Pusara Syaikh Abdul Qadir Kedua Terpenting Setelah Makam Nabi Muhammad SAW
Minggu, 16 Januari 2022 - 15:02 WIB
loading...
A
A
A
Letaknya di pusat kota itu tentu saja sangat mendukung ziarah kubur pada wali ini. Ini jika dibandingkan dengan Ahmad al-Rifa'i, pendiri besar aliran sufi di Irak lainnya, yang jumlah pengunjungnya tidak sebanyak al-Jilani.
Kampung tempat al-Jilani dimakamkan dinamakan Bab al-Chaykh (pintu gerbang sang Syekh) sebagai penghormatan kepada wali ini, dan penduduk kampung itu, kaum Chayhiliyye, di mata masyarakat tampil sebagai penduduk asli Baghdad.
Baca juga: Konsep Puasa Syari’ah, Thariqah, dan Hakikat Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani
Orang Kurdi dari Irak Utara, yang menyebut wali ini sebagai Ghautsi Jailani (atau “penyelamat besar Jilani”) suka menggarisbawahi bahwa kampung itu juga dihuni oleh wakil etnis Kurdi.
Pada kenyataaannya, para Fuayliyah yang memang beretnis Kurdi itu merupakan golongan sosial yang miskin dan tidak lebih dari minoritas kecil di Bab al-Chaykh. Selain itu mereka beraliran Syiah dan oleh karena itu tidak begitu menyanjung-nyanjung sang syekh.
Kompleks makam terletak di lahan luas berbentuk segi empat yang dikelilingi oleh tembok berhiaskan lubang-lubang yang tingginya sekitar lima meter. Ada beberapa pintu masuk, salah satu di antaranya adalah gerbang utama.
Dua Mihrab
Ruangan makam Syekh Abdul Qadir berada di kiri gerbang utama dan di atasnya terdapat sebuah kubah dari tembikar berglasir warna biru. Ruangan itu berhubungan dengan sebuah zawiyah, tempat diadakan acara zikir oleh kelompok Qadiri dari berbagai daerah.
Sebuah masjid yang megah berdiri di sebelahnya. Masjid itu memiliki dua mihrab, karena ada dua imam, yang satu beraliran Hanafi, dan yang lain beraliran Syafii.
Menurut Geoffroy, imam-imam ini adalah pemuka agama di Kota Baghdad, dan para pengunjung dari luar sering berdesakan mendekati mereka sehabis salat untuk bersilaturahmi. Salah seorang dari kedua imam itu, Abd al-Karim al-Mudarris, adalah seorang ulama Kurdi yang pernah menjadi mufti besar Irak.
Di halaman makam terdapat sebuah menara jam dan sebuah kolam untuk berwudu, dua madrasah serta satu perpustakaan yang masih dikelola oleh pimpinan keluarga Jilani.
Kampung tempat al-Jilani dimakamkan dinamakan Bab al-Chaykh (pintu gerbang sang Syekh) sebagai penghormatan kepada wali ini, dan penduduk kampung itu, kaum Chayhiliyye, di mata masyarakat tampil sebagai penduduk asli Baghdad.
Baca juga: Konsep Puasa Syari’ah, Thariqah, dan Hakikat Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani
Orang Kurdi dari Irak Utara, yang menyebut wali ini sebagai Ghautsi Jailani (atau “penyelamat besar Jilani”) suka menggarisbawahi bahwa kampung itu juga dihuni oleh wakil etnis Kurdi.
Pada kenyataaannya, para Fuayliyah yang memang beretnis Kurdi itu merupakan golongan sosial yang miskin dan tidak lebih dari minoritas kecil di Bab al-Chaykh. Selain itu mereka beraliran Syiah dan oleh karena itu tidak begitu menyanjung-nyanjung sang syekh.
Kompleks makam terletak di lahan luas berbentuk segi empat yang dikelilingi oleh tembok berhiaskan lubang-lubang yang tingginya sekitar lima meter. Ada beberapa pintu masuk, salah satu di antaranya adalah gerbang utama.
Dua Mihrab
Ruangan makam Syekh Abdul Qadir berada di kiri gerbang utama dan di atasnya terdapat sebuah kubah dari tembikar berglasir warna biru. Ruangan itu berhubungan dengan sebuah zawiyah, tempat diadakan acara zikir oleh kelompok Qadiri dari berbagai daerah.
Sebuah masjid yang megah berdiri di sebelahnya. Masjid itu memiliki dua mihrab, karena ada dua imam, yang satu beraliran Hanafi, dan yang lain beraliran Syafii.
Menurut Geoffroy, imam-imam ini adalah pemuka agama di Kota Baghdad, dan para pengunjung dari luar sering berdesakan mendekati mereka sehabis salat untuk bersilaturahmi. Salah seorang dari kedua imam itu, Abd al-Karim al-Mudarris, adalah seorang ulama Kurdi yang pernah menjadi mufti besar Irak.
Di halaman makam terdapat sebuah menara jam dan sebuah kolam untuk berwudu, dua madrasah serta satu perpustakaan yang masih dikelola oleh pimpinan keluarga Jilani.
Lihat Juga :