Kisah Sahabat Nabi

Abu Dzar Al-Ghifari (5): Kepedihan Ali Bin Abu Thalib, Hasan, dan Husein

loading...
Abu Dzar Al-Ghifari (5): Kepedihan Ali Bin Abu Thalib, Hasan, dan Husein
Rasulullah sempat mengatakan pada Abu Dzar bahwa dirinya akan diusir dari Madinah dan tinggal di tempat sunyi di Rabzah. (Ilustrasi: Ist)
Keputusan Khalifah Utsman bin Affan membuang Abu Dzar Al-Ghifari ke Rabzah disambut takbir Abu Dzar. Jauh sebelum itu, Rasulullah SAW sempat mengatakan pada Abu Dzar bahwa dirinya akan diusir dari Madinah dan tinggal di tempat sunyi di Rabzah. "Di mana aku akan mati dan akan dikubur oleh sekelompok orang Irak yang menuju Hijaz,” tuturnya.

Baca juga: Abu Dzar al-Ghifari (4): Ketika Suriah Berubah Jadi Sel-Sel Lebah yang Temukan Ratunya

Di sisi lain, para sahabat seperti Ali bin Abu Thalib dan dua putranya: Hasan dan Husein melepas dengan pedih. Khalid Muhammad Khalid dalam bukunya berjudul Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah berkisah sebelum Abu Dzar berangkat tiba-tiba Ali bin Abu Thalib, Hasan, Husain, Aqil, Abdullah bin Ja’far, Abdullah bin Abbas dan Miqdad bin al-Aswad datang.

“Berhenti! Jangan dulu dudukkan dia di unta. Kami harus mengucapkan selamat tinggal padanya,” teriak mereka.

Mereka semua menyadari bahwa ini adalah pertemuan terakhir, sebab Utsman memberi larangan bagi siapapun untuk menemui Abu Dzar di kemudian hari.

Ali berkata, “wahai Abu Dzar! Jangan khawatir. Orang-orang takut padamu karena keserakahan mereka akan dunia ini, dan engkau tidak takut kepada mereka karena imanmu, sampai saatnya tiba ketika mereka mengasingkanmu.

Abu Dzar! Setiap jenis masalah datang kepada dia yang saleh, tapi ingatlah bahwa Allah merancang sarana pembebasan yang luar biasa bagi orang yang saleh. Tidak ada yang bisa memberimu penghiburan kecuali ‘kebenaran’. ‘Kebenaran’ akan menjadi temanmu dalam kesepian. Saya tahu bahwa engkau bisa menjadi begitu terganggu hanya dengan ketidakbenaran dan (sekarang) itu tidak bisa mendekatimu.”

Kemudian Ali menyuruh anak-anaknya mengucapkan selamat tinggal kepada Abu Dzar.

Setelah mendengar perintah ayahnya, Hasan berkata, “Wahai Pamanku yang tersayang, Abu Dzar, semoga Allah mengasihimu. Kami melihat apa yang sedang dilakukan kepadamu. Hati kami terbakar. Jangan khawatir, Allah adalah tuntunanmu dan hanya Dia yang engkau harus miliki sebelum engkau. Wahai paman! Bersabarlah terhadap bencana ini sampai tiba saatnya engkau bertemu dengan kakekku, dia sangat berbahagia untukmu.”

Kemudian Husain berkata, “wahai Pamanku, engkau tidak perlu khawatir karena Allah memiliki kuasa atas segala hal. Dia dapat menghapus setiap masalah di mana pun engkau berada. Kemuliaan-Nya luar biasa. Wahai Paman, orang-orang telah membuat hidupmu menderita. Tentu saja engkau tidak peduli. Biarkan dunia berpisah darimu, cepat atau lambat. Aku berdoa kepada Allah untuk memberimu dukungan dan kesabaran. Wahai Paman, tidak ada yang lebih baik dari pada kesabaran. Percayalah kepada Allah. Dia lah yang menyelesaikan segala urusanmu.”

Baca juga: Abu Dzar Al-Ghifari (3): Batal Memenggal Leher Koruptor Karena Ingat Pesan Nabi SAW

Mendengar itu semua, tubuh Abu Dzar yang sudah lemah dan tua berguncang, dan pecahlah tangisnya, seraya berkata, “Wahai keluarga Nabi suci, ketika aku melihat kalian aku teringat nabi suci dan berkahnya di sekelilingku.

Wahai orang-orang yang kuhormati, kalian adalah satu-satunya penghiburan bagiku di Madinah. Setiap kali aku melihat kalian, aku mendapatkan kepuasan di hati dan kedamaian dalam pikiran.

Wahai junjunganku, sebagaimana aku menjadi beban bagi Utsman di Hijaz, aku juga beban bagi Muawiyah di Suriah. Dia tidak menginginkanku pergi ke Basrah atau Mesir, karena dia memiliki saudara angkatnya, Abdullah bin Sarah sebagai Gubernur Mesir, dan anak dari bibinya, Abdullah bin Amir sebagai Gubernur Basrah.

Dia sekarang telah menyuruhku pergi ke sebuah tempat, sebuah padang pasir, di mana aku tidak mempunyai pendukung selain Allah.

Demi Allah, aku tahu bahwa hanya Allah sendirilah yang menjadi penolongku dan hanya untuk Dia saja saya tidak akan peduli terhadap (kesulitan) kehidupan di alam liar.”

Setelah perpisahan tersebut, lalu berangkatlah Abu Dzar menuju Rabzah, sebuah padang pasir yang sunyi lagi sepi.

Sejarawan berpendapat bahwa jarak Madinah ke Rabzah adalah sekitar 5 km, dia terletak dekat dengan Zate Araq, sebuah tempat yang akan terlewati apabila menuju Hijaz.

Jangan bandingkan dengan masa sekarang, pada waktu itu Rabzah adalah sebuah tempat yang tidak berpenghuni dan sangat terpencil, yang ada di sana hanyalah kehidupan alam liar.

Selanjunya, Muawiyah kemudian mengirim istri dan anak-anak Abu Dzar ke Rabzah. Ketika istri Abu Dzar keluar dari rumahnya, dia hanya membawa sebuah tas. Muawiyah berkata kepada orang-orang, “Lihatlah barang-barang milik pengkhotbah tentang penghematan”.
halaman ke-1
cover top ayah
وَلَا تُصَلِّ عَلٰٓى اَحَدٍ مِّنۡهُمۡ مَّاتَ اَبَدًا وَّلَا تَقُمۡ عَلٰى قَبۡرِهٖ ؕ اِنَّهُمۡ كَفَرُوۡا بِاللّٰهِ وَرَسُوۡلِهٖ وَمَاتُوۡا وَهُمۡ فٰسِقُوۡنَ‏
Dan janganlah engkau (Muhammad) melaksanakan shalat untuk seseorang yang mati di antara orang-orang munafik, selama-lamanya dan janganlah engkau berdiri mendoakan di atas kuburnya. Sesungguhnya mereka ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.

(QS. At-Taubah:84)
cover bottom ayah
preload video