Muawiyah Masuk Islam pada Peristiwa Umrah Qadha'?
Selasa, 09 November 2021 - 15:35 WIB
loading...
A
A
A
Dia mempunyai kemampuan diplomasi yang sangat tinggi sehingga Nicholsan dalam bukunya Literaty History of The Arabs menulis, “Muawiyah adalah seorang diplomat yang cakap dibanding dengan Richelieu, politikus Prancis yang terkenal itu.” Lebih tepat lagi ia mencontohkan Muawiyah dengan Oliver Cromwell, politikus dan protektor Inggris yang termasyhur, yang pernah membubarkan parlemen.
Baca juga: Muawiyah Tinggal di Istana Megah, Ali bin Abu Thalib: Itu Istana Celaka!
Dinasti Umayyah
Muawiyah adalah pendiri Daulah Umawiyah atau Umayyah. Nama dinasti ini diambil dari nama kakek buyutnya Muawiyah, Umayyah bin Abd Asy-Syam.
Umayyah adalah putra dari Abd Asy-Syam bin Abd Manaf, yang juga adalah ayah dari Hasyim, kakek buyut Rasulullah SAW. Dengan kata lain, secara nasab, sebenarnya masih terdapat pertalian kekeluargaan antara Bani Hasyim dengan Bani Umayyah pada diri Abd Manaf.
Namun sejarah mencatat terjadi persaingan yang begitu sengit antara Bani Hasyim dangan Bani Umayyah – setidaknya bagi Bani Umayyah. Persaingan ini sudah berlangsung bahkan sejak masa Umayyah dengan Hasyim, dan terus berlanjut hingga ke masa Muawiyah dan anak keturunannya.
Muawiyah tercatat yang memindah ibukota negara dari Madinah ke Damaskus. Ia juga mengganti sistem pemerintahan dari demokratis ke monarki. Sebagaimana diketahui, sejak masa Abu Bakar hingga periode Ali ra., para khalifah dipilih langsung oleh rakyat dan menjalani kehidupan seperti seorang biasa.
Dalam menjalankan pemerintahannya, Muawiyah mengubah kebijaksanaan pendahulunya. Kalau pada masa empat khalifah sebelumnya, pengangkatan khalifah dilakukan dengan cara pemilihan, maka Muawiyah mengubah kebijakan itu dengan cara turun-temurun. Karenanya, khalifah penggantinya adalah Yazid bin Muawiyah, putranya sendiri.
Muawiyah meniru sistem pemerintahan ala kerajaan. Ia hidup layaknya raja, membangun istana di dalam benteng, memiliki banyak pembantu, bergelimang kemewahan, berpengawal lengkap dengan kekuasaan mutlak.
Muawiyah pun menyebut dirinya sebagai “khalifatullah” (“wakil” Allah di bumi) –suatu istilah yang kemudian dipakai oleh para khalifah periode-periode berikutnya.
Baca juga: Muawiyah Serbu Mesir, Pasukan Khalifah Ali bin Abu Thalib Enggan Berperang
Baca juga: Muawiyah Tinggal di Istana Megah, Ali bin Abu Thalib: Itu Istana Celaka!
Dinasti Umayyah
Muawiyah adalah pendiri Daulah Umawiyah atau Umayyah. Nama dinasti ini diambil dari nama kakek buyutnya Muawiyah, Umayyah bin Abd Asy-Syam.
Umayyah adalah putra dari Abd Asy-Syam bin Abd Manaf, yang juga adalah ayah dari Hasyim, kakek buyut Rasulullah SAW. Dengan kata lain, secara nasab, sebenarnya masih terdapat pertalian kekeluargaan antara Bani Hasyim dengan Bani Umayyah pada diri Abd Manaf.
Namun sejarah mencatat terjadi persaingan yang begitu sengit antara Bani Hasyim dangan Bani Umayyah – setidaknya bagi Bani Umayyah. Persaingan ini sudah berlangsung bahkan sejak masa Umayyah dengan Hasyim, dan terus berlanjut hingga ke masa Muawiyah dan anak keturunannya.
Muawiyah tercatat yang memindah ibukota negara dari Madinah ke Damaskus. Ia juga mengganti sistem pemerintahan dari demokratis ke monarki. Sebagaimana diketahui, sejak masa Abu Bakar hingga periode Ali ra., para khalifah dipilih langsung oleh rakyat dan menjalani kehidupan seperti seorang biasa.
Dalam menjalankan pemerintahannya, Muawiyah mengubah kebijaksanaan pendahulunya. Kalau pada masa empat khalifah sebelumnya, pengangkatan khalifah dilakukan dengan cara pemilihan, maka Muawiyah mengubah kebijakan itu dengan cara turun-temurun. Karenanya, khalifah penggantinya adalah Yazid bin Muawiyah, putranya sendiri.
Muawiyah meniru sistem pemerintahan ala kerajaan. Ia hidup layaknya raja, membangun istana di dalam benteng, memiliki banyak pembantu, bergelimang kemewahan, berpengawal lengkap dengan kekuasaan mutlak.
Muawiyah pun menyebut dirinya sebagai “khalifatullah” (“wakil” Allah di bumi) –suatu istilah yang kemudian dipakai oleh para khalifah periode-periode berikutnya.
Baca juga: Muawiyah Serbu Mesir, Pasukan Khalifah Ali bin Abu Thalib Enggan Berperang
(mhy)
Lihat Juga :