Surat Yasin Ayat 47: Ajaran Kasih Sayang Meski Beda Keyakinan
Jum'at, 07 Januari 2022 - 11:38 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Surat Yasin Ayat 43-44: Pelajaran dari Bahtera Nuh dan Kapal Titanic
Berbeda dengan yang disampaikan oleh Quraish Shihab dalam Al-Misbah. Menurut dia, memberikan dua kemungkinan terkait dengan sebab nuzul ayat 47 ini.
Pertama berkenaan dengan masa sulit yang dihadapi masyarakat Mekkah. Lalu Rasulullah memberi anjuran kepada semua pihak, termasuk orang musyrik, agar membatu fakir miskin. Namun anjuran tersebut mereka tolak.
Kedua, bisa jadi keengganan orang-orang musyrik untuk menginfakkan sebagian hartanya ditengarai oleh adanya pilih kasih. Fakir miskin yang sebelumnya mendapatkan bantuan dari orang-orang musyrik tersebut kali ini tidak mendapatkan bantuan lagi karena telah memeluk Islam. Dan ketika itulah terucap kalimat sindiran tersebut.
Kurang lebih hal senada juga diungkapkan oleh Ibnu ‘Asyur dalam Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir.
Laman Tafsir Al-Quran menjelaskan, terlepas dari perbedaan pendapat dari kalangan mufassir di atas kita bisa menarik benang merah bahwa pada waktu itu Mekkah sedang dilanda paceklik dan para pembesar-pembesar diharap untuk ikut bahu-membahu menyelesaikan problem tersebut. Sayangnya pembesar-pembesar musyrik menolak untuk membantu. Mereka beralasan bahwa kemiskinan yang dirasakan oleh sebagian umat muslim merupakan kehendak Allah SWT.
Alasan-alasan itu muncul sebagai sindiran kepada umat Islam, sebagaimana diungkapkan oleh Ibnu ‘Asyur bahwa mereka berhujah seakan membalikkan akidah umat Islam sendiri. “Allah itu maha pemberi rezeki. Semuanya sudah diatur olehNya. Tidak akan ada yang keluar dari kehendaknya”. Alasan tersebut dilontarkan dengan maksud mengejek dan meremehkan.
Menurut Thaba’thaba’i, ada kesalahan logika dalam alasan yang digunakan oleh orang-orang musyrik. Menurutnya orang-orang musyrik meletakkan ketetapan Allah yang bersifat tasyri’ kepada ketetapan Allah yang bersifat takwin.
Baca juga: Surat Yasin Ayat 41-42: Isyarat Perkembangan Transportasi Masa Depan
Berkenaan dengan anjuran untuk berinfak ini merupakan ketetapan Allah yang bersifat tasyri’. Maka dari itu manusia dianugerahi kebebasan untuk mengikuti anjuran atau tidak. Barangkali ini yang disebut Wahbah Zuhaili dengan “seakan-akan Allah berlepas dengan takdirnya”.
Hal itu ia sampaikan dalam al-Tafsir al-Munir. Wahbah menyatakan bahwa alasan yang dilontarkan oleh orang musyrik tersebut ngawur.
Berbeda dengan yang disampaikan oleh Quraish Shihab dalam Al-Misbah. Menurut dia, memberikan dua kemungkinan terkait dengan sebab nuzul ayat 47 ini.
Pertama berkenaan dengan masa sulit yang dihadapi masyarakat Mekkah. Lalu Rasulullah memberi anjuran kepada semua pihak, termasuk orang musyrik, agar membatu fakir miskin. Namun anjuran tersebut mereka tolak.
Kedua, bisa jadi keengganan orang-orang musyrik untuk menginfakkan sebagian hartanya ditengarai oleh adanya pilih kasih. Fakir miskin yang sebelumnya mendapatkan bantuan dari orang-orang musyrik tersebut kali ini tidak mendapatkan bantuan lagi karena telah memeluk Islam. Dan ketika itulah terucap kalimat sindiran tersebut.
Kurang lebih hal senada juga diungkapkan oleh Ibnu ‘Asyur dalam Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir.
Laman Tafsir Al-Quran menjelaskan, terlepas dari perbedaan pendapat dari kalangan mufassir di atas kita bisa menarik benang merah bahwa pada waktu itu Mekkah sedang dilanda paceklik dan para pembesar-pembesar diharap untuk ikut bahu-membahu menyelesaikan problem tersebut. Sayangnya pembesar-pembesar musyrik menolak untuk membantu. Mereka beralasan bahwa kemiskinan yang dirasakan oleh sebagian umat muslim merupakan kehendak Allah SWT.
Alasan-alasan itu muncul sebagai sindiran kepada umat Islam, sebagaimana diungkapkan oleh Ibnu ‘Asyur bahwa mereka berhujah seakan membalikkan akidah umat Islam sendiri. “Allah itu maha pemberi rezeki. Semuanya sudah diatur olehNya. Tidak akan ada yang keluar dari kehendaknya”. Alasan tersebut dilontarkan dengan maksud mengejek dan meremehkan.
Menurut Thaba’thaba’i, ada kesalahan logika dalam alasan yang digunakan oleh orang-orang musyrik. Menurutnya orang-orang musyrik meletakkan ketetapan Allah yang bersifat tasyri’ kepada ketetapan Allah yang bersifat takwin.
Baca juga: Surat Yasin Ayat 41-42: Isyarat Perkembangan Transportasi Masa Depan
Berkenaan dengan anjuran untuk berinfak ini merupakan ketetapan Allah yang bersifat tasyri’. Maka dari itu manusia dianugerahi kebebasan untuk mengikuti anjuran atau tidak. Barangkali ini yang disebut Wahbah Zuhaili dengan “seakan-akan Allah berlepas dengan takdirnya”.
Hal itu ia sampaikan dalam al-Tafsir al-Munir. Wahbah menyatakan bahwa alasan yang dilontarkan oleh orang musyrik tersebut ngawur.
Lihat Juga :