Kisah Sufi Syaikh Ali Farmadhi: Orang yang Hidupnya Tak Terpahami

Jum'at, 24 Desember 2021 - 12:54 WIB
loading...
Kisah Sufi Syaikh Ali...
Konon ini kisah nyata tentang kehidupan salah seorang Sufi terbesar yang pernah hidup. (Foto/Ilustrasi : Ist)
A A A
Idries Shah dalam bukunya berjudul "Tales of The Dervishes" mengangkat kisah sufi yang merupakan kisah nyata tentang kehidupan salah seorang Sufi terbesar yang pernah hidup.

Syaikh Ali Farmadhi (meninggal tahun 1078) menganggap kisah berikut penting dalam menjelaskan kepercayaan Sufi bahwa 'dunia tak kasat mata' selalu menembus kenyataan sehari-hari, pada setiap saat, di berbagai tempat.

Hal-hal, katanya, yang kita anggap tak terpahami, sebenarnya bisa ditelisik pada campur tangan di atas. Lebih lanjut, orang-orang tidak mengenali keterlibatan 'dunia' ini dalam dunia kita, sebab mereka yakin bahwa mereka mengetahui penyebab senyatanya dari berbagai peristiwa.

Padahal sebenarnya tidak. Hanya jika mereka bisa menyimpan dalam pikiran mereka tentang kemungkinan adanya dimensi lain yang terkadang bergesekan dengan pengalaman-pengalaman sehari-hari manusia, barulah dimensi ini bisa mereka dapati.

Syeh Ali merupakan Syeh kesepuluh dan guru pengajaran dari tarekat Khwajagan ('Para Guru'), yang belakangan dikenal sebagai tarekat Naqshbandi. Berikut kisahnya:

Baca juga: Kisah Sufi Bayazid: Rapuhnya Pemisah antara Kita dan Maut

Pada zaman dahulu, ada seorang benama Mojud. Ia hidup di sebuah kota kecil dan bertugas sebagai seorang pegawai rendahan, dan tampaknya kelak ia akan menjabat sebagai Pengawas Timbangan dan Ukuran.

Pada suatu hari, ketika ia sedang berjalan-jalan melewati kebun sebuah gedung kuno di dekat rumahnya, Khidr, Penuntun Para Sufi yang gaib, muncul di hadapannya, berpakaian hijau bercahaya. Khidr berkata, "Orang yang berpengharapan cemerlang! Tinggalkan tugasmu dan temui aku di pinggir sungai tiga hari lagi." Kemudian, bayangan itu pun lenyap.

Mojud menghadap atasannya dengan ragu bercampur takut dan berkata bahwa ia harus meninggalkan tugasnya. Semua orang di kota kecil itu segera mendengar perihal itu dan berkata, "Mojud malang! Ia pasti sudah gila." Tetapi, karena ada banyak orang yang bisa menggantikan pekerjaan yang ditinggalkannya itu, orang-orang pun segera melupakannya.

Pada hari yang ditentukan, Mojud bertemu Khidr, yang berkata, "Lepas pakaianmu dan ceburkan dirimu ke sungai. Mungkin ada seseorang yang akan menolongmu naik."

Mojud berbuat demikian, meskipun ia bertanya-tanya, jangan-jangan dirinya memang sudah gila.

Karena bisa berenang, ia tidak tenggelam, tetapi terbawa arus cukup jauh sebelum seorang nelayan menariknya ke perahunya, dan berkata, "Orang tolol! Arus sungai begitu kuat. Apa yang mau kau lakukan dengan berhanyut-hanyut ini?'

Mojud berkata, "Saya juga tidak tahu pasti."

"Kau ini gila," kata Si Nelayan, "Nah, kau boleh singgah di gubuk buluhku di sungai sebelah sana, nanti kita pikir lagi apa yang bisa dilakukan untukmu."

Baca juga: Kisah Sufi Pir-i-do-Sara: Si Tolol, si Bijak, dan Kendi

Ketika nelayan itu mengetahui bahwa Mojud halus budi bahasanya, ia pun belajar membaca dan menulis darinya. Sebagai gantinya, Mojud diberi makan dan bisa membantu nelayan itu melaut. Setelah beberapa bulan, Khidr pun muncul, kali ini di tepi tempat tidur Mojud, katanya, "Bangun sekarang juga dan tinggalkan Si Nelayan. Kau akan dibekali untuk perjalananmu."

Mojud pun buru-buru meninggalkan pondok itu, berpakaian seperti seorang nelayan, dan terus bertanya-tanya dalam hati hingga ia sampai di jalan besar. Ketika fajar, dilihatnya seorang petani di atas seekor keledai sedang bergerak menuju pasar. "Apa Saudara mencari pekerjaan?' tanya petani itu, "saya butuh seseorang untuk menolongku membawakan belanjaan."

Mojud pun mengikutinya. Ia bekerja pada petani itu hampir dua tahun lamanya, dan belajar banyak hal tentang pertanian, selain itu, tidak.

Pada suatu sore, katika ia sedang membungkus wol, Khidr muncul dan berkata, "Tinggalkan pekerjaan itu, pergilah ke Kota Mosul, dan gunakan tabunganmu untuk menjadi seorang pedagang kulit."

Mojud pun patuh.

Di Mosul, ia menjadi terkenal sebagai seorang saudagar kulit. Ia berdagang dan tak pernah melihat Khidr tiga tahun lamanya. Ia telah mendapatkan sejumlah uang yang cukup banyak, dan sedang berpikir membeli sebuah rumah ketika Khidr muncul lagi dan berkata, "Sini uangmu; pergilah dari kota ini ke Samarkand yang jauh, dan di sana bekerjalah sebagai seorang penjual bahan makanan." Mojud melakukannya.

Baca juga: Kisah Sufi Sayid Ghaos Ali Shah: Warisan untuk Arif Si Rendah Hati

Kini, ia mulai menunjukkan tanda-tanda pasti adanya pencerahan. Ia menyembuhkan yang sakit, melayani sesama manusia di toko dan sepanjang waktu senggangnya, dan pengetahuannya mengenai berbagai hal gaib semakin mendalam.

Para pendeta, filsuf, dan yang lain, menemuinya dan bertanya, "Siapa gerangan gurumu?"

"Hal itu sulit dikatakan," kata Mojud.

Para pengikutya bertanya, "Bagaimana Tuan memulai pengabdian?"

Katanya, "Sebagai seorang pegawai rendahan."

"Lalu, Tuan berhenti agar bisa bertekun dalam penyangkalan diri?"

"Tidak, saya hanya berhenti saja."

Orang-orang itu tidak bisa memahami tindakannya.

Mereka pun mendekatinya untuk menuliskan kisah kehidupannya.

"Apa yang telah Tuan alami dalam hidup Tuan?" tanya mereka.

"Saya terjun ke sebuah sungai, menjadi seorang nelayan, lalu pada suatu malam pergi meninggalkan gubuk buluh milik nelayan yang menolongku. Setelah itu, saya menjadi seorang petani. Ketika sedang mengepak kain wol, saya beranjak pergi ke Mosul, di mana saya menjadi seorang saudagar kulit. Di sana saya mendapat banyak uang, namun melepaskannya juga. Kemudian, saya berjalan ke Samarkand dan bekerja menjual bahan pangan. Dan, di sinilah saya kini."

"Namun, perilaku-perilaku yang tak terpahami itu tidak memberikan penerangan atas kemampuanmu yang ajaib dan teladanmu yang mengagumkan," kata para penulis riwayat itu.

"Hanya itu pengalaman-pengalamanku," kata Mojud.

Begitulah, para penulis tadi menyusun bagi Mojud, sebuah kisah kehidupan yang menarik dan menakjubkan, sebab semua orang suci harus mempunyai kisah kehidupan, dan ceritanya harus sesuai dengan selera pendengarnya, bukan kenyataan kehidupannya yang sebenarnya.

Dan, tak ada orang yang diperbolehkan menyinggung tentang Khidr secara langsung. Itulah sebabnya mengapa kisah tersebut tidak benar. Kisah itu merupakan suatu gambaran mengenai sebuah kehidupan.

Versi ini berasal dari naskah abad ketujuh belas milik Lala Anwar, Hikayat I Abdalan (Kisah Para Terubahkan).

Kisah ini juga telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia antara lain oleh Ahmad Bahar dalam bukunya berjudul Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi. Juga oleh Sapardi Djoko Damono dalam buku Kisah-Kisah Sufi, Kumpulan Kisah Nasehat Para Guru Sufi Selama Seribu Tahun yang Lampau.

Baca juga: Kisah Sufi Kalandar: Kecurigaan Perselingkuhan dalam Peti Kuno Nuri Bey
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Kisah Qarun dalam Al-Quran:...
Kisah Qarun dalam Al-Qur'an: Dari Orang Saleh Menjadi Binasa karena Harta
Kisah Uwais Al-Qarni,...
Kisah Uwais Al-Qarni, Teladan Berbakti kepada Orang Tua yang Dijamin Doanya Mustajab
Kisah Nabi Muhammad...
Kisah Nabi Muhammad SAW Sujud Sangat Lama, Ternyata Ini Penyebabnya
Kisah Hikmah : Tidak...
Kisah Hikmah : Tidak Melakukan Ibadah Haji Tapi Dapat Pahala Haji, Kok Bisa?
Kisah Bulan Zulhijjah...
Kisah Bulan Zulhijjah : Diijabahnya Doa Nabi Zakaria Mendapatkan Keturunan di Umur 90 Tahun
Kisah Uwais Al Qarni...
Kisah Uwais Al Qarni : Menggendong Ibunya dari Yaman ke Makkah untuk Melaksanakan Haji
Rekomendasi
Deretan Tokoh Islam...
Deretan Tokoh Islam di Bidang Kimia, Nomor 3 Orang Spanyol
Manusia Purba Yunxian...
Manusia Purba Yunxian Diklaim Spesies Paling Mirip dengan Kita
Tembus 50 Derajat Celcius,...
Tembus 50 Derajat Celcius, India dan Pakistan Akan Rasakan Lebih Panas Lagi
Artikel Terkini
Kisah Qarun dalam Al-Quran:...
Kisah Qarun dalam Al-Qur'an: Dari Orang Saleh Menjadi Binasa karena Harta
7 Ayat Al-Quran tentang...
7 Ayat Al-Quran tentang Kekayaan, Panduan Mencari dan Mengelola Harta Halal
Bahaya Harta : Ketika...
Bahaya Harta : Ketika Kekayaan Membuat Manusia Lalai dan Durhaka
Kapan Harta Menjadi...
Kapan Harta Menjadi Tercela? Ini Sikap yang Menyebabkannya
Pandangan Islam tentang...
Pandangan Islam tentang Harta: Benarkah Kaya Lebih Baik daripada Miskin?
Solusi Pemberantasan...
Solusi Pemberantasan Korupsi Menurut Islam: Dimulai dari Reformasi Individu dan Sosial
Infografis
Penemuan-penemuan Ilmuwan...
Penemuan-penemuan Ilmuwan Muslim yang Mengubah Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved