Abu Dzar al-Ghifari (2): Membawa Komplotan Perampok Terbesar Masuk Islam
Selasa, 12 Oktober 2021 - 16:09 WIB
loading...
Abu Dzar al-Ghifari sukses mengislamkan Bani Ghifar dan Bani Aslam. Dua suku ini dikenal sebagai komplotan perampok terbesar pada waktu itu. (Foto/Ilustrasi : Ist)
A
A
A
Abu Dzar al-Ghifari sukses mengislamkan Bani Ghifar dan Bani Aslam. Dua suku ini dikenal sebagai komplotan perampok terbesar pada waktu itu. “Suku Ghifar telah di-ghafar (diampuni) oleh Allah,” ujar Rasulullah SAW, kemudian sambil menghadap suku Aslam, beliau berkata, “suku Aslam telah disalam (diterima dengan damai) oleh Allah.”
Baca juga: Abu Dzar al-Ghifari (1): Sosok yang Membuat Rasulullah SAW Takjub
Khalid Muhammad Khalid dalam bukunya berjudul Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah memaparkan Abu Dzar al-Ghifari pulang ke kampung setelah berjumpa Rasulullah SAW di Makkah.
Di kampung halamannya, Abu Dzar menceritakan kisah pertemuannya dengan Sang Nabi yang baru diutus oleh Allah, yang menyeru untuk mengabdi hanya kepada Allah yang Maha Esa dan membimbing orang-orang agar berakhlak mulia.
Cahaya Islam mulai berpendar di sana, seorang demi seorang kaumnya mulai masuk Islam. Bahkan usahanya tidak terbatas pada kaumnya semata, tapi dilanjutkan sampai ke suku lain, yaitu suku Aslam. Pun di sana cahaya Islam pada akhirnya bersinar terang.
Kisah lain mengatakan, karena tempat tinggal Bani Ghifar adalah jalur perdagangan bagi orang-orang Quraisy, maka ketika pemukiman Bani Ghifar telah hidup dengan cahaya Islam, mereka pun berdakwah terhadap siapa saja yang melintasi daerah tersebut.
Riwayat mengatakan bahwa ketika ada rombongan orang Quraisy melintas daerah tersebut, Abu Dzar mengajak mereka untuk masuk Islam, dan banyak di antara mereka yang masuk Islam karena pengaruh Abu Dzar.
Hari demi hari berlalu mengikuti peredaran masa, Rasulullah SAW telah hijrah ke Madinah dan menetap di sana bersama kaum Muslimin.
Hingga pada suatu hari, di dekat Madinah hadir serombongan kafilah dalam satu barisan panjang, mereka terdiri baik dari para pengendara maupun pejalan kaki. Mereka tiba di pinggiran kota Madinah dengan kepulan debu yang mengikuti di belakang mereka.
Kalau bukan karena suara gemuruh mereka yang mengumandangkan Takbir, tentulah mereka akan disangka sebagai orang Musyrik yang akan menyerang kota Madinah.
Baca juga: Abu Dzar al-Ghifari (1): Sosok yang Membuat Rasulullah SAW Takjub
Khalid Muhammad Khalid dalam bukunya berjudul Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah memaparkan Abu Dzar al-Ghifari pulang ke kampung setelah berjumpa Rasulullah SAW di Makkah.
Di kampung halamannya, Abu Dzar menceritakan kisah pertemuannya dengan Sang Nabi yang baru diutus oleh Allah, yang menyeru untuk mengabdi hanya kepada Allah yang Maha Esa dan membimbing orang-orang agar berakhlak mulia.
Cahaya Islam mulai berpendar di sana, seorang demi seorang kaumnya mulai masuk Islam. Bahkan usahanya tidak terbatas pada kaumnya semata, tapi dilanjutkan sampai ke suku lain, yaitu suku Aslam. Pun di sana cahaya Islam pada akhirnya bersinar terang.
Kisah lain mengatakan, karena tempat tinggal Bani Ghifar adalah jalur perdagangan bagi orang-orang Quraisy, maka ketika pemukiman Bani Ghifar telah hidup dengan cahaya Islam, mereka pun berdakwah terhadap siapa saja yang melintasi daerah tersebut.
Riwayat mengatakan bahwa ketika ada rombongan orang Quraisy melintas daerah tersebut, Abu Dzar mengajak mereka untuk masuk Islam, dan banyak di antara mereka yang masuk Islam karena pengaruh Abu Dzar.
Hari demi hari berlalu mengikuti peredaran masa, Rasulullah SAW telah hijrah ke Madinah dan menetap di sana bersama kaum Muslimin.
Hingga pada suatu hari, di dekat Madinah hadir serombongan kafilah dalam satu barisan panjang, mereka terdiri baik dari para pengendara maupun pejalan kaki. Mereka tiba di pinggiran kota Madinah dengan kepulan debu yang mengikuti di belakang mereka.
Kalau bukan karena suara gemuruh mereka yang mengumandangkan Takbir, tentulah mereka akan disangka sebagai orang Musyrik yang akan menyerang kota Madinah.
Lihat Juga :