Kisah Syekh Abu Al-Abbas As-Sibti, Walinya Orang-orang Buta

Selasa, 11 Januari 2022 - 22:36 WIB
loading...
Kisah Syekh Abu Al-Abbas...
Syekh Abu Al-Abbas As-Sibti dimakamkan di Bab Taghzout, Marrakech Maroko, beberapa ratus meter dari makam pengarang KItab Dalail al-Khairat, Imam Al-Jazuli. Foto/dok Channel Kusnadi El Ghezwa
A A A
Berikut adalah kisah Syekh Abu Al-Abbas As-Sibti yang terkenal dengan karomahnya. Beliau merupakan salah satu anggota sab'aturrijal (Wali Tujuh) Marrakech, Maroko, Afrika Utara dan dikenal sebagai walinya orang-orang buta.

Penduduk Marrakech menyebutnya As-Sibti. Dalam Kitab Tarikh al-Islam karya Syams ad-Din Qaymaz disebutkan nama lengkapnya adalah Ahmad bin Ja'far al-Khazraji. Az-Zarkali dalam Al-A'lam menyebutkan, beliau kelahiran Kota Sibta (Ceuta), sebuh pulau dekat Maroko yang menjadi wilayah Spanyol Tahun 524 H (1130 M) di akhir era dinasti Murabithin. Dalam At-Tasyawuf ila Rijali at-Tasawuf disebutkan bahwa beliau lahir pada hari Senin, 3 Jumadil Akhir.

Melansir dari portal islami.co, Fairuz 'Ainun Na'im menceritakan karomah As-Sibti yang menukil beberapa kitab. Syekh Talidi dalam kitab Al-Muthrib menyebutkan bahwa As-Sibti memiliki bentuk fisik rupawan, berkulit putih, berpakaian apik, fasih bicaranya dan menguasai pembicaraan hingga seakan-akan tidak ada pertanyaan yang tidak dijawab oleh beliau. Lebih-lebih, lisannya berbicara menghadirkan Al-Qur'an yang memukau para pendengarnya baik orang awam maupun orang khas.

Dalam At-Tasyawuf disebutkan beliau sebagai orang yang lembut, sabar, dan berbuat baik kepada orang yang menyakiti beliau. Beliau juga dikenal sebagai orang yang baik kepada para anak yatim dan janda.

Pengembaraan dan Mazhab Sufi As-Sibti
Di Sibta, yang dikenal sebagai pulau penghasil para ulama, Syekh As-Sibti tumbuh dan menghafalkan Al-Qur'an di bawah bimbingan Sidi Abdullah Al-Fakhar, salah satu murid "Wali Tujuh" lainnya, Qadi ‘Iyyadl. Di tangan beliau pula, As-Sibti belajar ilmu-ilmu agama lainnya sehingga menjadi orang yang alim dalam agama.

Thariq Al-‘Alami dalam salah satu tulisannya berjudul 'Abu al-‘Abbas as-Sibti dan Mazhab Ihsannya' yang dimuat oleh situs Ar-Rabithah al-Muhammadiyah li al-'Ulama menyebutkan bahwa As-Sibti keluar dari Sibta untuk menuju Marrakech pada tahun 540 H ketika umurnya 16 tahun.

Tahun tersebut adalah tahun-tahun jatuhnya Dinasti Murabithin (Moravid) ke tangan kekuasaan dinasti Muwahhidin (Mohad). Di kota ini pula, beliau sempat berkhalwat (mengasingkan diri) selama 40 tahun di Bukit Gueliz.

Di Marrakech inilah beliau kemudian dikenal sebagai Wali Allah yang keilmuannya diakui oleh banyak orang, sehingga kemudian beliau menyebarkan ajaran-ajaran tasawufnya kepada masyarakat luas. Ajaran-ajaran atau mazhab tasawuf yang beliau pegang adalah mazhab yang bermuara kepada Imam Al-Ghazali dan Abdul Qadir Al-Jilani.

Mazhab Al-Ghazali beliau peroleh dari Abi Abdillah Al-Fakhar dari Qadli Iyyad dari Abi Bakr Ibn Al-‘Arabi dari Al-Ghazali, dan mazhab Abdul Qadir Al-Jilani beliau dapatkan dari Abi Abdillah al-Fakhar dari Ash-Shadafi dari Abdul Qadir Al-Jilani.

Sebagai wali Allah, As-Sibti memiliki ajaran-ajaran khas tasawuf dalam beberapa hal. Di antaranya seperti dikemukakan penulis At-Tasyawuf, Abu Ya’qub At-Tadli, bahwa beliau pernah hadir di majlis ilmu yang diasuh oleh As-Sibti. Beliau menyaksikan As-Sibti menjelaskan pokok-pokok ajaran syariat yang mendalam, di antaranya mengenai sholat.
As-Sibti mengatakan: "Barangsiapa yang tidak memahami makna sholat, maka dia belum sholat. Bahwa awal sholat adalah takbiratul ihram, yaitu ketika anda mengangkat tangan sambil mengucapkan 'Allahu Akbar'.

Makna 'Allahu Akbar' adalah menahan diri dari segala sesuatu. Barang siapa yang melihat kenikmatan dunia di hatinya lebih besar, maka dia belum ihram (memuliakan Allah), dan tidak ada kesombongan di dalam sholat. Dan makna mengangkat tangan ketika Takbir adalah 'sungguh aku sudah meninggalkan semuanya untuk (menuju) Engkau (Allah)..."

Ajaran tasawuf beliau yang lainnya adalah ajaran pemaknaan 'adil' dan ‘ihsan’ dalam QS. An-Nahl [16] Ayat 90:

إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَٰنِ
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Ketika Imam Syafii Berdebat...
Ketika Imam Syafi'i Berdebat dengan Orang Bodoh : Diamku dari Orang Hina adalah Jawaban
Kisah Imam Abu Hanifah...
Kisah Imam Abu Hanifah dan Khalifah Al-Mansur Menafsirkan Soal Poligami
Kisah Tabiin : Sikap...
Kisah Tabiin : Sikap Rendah Hati Abdullah bin Mubarak, Ulama Teladan dan Ditakuti di Medan Perang
Kisah Hikmah: Pesan...
Kisah Hikmah: Pesan Cinta dari Kuburan
Kisah Tabiin Hasan al-Bashri...
Kisah Tabiin Hasan al-Bashri dan Doanya Agar Terhindar dari Penguasa Zalim
Kisah Sufi:  Fatima...
Kisah Sufi:  Fatima si Pemintal Mencari Suami
Rekomendasi
Ini Penyebab Cahaya...
Ini Penyebab Cahaya Aneh di Langit Malang Usai Gempa Magnitude 6,1
Cara Suku Maya Menghitung...
Cara Suku Maya Menghitung Fenomena Alam yang Akan Terjadi Terungkap!
Gas Inti Bumi Terdeteksi...
Gas Inti Bumi Terdeteksi Bocor, Penduduk Dunia Diminta Waspada
Artikel Terkini
Populer di Bulan Safar...
Populer di Bulan Safar : Mengapa Ada Tradisi Rebo Wekasan di Indonesia?
Teladan Rasulullah SAW...
Teladan Rasulullah SAW kepada Tetangga: Akhlak Mulia yang Tetap Relevan hingga Kini
5 Adab Bertetangga dalam...
5 Adab Bertetangga dalam Islam, Lengkap dengan Dalilnya
Orang yang Mengganggu...
Orang yang Mengganggu Tetangganya Bukan Mukmin, Ini Dalil Hadis dan Penjelasan Ulama
Butuh 7 Hari, CQF Bangun...
Butuh 7 Hari, CQF Bangun Masjid Pertama Asmaul Husna di Aceh Tamiang
Kasus Teror Tetangga...
Kasus Teror Tetangga Viral, Begini Hak Tetangga Menurut Al-Qur'an dan Hadis
Infografis
Muslim Keturunan Palestina...
Muslim Keturunan Palestina Dipilih Jadi Senator Indiana AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved