.S at-Taubah ayat 34-35)
Muawiyah kemudian memotong jalannya pembicaraan, “ayat ini diturunkan kepada Ahlul Kitab!”
“Tidak!” seru Abu Dzar. “Bahkan dia diturunkan kepada kita dan kepada mereka!”
Abu Dzar melanjutkan kata-katanya, dia menasihati Muawiyah dan para pengikutnya agar segera melepaskan bangunan-bangunan mewah, tanah, serta harta kekayaan mereka; dan tidak menyimpan untuk diri sendiri kecuali untuk sekadar keperluan sesehari.
Baca juga: Abu Dzar al-Ghifari (1): Sosok yang Membuat Rasulullah SAW Takjub
Setrika Api Neraka
Berita mengenai tanya jawab Abu Dzar dengan Muawiyah ini segera tersebar dari mulut ke mulut, dan menyebar luas ke masyarakat banyak. Semboyannya semakin nyaring terdengar di rumah-rumah dan di jalan-jalan, “sampaikanlah kepada para penumpuk harta akan setrika-setrika api neraka!” Revolusi seolah terasa semakin dekat.
Muawiyah sadar akan adanya bahaya ini, dia cemas akan akibat ucapan dari tokoh ulung ini. Tetapi dia pun paham akan pengaruh dan kedudukan yang dimiliki Abu Dzar, sehingga itu mencegahnya untuk berbuat sesuatu yang dapat menyakiti Abu Dzar. Dengan segera dia menulis surat kepada Khalifah Ustman bin Affan , dalam suratnya dia berkata, “Abu Dzar telah merusak orang-orang di Suriah!”
Seruan-seruan Abu Dzar terhadap rakyat akhirnya mencapai puncaknya, Muawiyah menjadi gerah karenanya, maka dipanggil lah Abu Dzar untuk berdialog. Dialog tersebut dihadiri juga oleh beberapa kalangan sahabat.
Tanpa merasa gentar dan tanpa basa-basi, Muawiyah ditanya perihal kekayaannya sewaktu sebelum menjadi pejabat dan sesudahnya. Dia mempertanyakan mengenai rumah Muawiyah dulu di Makkah dan membandingkannya dengan istana-istana megahnya di Suriah saat ini.
Kemudian, dihadapkannya pula pertanyaan kepada para sahabat yang duduk di sekeliling Muawiyah mengenai bangunan-bangunan mewah dan lahan pertanian luas yang mereka miliki di Suriah.
Lalu dia berseru, “apakah tuan-tuan yang sewaktu Qur'an diturunkan kepada Rasulullah, dia (harta kekayaan) berada di lingkungan tuan-tuan?”
Sebelum sempat dijawab Abu Dzar telah berbicara kembali, “benar, kepada tuan-tuanlah Al-Qur'an diturunkan, dan tuan-tuanlah yang telah mengalami sendiri berbagai peperangan!”
Abu Dzar kembali bertanya, tidakkah tuan-tuan jumpai dalam Al-Quran ayat ini?:
“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”. (Q.S at-Taubah ayat 34-35)
Muawiyah kemudian memotong jalannya pembicaraan, “ayat ini diturunkan kepada Ahlul Kitab!”
“Tidak!” seru Abu Dzar. “Bahkan dia diturunkan kepada kita dan kepada mereka!”
Abu Dzar melanjutkan kata-katanya, dia menasihati Muawiyah dan para pengikutnya agar segera melepaskan bangunan-bangunan mewah, tanah, serta harta kekayaan mereka; dan tidak menyimpan untuk diri sendiri kecuali untuk sekadar keperluan sesehari.
Baca juga: Abu Dzar al-Ghifari (1): Sosok yang Membuat Rasulullah SAW Takjub
Setrika Api Neraka
Berita mengenai tanya jawab Abu Dzar dengan Muawiyah ini segera tersebar dari mulut ke mulut, dan menyebar luas ke masyarakat banyak. Semboyannya semakin nyaring terdengar di rumah-rumah dan di jalan-jalan, “sampaikanlah kepada para penumpuk harta akan setrika-setrika api neraka!” Revolusi seolah terasa semakin dekat.
Muawiyah sadar akan adanya bahaya ini, dia cemas akan akibat ucapan dari tokoh ulung ini. Tetapi dia pun paham akan pengaruh dan kedudukan yang dimiliki Abu Dzar, sehingga itu mencegahnya untuk berbuat sesuatu yang dapat menyakiti Abu Dzar. Dengan segera dia menulis surat kepada Khalifah Ustman bin Affan , dalam suratnya dia berkata, “Abu Dzar telah merusak orang-orang di Suriah!”
Lihat Juga :