Tradisi Memberi Sesajen dalam Fatwa Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary
Kamis, 13 Januari 2022 - 18:13 WIB
loading...
A
A
A
Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari menjawab bahwa alasan itu pun tidak logis, karena yang dikatakan itu tidak sesuai dengan yang ada dalam hati di mana mereka sangat menghormat kepada setan itu dengan bukti pemberian makanan tersebut yang penuh dengan keindahan dan makanan-makanan yang istimewa.
Mulai dari pendekatan hukum syar'i dan pendekatan akidah terhadap upacara-upacara tradisional yang masih banyak dilakukan oleh masyarakat, sampai kepada dialognya dengan para pelaku upacara untuk meruntuhkan argumentasi mereka yang membenarkan upacara tersebut, tampak sekali adanya pemikiran Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari tentang pemurnian akidah, yang diupayakan beliau sendiri dalam penerapannya, disamping beliau juga minta partisipasi para kaum bangsawan dan pembesar negeri untuk memberantasnya.
Tindakan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari yang terakhir ini memang tepat, sebab yang banyak melakukan upacara-upacara tersebut adalah dari kalangan kaum bangsawan, di mana dia sendiri termasuk dalam lingkungan masyarakat tersebut.
Selain itu, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari juga mengirim, mengutus, dan menyebarkan kader-kader dakwah ke berbagai daerah untuk menjadi penyuluh masyarakat.
Kader dakwah yang telah dididik oleh Datuk Kelampayan dengan ilmu-ilmu agama ini terdiri dari anak cucu dan murid-muridnya menjadi Ulama; agen dakwah yang penting untuk lebih menyebarluaskan dan memeratakan dakwah Islam ke berbagai kelompok masyarakat dan pelosok daerah.
Sehingga dengan upaya tersebut, akselarasi dakwah semakin luas dan terbuka. Melalui mereka ini pulalah, peningkatan dan pemahaman masyarakat terhadap ajaran Islam dan keimanan semakit ditingkatkan.
Terakhir, untuk lebih menguatkan dakwah lisannya tersebut, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari juga menulis dan membahas hal-hal penting tentang keimanan (ketauhidan) dalam kitabnya yang berjudul: "Tuhfah ar-Raghibin min haqiqatil Imani wa Yufsiduhu".
Kitab ini ditulis oleh Al-Banjari pada tahun 1188 H (1774 M) dan pernah diterbitkan di Mesir pada 1353 H.
Kitab "Tuhfah ar-Raghibin" ini membicarakan masalah tauhid (keimanan). Isinya cukup ringkas, dan terdiri terdiri dari muqaddimah, tiga fasal, dan penutup.
Pasal pertama berkenaan dengan hakikat iman, pasal kedua berkenaan dengan perkara-perkara yang merusak keimanan, dan pasal ketiga berkenaan dengan syarat yang menimbulkan murtad dan hukum-hukum yang berkaitan dengannya.
Tetapi dengan tiga pasal itu sudah dapat dipahami oleh masyarakat, makna tentang keimanan, kemudian hal-hal yang dapat merusak keimanan, baik dari segi membuat perkataan kufur, melakukan perbuatan yang kufur, ataupun keyakinan (iātikad) yang kufur.
Demikian pandangan dan fatwa dari seorang Mujtahid Pengarang Kitab Monemental "Sabilal Muhtadin" dan Tughfatur Raghibin" karya-karyanya masih tersebar, dibaca, dipelajari, serta dikaji bahkan menjadi rujukan penting di Asia Tenggara, seperti Malaysia, Brunei Darussalam, dan Patani sampai hari ini.
Baca Juga: Samiri: Pencetus Spirit Doll dalam Sejarah Penyimpangan Akidah Manusia
Mulai dari pendekatan hukum syar'i dan pendekatan akidah terhadap upacara-upacara tradisional yang masih banyak dilakukan oleh masyarakat, sampai kepada dialognya dengan para pelaku upacara untuk meruntuhkan argumentasi mereka yang membenarkan upacara tersebut, tampak sekali adanya pemikiran Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari tentang pemurnian akidah, yang diupayakan beliau sendiri dalam penerapannya, disamping beliau juga minta partisipasi para kaum bangsawan dan pembesar negeri untuk memberantasnya.
Tindakan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari yang terakhir ini memang tepat, sebab yang banyak melakukan upacara-upacara tersebut adalah dari kalangan kaum bangsawan, di mana dia sendiri termasuk dalam lingkungan masyarakat tersebut.
Selain itu, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari juga mengirim, mengutus, dan menyebarkan kader-kader dakwah ke berbagai daerah untuk menjadi penyuluh masyarakat.
Kader dakwah yang telah dididik oleh Datuk Kelampayan dengan ilmu-ilmu agama ini terdiri dari anak cucu dan murid-muridnya menjadi Ulama; agen dakwah yang penting untuk lebih menyebarluaskan dan memeratakan dakwah Islam ke berbagai kelompok masyarakat dan pelosok daerah.
Sehingga dengan upaya tersebut, akselarasi dakwah semakin luas dan terbuka. Melalui mereka ini pulalah, peningkatan dan pemahaman masyarakat terhadap ajaran Islam dan keimanan semakit ditingkatkan.
Terakhir, untuk lebih menguatkan dakwah lisannya tersebut, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari juga menulis dan membahas hal-hal penting tentang keimanan (ketauhidan) dalam kitabnya yang berjudul: "Tuhfah ar-Raghibin min haqiqatil Imani wa Yufsiduhu".
Kitab ini ditulis oleh Al-Banjari pada tahun 1188 H (1774 M) dan pernah diterbitkan di Mesir pada 1353 H.
Kitab "Tuhfah ar-Raghibin" ini membicarakan masalah tauhid (keimanan). Isinya cukup ringkas, dan terdiri terdiri dari muqaddimah, tiga fasal, dan penutup.
Pasal pertama berkenaan dengan hakikat iman, pasal kedua berkenaan dengan perkara-perkara yang merusak keimanan, dan pasal ketiga berkenaan dengan syarat yang menimbulkan murtad dan hukum-hukum yang berkaitan dengannya.
Tetapi dengan tiga pasal itu sudah dapat dipahami oleh masyarakat, makna tentang keimanan, kemudian hal-hal yang dapat merusak keimanan, baik dari segi membuat perkataan kufur, melakukan perbuatan yang kufur, ataupun keyakinan (iātikad) yang kufur.
Demikian pandangan dan fatwa dari seorang Mujtahid Pengarang Kitab Monemental "Sabilal Muhtadin" dan Tughfatur Raghibin" karya-karyanya masih tersebar, dibaca, dipelajari, serta dikaji bahkan menjadi rujukan penting di Asia Tenggara, seperti Malaysia, Brunei Darussalam, dan Patani sampai hari ini.
Baca Juga: Samiri: Pencetus Spirit Doll dalam Sejarah Penyimpangan Akidah Manusia
(rhs)
Lihat Juga :