Surat Yasin Ayat 48-50: Kiamat Datang Mendadak, ketika Orang Masih Sibuk Urusan Dunia
Kamis, 13 Januari 2022 - 13:44 WIB
loading...
A
A
A
"Ketika sangkakala ditiup, orang-orang berada di jalan-jalan, pasar-pasar, dan sedang duduk-duduk. Ketika orang sedang melakukan transaksi dagang, belum sampai orang itu mengambil barang yang dibelinya, sangkakala ditiup. Orang baru bangun dari tidur, sangkakala ditiup. Inilah gambaran dari firman Allah SWT pada ayat 49 surat Yasin.”
Hadis ketiga riwayat dari Abu Hurairah yang mengulas tentang proses terjadinya Hari Kiamat. Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
Sungguh Allah menciptakan sangkakala ketika menciptakan langit dan bumi, Dia memberikannya kepada malaikat Israfil. Malaikat Israfil menopang sangkakala itu dekat ke mulutnya dan menunggu kapan diperintahkan untuk meniupnya.
Abu Hurairah kemudian bertanya, “Apa itu sangkakala (al-shuwar)?”
Rasulullah menjawab, “Semacam tanduk (qarnun)?”
Abu Hurairah kembali bertanya, “Seperti apa betuknya?”
Rasulullah SAW menjelaskan, “Tanduk yang sangat besar semacam terompet yang akan ditiup tiga kali. Tiupan pertama adalah tiupan mengagetkan (nafkhat al-faza’) yang akan menghancurkan segala sesuatu. Tiupan kedua merupakan tiupan membinasakan (nafkhat al-sha’qi) yang akan membinasakan seluruh makhluk hidup. Tiupan ketiga tiupan kebangkitan (nafkhat al-qiyam).”
Baca juga: Surat Yasin Ayat 43-44: Pelajaran dari Bahtera Nuh dan Kapal Titanic
Ibnu ‘Asyur menerangkan kemungkinan adanya makna kedua yaitu teriakan (al-shayhah) yang dimaksud pada ayat di atas bukanlah sangkakala, tetapi teriakan orang yang melihat marabahaya.
Menurutnya, bisa saja ayat di atas terkait dengan orang-orang musyrik Mekkah yang berteriak meminta pertolongan ketika adanya serangan dari kaum muslimin yang bermaksud menguasai barang dagangan mereka ketika terjadi perang Badr.
Kemudian berlanjut pada kata yakhishshimun (bertengkar), menurut Ibnu ‘Asyur ketika menerangkan makna kedua, berkaitan dengan pertengkaran orang musyrik Mekkah ketika menghadapi kaum muslimin pada saat perang Badr .
Lalu mereka tidak sempat memberikan nasihat, yaitu ketika orang-orang musyrik Mekah akhirnya kalah pada perang Badar.
Bertujuan Memperolok
Ar-Razi dan Az-Zuhaili sepakat akan kesinambungan ayat ini dengan ayat sebelumnya. Ayat sebelumnya menyinggung orang kafir yang enggan bertakwa dan mengeluarkan infak.
Pada ayat ini secara tidak langsung dijelaskan penyebab keengganan mereka, yaitu keingkaran kepada Hari Pembalasan. Karena tidak meyakini akhirat, mereka merasa tidak perlu bersusah payah melakukan amal kebaikan di dunia.
Hadis ketiga riwayat dari Abu Hurairah yang mengulas tentang proses terjadinya Hari Kiamat. Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
Sungguh Allah menciptakan sangkakala ketika menciptakan langit dan bumi, Dia memberikannya kepada malaikat Israfil. Malaikat Israfil menopang sangkakala itu dekat ke mulutnya dan menunggu kapan diperintahkan untuk meniupnya.
Abu Hurairah kemudian bertanya, “Apa itu sangkakala (al-shuwar)?”
Rasulullah menjawab, “Semacam tanduk (qarnun)?”
Abu Hurairah kembali bertanya, “Seperti apa betuknya?”
Rasulullah SAW menjelaskan, “Tanduk yang sangat besar semacam terompet yang akan ditiup tiga kali. Tiupan pertama adalah tiupan mengagetkan (nafkhat al-faza’) yang akan menghancurkan segala sesuatu. Tiupan kedua merupakan tiupan membinasakan (nafkhat al-sha’qi) yang akan membinasakan seluruh makhluk hidup. Tiupan ketiga tiupan kebangkitan (nafkhat al-qiyam).”
Baca juga: Surat Yasin Ayat 43-44: Pelajaran dari Bahtera Nuh dan Kapal Titanic
Ibnu ‘Asyur menerangkan kemungkinan adanya makna kedua yaitu teriakan (al-shayhah) yang dimaksud pada ayat di atas bukanlah sangkakala, tetapi teriakan orang yang melihat marabahaya.
Menurutnya, bisa saja ayat di atas terkait dengan orang-orang musyrik Mekkah yang berteriak meminta pertolongan ketika adanya serangan dari kaum muslimin yang bermaksud menguasai barang dagangan mereka ketika terjadi perang Badr.
Kemudian berlanjut pada kata yakhishshimun (bertengkar), menurut Ibnu ‘Asyur ketika menerangkan makna kedua, berkaitan dengan pertengkaran orang musyrik Mekkah ketika menghadapi kaum muslimin pada saat perang Badr .
Lalu mereka tidak sempat memberikan nasihat, yaitu ketika orang-orang musyrik Mekah akhirnya kalah pada perang Badar.
Bertujuan Memperolok
Ar-Razi dan Az-Zuhaili sepakat akan kesinambungan ayat ini dengan ayat sebelumnya. Ayat sebelumnya menyinggung orang kafir yang enggan bertakwa dan mengeluarkan infak.
Pada ayat ini secara tidak langsung dijelaskan penyebab keengganan mereka, yaitu keingkaran kepada Hari Pembalasan. Karena tidak meyakini akhirat, mereka merasa tidak perlu bersusah payah melakukan amal kebaikan di dunia.
Lihat Juga :