Abu Dzar Al-Ghifari (5): Kepedihan Ali Bin Abu Thalib, Hasan, dan Husein
Minggu, 17 Oktober 2021 - 15:19 WIB
loading...
Rasulullah sempat mengatakan pada Abu Dzar bahwa dirinya akan diusir dari Madinah dan tinggal di tempat sunyi di Rabzah. (Ilustrasi: Ist)
A
A
A
Keputusan Khalifah Utsman bin Affan membuang Abu Dzar Al-Ghifari ke Rabzah disambut takbir Abu Dzar. Jauh sebelum itu, Rasulullah SAW sempat mengatakan pada Abu Dzar bahwa dirinya akan diusir dari Madinah dan tinggal di tempat sunyi di Rabzah. "Di mana aku akan mati dan akan dikubur oleh sekelompok orang Irak yang menuju Hijaz,” tuturnya.
Baca juga: Abu Dzar al-Ghifari (4): Ketika Suriah Berubah Jadi Sel-Sel Lebah yang Temukan Ratunya
Di sisi lain, para sahabat seperti Ali bin Abu Thalib dan dua putranya: Hasan dan Husein melepas dengan pedih. Khalid Muhammad Khalid dalam bukunya berjudul Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah berkisah sebelum Abu Dzar berangkat tiba-tiba Ali bin Abu Thalib, Hasan, Husain, Aqil, Abdullah bin Ja’far, Abdullah bin Abbas dan Miqdad bin al-Aswad datang.
“Berhenti! Jangan dulu dudukkan dia di unta. Kami harus mengucapkan selamat tinggal padanya,” teriak mereka.
Mereka semua menyadari bahwa ini adalah pertemuan terakhir, sebab Utsman memberi larangan bagi siapapun untuk menemui Abu Dzar di kemudian hari.
Ali berkata, “wahai Abu Dzar! Jangan khawatir. Orang-orang takut padamu karena keserakahan mereka akan dunia ini, dan engkau tidak takut kepada mereka karena imanmu, sampai saatnya tiba ketika mereka mengasingkanmu.
Abu Dzar! Setiap jenis masalah datang kepada dia yang saleh, tapi ingatlah bahwa Allah merancang sarana pembebasan yang luar biasa bagi orang yang saleh. Tidak ada yang bisa memberimu penghiburan kecuali ‘kebenaran’. ‘Kebenaran’ akan menjadi temanmu dalam kesepian. Saya tahu bahwa engkau bisa menjadi begitu terganggu hanya dengan ketidakbenaran dan (sekarang) itu tidak bisa mendekatimu.”
Kemudian Ali menyuruh anak-anaknya mengucapkan selamat tinggal kepada Abu Dzar.
Setelah mendengar perintah ayahnya, Hasan berkata, “Wahai Pamanku yang tersayang, Abu Dzar, semoga Allah mengasihimu. Kami melihat apa yang sedang dilakukan kepadamu. Hati kami terbakar. Jangan khawatir, Allah adalah tuntunanmu dan hanya Dia yang engkau harus miliki sebelum engkau. Wahai paman! Bersabarlah terhadap bencana ini sampai tiba saatnya engkau bertemu dengan kakekku, dia sangat berbahagia untukmu.”
Kemudian Husain berkata, “wahai Pamanku, engkau tidak perlu khawatir karena Allah memiliki kuasa atas segala hal. Dia dapat menghapus setiap masalah di mana pun engkau berada. Kemuliaan-Nya luar biasa. Wahai Paman, orang-orang telah membuat hidupmu menderita. Tentu saja engkau tidak peduli. Biarkan dunia berpisah darimu, cepat atau lambat. Aku berdoa kepada Allah untuk memberimu dukungan dan kesabaran. Wahai Paman, tidak ada yang lebih baik dari pada kesabaran. Percayalah kepada Allah. Dia lah yang menyelesaikan segala urusanmu.”
Baca juga: Abu Dzar Al-Ghifari (3): Batal Memenggal Leher Koruptor Karena Ingat Pesan Nabi SAW
Mendengar itu semua, tubuh Abu Dzar yang sudah lemah dan tua berguncang, dan pecahlah tangisnya, seraya berkata, “Wahai keluarga Nabi suci, ketika aku melihat kalian aku teringat nabi suci dan berkahnya di sekelilingku.
Wahai orang-orang yang kuhormati, kalian adalah satu-satunya penghiburan bagiku di Madinah. Setiap kali aku melihat kalian, aku mendapatkan kepuasan di hati dan kedamaian dalam pikiran.
Baca juga: Abu Dzar al-Ghifari (4): Ketika Suriah Berubah Jadi Sel-Sel Lebah yang Temukan Ratunya
Di sisi lain, para sahabat seperti Ali bin Abu Thalib dan dua putranya: Hasan dan Husein melepas dengan pedih. Khalid Muhammad Khalid dalam bukunya berjudul Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah berkisah sebelum Abu Dzar berangkat tiba-tiba Ali bin Abu Thalib, Hasan, Husain, Aqil, Abdullah bin Ja’far, Abdullah bin Abbas dan Miqdad bin al-Aswad datang.
“Berhenti! Jangan dulu dudukkan dia di unta. Kami harus mengucapkan selamat tinggal padanya,” teriak mereka.
Mereka semua menyadari bahwa ini adalah pertemuan terakhir, sebab Utsman memberi larangan bagi siapapun untuk menemui Abu Dzar di kemudian hari.
Ali berkata, “wahai Abu Dzar! Jangan khawatir. Orang-orang takut padamu karena keserakahan mereka akan dunia ini, dan engkau tidak takut kepada mereka karena imanmu, sampai saatnya tiba ketika mereka mengasingkanmu.
Abu Dzar! Setiap jenis masalah datang kepada dia yang saleh, tapi ingatlah bahwa Allah merancang sarana pembebasan yang luar biasa bagi orang yang saleh. Tidak ada yang bisa memberimu penghiburan kecuali ‘kebenaran’. ‘Kebenaran’ akan menjadi temanmu dalam kesepian. Saya tahu bahwa engkau bisa menjadi begitu terganggu hanya dengan ketidakbenaran dan (sekarang) itu tidak bisa mendekatimu.”
Kemudian Ali menyuruh anak-anaknya mengucapkan selamat tinggal kepada Abu Dzar.
Setelah mendengar perintah ayahnya, Hasan berkata, “Wahai Pamanku yang tersayang, Abu Dzar, semoga Allah mengasihimu. Kami melihat apa yang sedang dilakukan kepadamu. Hati kami terbakar. Jangan khawatir, Allah adalah tuntunanmu dan hanya Dia yang engkau harus miliki sebelum engkau. Wahai paman! Bersabarlah terhadap bencana ini sampai tiba saatnya engkau bertemu dengan kakekku, dia sangat berbahagia untukmu.”
Kemudian Husain berkata, “wahai Pamanku, engkau tidak perlu khawatir karena Allah memiliki kuasa atas segala hal. Dia dapat menghapus setiap masalah di mana pun engkau berada. Kemuliaan-Nya luar biasa. Wahai Paman, orang-orang telah membuat hidupmu menderita. Tentu saja engkau tidak peduli. Biarkan dunia berpisah darimu, cepat atau lambat. Aku berdoa kepada Allah untuk memberimu dukungan dan kesabaran. Wahai Paman, tidak ada yang lebih baik dari pada kesabaran. Percayalah kepada Allah. Dia lah yang menyelesaikan segala urusanmu.”
Baca juga: Abu Dzar Al-Ghifari (3): Batal Memenggal Leher Koruptor Karena Ingat Pesan Nabi SAW
Mendengar itu semua, tubuh Abu Dzar yang sudah lemah dan tua berguncang, dan pecahlah tangisnya, seraya berkata, “Wahai keluarga Nabi suci, ketika aku melihat kalian aku teringat nabi suci dan berkahnya di sekelilingku.
Wahai orang-orang yang kuhormati, kalian adalah satu-satunya penghiburan bagiku di Madinah. Setiap kali aku melihat kalian, aku mendapatkan kepuasan di hati dan kedamaian dalam pikiran.
Lihat Juga :