3 Peristiwa Mendebarkan setelah Kematian
Jum'at, 05 November 2021 - 14:32 WIB
loading...
A
A
A
Hakikat alam kubur juga disebutkan dalam banyak hadis, salah satunya berikut ini,
“Jika seorang mukmin telah didudukkan di dalam kuburnya, ia kemudian didatangi (dua malaikat lalu bertanya kepadanya), maka dia akan menjawab dengan mengucapkan, ‘Laa Ilaaha Illallah wa anna Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam’. Itulah yang dimaksud qauluts tsabit (ucapan yang teguh) dalam firman-Nya, ‘Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan qauluts tsabit’.” (QS. Ibrahim: 27). (HR. Al-Bukhari)
Sedangkan hakikat adanya siksa dan nikmat surga dapat kita jumpai gambarannya dalam sebuah riwayat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati sebagian pekuburan di kota Madinah atau Makkah.
Lalu beliau mendengar suara dua orang manusia yang sedang diazab di kuburnya. Beliau bersabda,
“Keduanya sedang diazab. Tidaklah keduanya diazab karena dosa besar (menurut ahli kubur). Lalu Nabi bersabda: Padahal itu merupakan dosa besar. Salah satu di antara keduanya diazab karena tidak bersuci setelah kencing dan yang satunya selalu melakukan namimah (adu domba).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Baca juga: Mengingat Mati adalah Ibadah yang Mendapat Pahala
2. Tempat Hisab (Perhitungan Amal)
Hisab artinya adalah perhitungan. Apakah yang dihitung? Tentunya adalah amal perbuatan hamba. Perhitungan amal perbuatan hamba saat di dunia yang akan terjadi setelah kematian nanti.
Hisab akhirat adalah peristiwa mendebarkan karena kita tidak tahu apakah termasuk yang dihisab dengan susah atau mudah. Jika mudah, maka ia akan selamat, wal hamdulillah. Akan tetapi jika susah, maka akan celaka, wal iyyadzu billah.
Hakikat hisab amal adalah sebagaimana disebutkan dalam banyak ayat Al-Qur'an, salah satunya adalah:
“Sungguh, kepada Kami-lah mereka kembali. Kemudian sesungguhnya (kewajiban) Kami-lah membuat perhitungan atas mereka.” (QS. Al-Ghasyiyah: 25-26)
Hakikat hisab amal juga disebutkan dalam banyak hadis. Salah satunya adalah hadits yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering berdoa di dalam sholat dengan mengucapkan,
“Ya Allah, hisablah diriku dengan hisab yang mudah.” (HR. Hakim dalam Al-Mustadrak ‘Ala Shahihain, 1/255)
Di persinggahan setelah kematian ini manusia terbagi menjadi tiga golongan. Pertama, mereka yang lolos dari hisab. Kedua, mereka yang dihisab dengan ringan. Ketiga, mereka yang dihisab dengan berat.
Keselamatan bagi golongan pertama dan kedua, dan kecelakaan bagi golongan ketiga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barang siapa dihisab pasti ia akan diazab.”
إِذَا أُقْعِدَ المُؤْمِنُ فِي قَبْرِهِ أُتِيَ، ثُمَّ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، فَذَلِكَ قَوْلُهُ: {يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالقَوْلِ الثَّابِتِ} [إبراهيم: 27]
“Jika seorang mukmin telah didudukkan di dalam kuburnya, ia kemudian didatangi (dua malaikat lalu bertanya kepadanya), maka dia akan menjawab dengan mengucapkan, ‘Laa Ilaaha Illallah wa anna Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam’. Itulah yang dimaksud qauluts tsabit (ucapan yang teguh) dalam firman-Nya, ‘Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan qauluts tsabit’.” (QS. Ibrahim: 27). (HR. Al-Bukhari)
Sedangkan hakikat adanya siksa dan nikmat surga dapat kita jumpai gambarannya dalam sebuah riwayat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati sebagian pekuburan di kota Madinah atau Makkah.
Lalu beliau mendengar suara dua orang manusia yang sedang diazab di kuburnya. Beliau bersabda,
يُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ ثُمَّ قَالَ: بَلَى، كَانَ أَحَدُهُمَا لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ، وَكَانَ الآخَرُ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ
“Keduanya sedang diazab. Tidaklah keduanya diazab karena dosa besar (menurut ahli kubur). Lalu Nabi bersabda: Padahal itu merupakan dosa besar. Salah satu di antara keduanya diazab karena tidak bersuci setelah kencing dan yang satunya selalu melakukan namimah (adu domba).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Baca juga: Mengingat Mati adalah Ibadah yang Mendapat Pahala
2. Tempat Hisab (Perhitungan Amal)
Hisab artinya adalah perhitungan. Apakah yang dihitung? Tentunya adalah amal perbuatan hamba. Perhitungan amal perbuatan hamba saat di dunia yang akan terjadi setelah kematian nanti.
Hisab akhirat adalah peristiwa mendebarkan karena kita tidak tahu apakah termasuk yang dihisab dengan susah atau mudah. Jika mudah, maka ia akan selamat, wal hamdulillah. Akan tetapi jika susah, maka akan celaka, wal iyyadzu billah.
Hakikat hisab amal adalah sebagaimana disebutkan dalam banyak ayat Al-Qur'an, salah satunya adalah:
إِنَّ إِلَيۡنَآ إِيَابَهُمۡ . ثُمَّ إِنَّ عَلَيۡنَا حِسَابَهُم
“Sungguh, kepada Kami-lah mereka kembali. Kemudian sesungguhnya (kewajiban) Kami-lah membuat perhitungan atas mereka.” (QS. Al-Ghasyiyah: 25-26)
Hakikat hisab amal juga disebutkan dalam banyak hadis. Salah satunya adalah hadits yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering berdoa di dalam sholat dengan mengucapkan,
اللَّهُمَّ حَاسِبْنِي حِسَابًا يَسِيرًا
“Ya Allah, hisablah diriku dengan hisab yang mudah.” (HR. Hakim dalam Al-Mustadrak ‘Ala Shahihain, 1/255)
Di persinggahan setelah kematian ini manusia terbagi menjadi tiga golongan. Pertama, mereka yang lolos dari hisab. Kedua, mereka yang dihisab dengan ringan. Ketiga, mereka yang dihisab dengan berat.
Keselamatan bagi golongan pertama dan kedua, dan kecelakaan bagi golongan ketiga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ حُوسِبَ عُذِّبَ
“Barang siapa dihisab pasti ia akan diazab.”
Lihat Juga :