Kisah Sufi Tapabrata Malik Dinar dan Utusan Sang Guru Tersembunyi
Jum'at, 12 November 2021 - 10:08 WIB
loading...
A
A
A
"Ikan itu," kata Sang Darwis, "menyampaikan pesan kepada kita. Katanya, 'Saya tak sengaja menelan sebuah batu. Tangkap dan berilah saya makan tumbuhan tertentu supaya batu itu keluar, dan saya bisa lega kembali. Pengembara, kasihanilah saya!'"
Pada saat itu, perahu-sampan muncul, dan Dinar, yang tak sabar ingin meneruskan perjalanan, mendesak Sang Darwis segera naik perahu. Tukang sampan itu sangat senang menerima ongkos berupa uang tembaga yang diberikan Dinar.
Malam itu, Fatih dan Dinar tidur lelap di seberang tepi sungai tadi, dekat situ terdapat pula kedai teh bagi para pengembara yang dibangun oleh seorang yang berbudi baik.
Pagi harinya, ketika mereka sedang minum teh, tukang sampan itu muncul. "Tadi malam adalah malam paling untung," katanya; kedua musafir itu telah membawa berkah baginya. Diciuminya tangan Darwis agung itu, meminta berkah. "Kau pantas mendapatkannya, anakku," kata Fatih.
Tukang perahu itu kini kaya dan berikut ini kisahnya bagaimana hal itu bisa terjadi. Ketika ia sedang dalam perjalanan pulang pada waktu biasanya, ia melihat ada dua orang di seberang sungai; lalu diputuskannya untuk mengangkut mereka, meskipun keduanya tampak miskin, sebab ia mengamalkan 'barakah', berkah karena menolong pengembara.
Baca juga: Dua Versi Tentang Pertobatan Malik Bin Dinar yang Dramatis
Setelah mengantarkan mereka, ia meminggirkan perahunya. Saat itulah disaksikannya seekor ikan, yang melentingkan badannya ke tepi sungai. Ikan itu kelihatannya berusaha menelan sepotong tanaman.
Nelayan itu pun menyuapkan tumbuhan itu ke mulut ikan tersebut. Tiba-tiba, ikan itu memuntahkan sebiji batu dan melompat kembali ke sungai. Batu itu ternyata sebongkah intan murni berukuran besar yang nilainya tak terhitung dan sangat cemerlang.
"Jahanam kau!" teriak Dinar murka kepada Darwis Fatih. "Kau tahu sebelumnya dengan indra batinmu, tentang tiga harta terpendam itu, namun kau tak mengatakannya padaku. Itukah kawan sejati? Memang, nasibku sering jelek; tetapi tanpa kau aku tak perlu tahu tentang kemungkinan terdapat harta terpendam di pepohonan, di bukit-bukit-semut, dan di dalam ikan tentang segalanya!"
Segera setelah berkata begitu, Dinar pun merasa seakan-akan ada angin dahsyat menyapu seluruh kedalaman jiwanya. Dan kemudian, tahulah ia bahwa kebaikan sepenuhnya dari perkataannya tadi adalah kebenaran itu.
Darwis itu, yang namanya berarti 'raja yang menang', menepuk lembut pundak Dinar, dan tersenyum. "Sekarang, saudaraku, kau akan temukan bahwa kau bisa belajar dari pengalaman. Aku sebenarnya orang utusan Sang Guru Tersembunyi."
Ketika Dinar menengadah, disaksikannya Sang Guru berjalan-jalan ditemani sekelompok kecil pengikutnya, yang memperbincangkan tentang pengembaraan mereka berikutnya dan kemungkinan bahaya yang muncul.
Kini, nama Malik Dinar tercatat di antara para Darwis terkemuka, teman seperjalanan dan sosok teladan, Orang yang Mencapai.
Menurut Idries Shah, dalam kisah ini, Raja yang Menang adalah perwujudan 'fungsi akal yang lebih tinggi', yang disebut Jalaluddin Rumi 'Roh Manusia', yang harus manusia kembangkan sebelum ia bisa berfungsi dalam keadaan tercerahkan.
Baca juga: Kisah Tobatnya Malik Bin Dinar, Preman yang Menjadi Ulama di Masa Tabiin
Pada saat itu, perahu-sampan muncul, dan Dinar, yang tak sabar ingin meneruskan perjalanan, mendesak Sang Darwis segera naik perahu. Tukang sampan itu sangat senang menerima ongkos berupa uang tembaga yang diberikan Dinar.
Malam itu, Fatih dan Dinar tidur lelap di seberang tepi sungai tadi, dekat situ terdapat pula kedai teh bagi para pengembara yang dibangun oleh seorang yang berbudi baik.
Pagi harinya, ketika mereka sedang minum teh, tukang sampan itu muncul. "Tadi malam adalah malam paling untung," katanya; kedua musafir itu telah membawa berkah baginya. Diciuminya tangan Darwis agung itu, meminta berkah. "Kau pantas mendapatkannya, anakku," kata Fatih.
Tukang perahu itu kini kaya dan berikut ini kisahnya bagaimana hal itu bisa terjadi. Ketika ia sedang dalam perjalanan pulang pada waktu biasanya, ia melihat ada dua orang di seberang sungai; lalu diputuskannya untuk mengangkut mereka, meskipun keduanya tampak miskin, sebab ia mengamalkan 'barakah', berkah karena menolong pengembara.
Baca juga: Dua Versi Tentang Pertobatan Malik Bin Dinar yang Dramatis
Setelah mengantarkan mereka, ia meminggirkan perahunya. Saat itulah disaksikannya seekor ikan, yang melentingkan badannya ke tepi sungai. Ikan itu kelihatannya berusaha menelan sepotong tanaman.
Nelayan itu pun menyuapkan tumbuhan itu ke mulut ikan tersebut. Tiba-tiba, ikan itu memuntahkan sebiji batu dan melompat kembali ke sungai. Batu itu ternyata sebongkah intan murni berukuran besar yang nilainya tak terhitung dan sangat cemerlang.
"Jahanam kau!" teriak Dinar murka kepada Darwis Fatih. "Kau tahu sebelumnya dengan indra batinmu, tentang tiga harta terpendam itu, namun kau tak mengatakannya padaku. Itukah kawan sejati? Memang, nasibku sering jelek; tetapi tanpa kau aku tak perlu tahu tentang kemungkinan terdapat harta terpendam di pepohonan, di bukit-bukit-semut, dan di dalam ikan tentang segalanya!"
Segera setelah berkata begitu, Dinar pun merasa seakan-akan ada angin dahsyat menyapu seluruh kedalaman jiwanya. Dan kemudian, tahulah ia bahwa kebaikan sepenuhnya dari perkataannya tadi adalah kebenaran itu.
Darwis itu, yang namanya berarti 'raja yang menang', menepuk lembut pundak Dinar, dan tersenyum. "Sekarang, saudaraku, kau akan temukan bahwa kau bisa belajar dari pengalaman. Aku sebenarnya orang utusan Sang Guru Tersembunyi."
Ketika Dinar menengadah, disaksikannya Sang Guru berjalan-jalan ditemani sekelompok kecil pengikutnya, yang memperbincangkan tentang pengembaraan mereka berikutnya dan kemungkinan bahaya yang muncul.
Kini, nama Malik Dinar tercatat di antara para Darwis terkemuka, teman seperjalanan dan sosok teladan, Orang yang Mencapai.
Menurut Idries Shah, dalam kisah ini, Raja yang Menang adalah perwujudan 'fungsi akal yang lebih tinggi', yang disebut Jalaluddin Rumi 'Roh Manusia', yang harus manusia kembangkan sebelum ia bisa berfungsi dalam keadaan tercerahkan.
Baca juga: Kisah Tobatnya Malik Bin Dinar, Preman yang Menjadi Ulama di Masa Tabiin
(mhy)
Lihat Juga :