Abu Dzar Al-Ghifari (5): Kepedihan Ali Bin Abu Thalib, Hasan, dan Husein
Minggu, 17 Oktober 2021 - 15:19 WIB
loading...
A
A
A
Wahai junjunganku, sebagaimana aku menjadi beban bagi Utsman di Hijaz, aku juga beban bagi Muawiyah di Suriah. Dia tidak menginginkanku pergi ke Basrah atau Mesir, karena dia memiliki saudara angkatnya, Abdullah bin Sarah sebagai Gubernur Mesir, dan anak dari bibinya, Abdullah bin Amir sebagai Gubernur Basrah.
Dia sekarang telah menyuruhku pergi ke sebuah tempat, sebuah padang pasir, di mana aku tidak mempunyai pendukung selain Allah.
Demi Allah, aku tahu bahwa hanya Allah sendirilah yang menjadi penolongku dan hanya untuk Dia saja saya tidak akan peduli terhadap (kesulitan) kehidupan di alam liar.”
Setelah perpisahan tersebut, lalu berangkatlah Abu Dzar menuju Rabzah, sebuah padang pasir yang sunyi lagi sepi.
Sejarawan berpendapat bahwa jarak Madinah ke Rabzah adalah sekitar 5 km, dia terletak dekat dengan Zate Araq, sebuah tempat yang akan terlewati apabila menuju Hijaz.
Jangan bandingkan dengan masa sekarang, pada waktu itu Rabzah adalah sebuah tempat yang tidak berpenghuni dan sangat terpencil, yang ada di sana hanyalah kehidupan alam liar.
Selanjunya, Muawiyah kemudian mengirim istri dan anak-anak Abu Dzar ke Rabzah. Ketika istri Abu Dzar keluar dari rumahnya, dia hanya membawa sebuah tas. Muawiyah berkata kepada orang-orang, “Lihatlah barang-barang milik pengkhotbah tentang penghematan”.
Istri Abu Dzar menanggapinya dengan berkata, “ini hanya berisi beberapa koin, bukan dirham atau dinar dan sejenisnya, hanya untuk pengeluaran secukupnya.”
Selama di Rabzah, Abu Dzar berada dalam suatu kondisi yang sangat kesepian. Tidak ada manusia lain di tempat tersebut, kecuali beberapa musafir saja yang terkadang melintas. Di sana tidak ada tempat berlindung, yang ada hanya sebuah pohon di mana Abu Dzar tinggal di bawahnya.
Di sana juga tidak ada makanan, yang ada di sekitar hanyalah rumput beracun yang di kemudian hari menjadi penyebab meninggal diri dan istrinya.
Baca juga: Abu Dzar al-Ghifari (2): Membawa Komplotan Perampok Terbesar Masuk Islam
Dia sekarang telah menyuruhku pergi ke sebuah tempat, sebuah padang pasir, di mana aku tidak mempunyai pendukung selain Allah.
Demi Allah, aku tahu bahwa hanya Allah sendirilah yang menjadi penolongku dan hanya untuk Dia saja saya tidak akan peduli terhadap (kesulitan) kehidupan di alam liar.”
Setelah perpisahan tersebut, lalu berangkatlah Abu Dzar menuju Rabzah, sebuah padang pasir yang sunyi lagi sepi.
Sejarawan berpendapat bahwa jarak Madinah ke Rabzah adalah sekitar 5 km, dia terletak dekat dengan Zate Araq, sebuah tempat yang akan terlewati apabila menuju Hijaz.
Jangan bandingkan dengan masa sekarang, pada waktu itu Rabzah adalah sebuah tempat yang tidak berpenghuni dan sangat terpencil, yang ada di sana hanyalah kehidupan alam liar.
Selanjunya, Muawiyah kemudian mengirim istri dan anak-anak Abu Dzar ke Rabzah. Ketika istri Abu Dzar keluar dari rumahnya, dia hanya membawa sebuah tas. Muawiyah berkata kepada orang-orang, “Lihatlah barang-barang milik pengkhotbah tentang penghematan”.
Istri Abu Dzar menanggapinya dengan berkata, “ini hanya berisi beberapa koin, bukan dirham atau dinar dan sejenisnya, hanya untuk pengeluaran secukupnya.”
Selama di Rabzah, Abu Dzar berada dalam suatu kondisi yang sangat kesepian. Tidak ada manusia lain di tempat tersebut, kecuali beberapa musafir saja yang terkadang melintas. Di sana tidak ada tempat berlindung, yang ada hanya sebuah pohon di mana Abu Dzar tinggal di bawahnya.
Di sana juga tidak ada makanan, yang ada di sekitar hanyalah rumput beracun yang di kemudian hari menjadi penyebab meninggal diri dan istrinya.
Baca juga: Abu Dzar al-Ghifari (2): Membawa Komplotan Perampok Terbesar Masuk Islam
(mhy)
Lihat Juga :