Berkat Bakti kepada Orangtua, Syekh At-Turmudzi Jadi Murid Nabi Khidir
Jum'at, 17 Desember 2021 - 05:07 WIB
loading...
A
A
A
Saat Syekh at-Turmudzi bergelut dengan emosinya yang sedang berkecamuk, tiba-tiba di hadapannya muncul sesosok kakek yang tak dikenal. Kakek ini langsung menyapa dan menanyakan penyebab kesedihannya yang mendalam.
Tak pikir panjang, Syekh at-Turmudzi menjawab dan mencurahkan semua kesedihannya. "Saya ingin mondok, tapi keinginan itu tak mungkin terwujud karena saya harus menemani dan menjaga ibuku yang sedang sakit," jawabnya.
Kakek ini langsung memberikan tawaran kepada Syekh at-Turmudzi untuk belajar ilmu kepadanya. "Apakah kamu mau belajar kepadaku? Kamu tidak perlu lama belajar kepadaku. Nanti kalau sahabat-sahabatmu sudah kembali, belajarnya akan kita akhiri," ujarnya.
Syekh at-Turmudzi pun menerima tawaran ini dengan riang gembira karena keinginannya untuk belajar akan terlaksana. Tak jadi soal walaupun mungkin belajarnya hanya sebentar. Sejak saat itu, keduanya bertemu setiap hari untuk belajar dan mengajar.
Hari-hari berlalu, keilmuan Syekh at-Turmudzi semakin meningkat dengan drastis. Beberapa waktu kemudian ia pun menyadari bahwa sosok kakek yang selama ini menjadi gurunya itu adalah Nabi Khidir. Ia sangat bersyukur dan menyadari bahwa anugerah yang ia dapat adalah berkat doa dari ibunya.
Begitulah keramat seorang ibu. Bisa mendatangkan kesuksesan bagi anaknya yang berbakti dan bisa juga membawa laknat kepada anaknya yang durhaka. Semoga kisah ini menambah motivasi kita untuk berbakti kepada kedua orangtua.
Referensi:
Syekh Abi Abdillah Muhammad bin Ali bin Husain Al-Hakim, at-Turmudzi, Khatamul Auliya, Tahqiq: Syekh Utsman Ismail Yahya, (Maktabah Al-Katsulukiyah Beirut) Hal 10-11
Baca Juga: Cara Berbakti kepada Orangtua yang Sudah Wafat
Tak pikir panjang, Syekh at-Turmudzi menjawab dan mencurahkan semua kesedihannya. "Saya ingin mondok, tapi keinginan itu tak mungkin terwujud karena saya harus menemani dan menjaga ibuku yang sedang sakit," jawabnya.
Kakek ini langsung memberikan tawaran kepada Syekh at-Turmudzi untuk belajar ilmu kepadanya. "Apakah kamu mau belajar kepadaku? Kamu tidak perlu lama belajar kepadaku. Nanti kalau sahabat-sahabatmu sudah kembali, belajarnya akan kita akhiri," ujarnya.
Syekh at-Turmudzi pun menerima tawaran ini dengan riang gembira karena keinginannya untuk belajar akan terlaksana. Tak jadi soal walaupun mungkin belajarnya hanya sebentar. Sejak saat itu, keduanya bertemu setiap hari untuk belajar dan mengajar.
Hari-hari berlalu, keilmuan Syekh at-Turmudzi semakin meningkat dengan drastis. Beberapa waktu kemudian ia pun menyadari bahwa sosok kakek yang selama ini menjadi gurunya itu adalah Nabi Khidir. Ia sangat bersyukur dan menyadari bahwa anugerah yang ia dapat adalah berkat doa dari ibunya.
Begitulah keramat seorang ibu. Bisa mendatangkan kesuksesan bagi anaknya yang berbakti dan bisa juga membawa laknat kepada anaknya yang durhaka. Semoga kisah ini menambah motivasi kita untuk berbakti kepada kedua orangtua.
Referensi:
Syekh Abi Abdillah Muhammad bin Ali bin Husain Al-Hakim, at-Turmudzi, Khatamul Auliya, Tahqiq: Syekh Utsman Ismail Yahya, (Maktabah Al-Katsulukiyah Beirut) Hal 10-11
Baca Juga: Cara Berbakti kepada Orangtua yang Sudah Wafat
(rhs)
Lihat Juga :