Kisah Syekh Abu Al-Abbas As-Sibti, Walinya Orang-orang Buta
Selasa, 11 Januari 2022 - 22:36 WIB
loading...
A
A
A
"Sesungguhnya Allah memerintahkan (kamu) untuk berbuat adil dan kebajikan…"
As-Sibti memaknai 'adl (adil) sebagai musyatharah, yakni membagi separuh-separuh, sama rata. Beliau berpendapat bahwa Rasulullah mengajarkan umat Islam mengenai keadilan ketika Rasulullah mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Anshar yang diperlakukan sama rata oleh beliau. As-sibti memaknai demikian sehingga beliau memperlakukan orang-orang fakir sama dengan orang-orang beriman lainnya yang kaya. Oleh karena itu, beliau menyedekahkan separuh hati yang dimilikinya kepada orang-orang fakir selama 20 tahun.
Dengan demikian, arti 'adil' adalah separuh, dan ihsan (kebajikan) adalah memberi lebih dari itu. Maka, ihsan adalah perpaduan dari musyatharah dan itsar (mendahulukan yang lain). Yakni, memberikan separuh harta yang kita miliki sekaligus mendahulukan kepada yang membutuhkan dengan separuh lainnya. Dengan amalan tersebut, sebagaimana disebut Hasan Jallab dalam Sab’atu Rijali Murrakusy, beliau mendapatkan derajat kewalian.
Tak pelak, laku sufi yang dijalani oleh As-Sibti di kemudian hari mendapat pujian dari sufi besar ternama Ibnu 'Arabi. Dalam karya agungya Al-Futuhat al-Makkiyah beliau mengatakan, "Aku memasuki Kota Marrakech dan mendapati Abu al-'Abbas as-Sibti menjadi wali Allah, melepaskan (ketergantungan) diri dari manusia, merendahkan diri kepada Allah, mengagkat derajat orang-orang fakir dan menyantuninya, dan mencegah kefakiran. Aku berandai-andai berada di posisi itu”.
Walinya Orang-orang Buta
Para penduduk Kota Marrakech meyakini sebuah karomah yang beliau miliki sampai sekarang. Karomah yang dihasilkan lewat proses panjang mendekatkan diri kepada Allah dan berbuat ihsan kepada sesama manusia. Sedekah beliau, selain kepada orang-orang fakir, juga beliau lakukan kepada orang-orang buta. Sedekah ini beliau lakukan hingga akhir hayatnya bahkan diteruskan hingga sekarang oleh pemerintah kerajaan Maroko.
Beliau wafat di Kota Marrakech, tanggal 3 Jumadil Akhir Tahun 601 H/1129 M. Beliau dimakamkan di Bab Taghzout, Marrakech, beberapa ratus meter dari makam pengarang Dalail al-Khairat, Imam Al-Jazuli. Di depan kompleks makam tersebut, kita akan mendapati orang-orang buta tersebut. Semoga kita bisa meneladani istiqomah beliau dalam ber-ihsan.
Wallahu A'lam
Baca Juga: Kisah Imam Al-Jazuli yang Jasadnya Utuh Berkat Shalawat
As-Sibti memaknai 'adl (adil) sebagai musyatharah, yakni membagi separuh-separuh, sama rata. Beliau berpendapat bahwa Rasulullah mengajarkan umat Islam mengenai keadilan ketika Rasulullah mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Anshar yang diperlakukan sama rata oleh beliau. As-sibti memaknai demikian sehingga beliau memperlakukan orang-orang fakir sama dengan orang-orang beriman lainnya yang kaya. Oleh karena itu, beliau menyedekahkan separuh hati yang dimilikinya kepada orang-orang fakir selama 20 tahun.
Dengan demikian, arti 'adil' adalah separuh, dan ihsan (kebajikan) adalah memberi lebih dari itu. Maka, ihsan adalah perpaduan dari musyatharah dan itsar (mendahulukan yang lain). Yakni, memberikan separuh harta yang kita miliki sekaligus mendahulukan kepada yang membutuhkan dengan separuh lainnya. Dengan amalan tersebut, sebagaimana disebut Hasan Jallab dalam Sab’atu Rijali Murrakusy, beliau mendapatkan derajat kewalian.
Tak pelak, laku sufi yang dijalani oleh As-Sibti di kemudian hari mendapat pujian dari sufi besar ternama Ibnu 'Arabi. Dalam karya agungya Al-Futuhat al-Makkiyah beliau mengatakan, "Aku memasuki Kota Marrakech dan mendapati Abu al-'Abbas as-Sibti menjadi wali Allah, melepaskan (ketergantungan) diri dari manusia, merendahkan diri kepada Allah, mengagkat derajat orang-orang fakir dan menyantuninya, dan mencegah kefakiran. Aku berandai-andai berada di posisi itu”.
Walinya Orang-orang Buta
Para penduduk Kota Marrakech meyakini sebuah karomah yang beliau miliki sampai sekarang. Karomah yang dihasilkan lewat proses panjang mendekatkan diri kepada Allah dan berbuat ihsan kepada sesama manusia. Sedekah beliau, selain kepada orang-orang fakir, juga beliau lakukan kepada orang-orang buta. Sedekah ini beliau lakukan hingga akhir hayatnya bahkan diteruskan hingga sekarang oleh pemerintah kerajaan Maroko.
Beliau wafat di Kota Marrakech, tanggal 3 Jumadil Akhir Tahun 601 H/1129 M. Beliau dimakamkan di Bab Taghzout, Marrakech, beberapa ratus meter dari makam pengarang Dalail al-Khairat, Imam Al-Jazuli. Di depan kompleks makam tersebut, kita akan mendapati orang-orang buta tersebut. Semoga kita bisa meneladani istiqomah beliau dalam ber-ihsan.
Wallahu A'lam
Baca Juga: Kisah Imam Al-Jazuli yang Jasadnya Utuh Berkat Shalawat
(rhs)
Lihat Juga :