Kisah Keturunan Nabi Ismail Terusir dari Mekkah dan Rusaknya Aqidah Pengelola Kakbah
Senin, 17 Januari 2022 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Seterusnya, keturunan Ismail hidup di tengah-tengah suku Jurhum. Suku inilah yang merawat Baitul Haram hingga kelak dikalahkan oleh Bani Haritsah bin Tsa'labah bin Amr bin Amir. Mereka adalah Bani Khuza'ah, menurut sebagian ahli sejarah.
Paganisme yang Mengakar
Dalam perjalanannya, mereka yang hidup di pusat penyembahan Allah yang Esa ini pelan tapi pasti meninggalkan agama tauhid yang dibawa Nabi Ibrahim. Mengapa ini bisa terjadi?
Muhammad Husain Haekal dalam "Sejarah Hidup Muhammad" menulis penjelasan soal itu masih merupakan dugaan-dugaan yang sudah dianggap sebagai suatu kenyataan.
Menurutnya, kaum Sabian yang menyembah bintang mempunyai pengaruh besar di tanah Arab. Pada mulanya mereka - menurut beberapa keterangan - tidak menyembah bintang itu sendiri, melainkan hanya menyembah Allah dan mereka mengagungkan bintang-bintang itu sebagai ciptaan dan manifestasi kebesaranNya.
Oleh karena lebih banyak yang tidak dapat memahami arti ketuhanan yang lebih tinggi, maka diartikannya bintang-bintang itu sebagai tuhan.
Baca juga: Kerja Iblis Sebelum Nabi Nuh, Merekayasa Orang Saleh Jadi Berhala
Beberapa macam batu gunung dikhayalkan sebagai benda yang jatuh dan langit, berasal dan beberapa macam bintang. Dari situ mula-mula manifestasi tuhan itu diartikan dan dikuduskan.
Kemudian batu-batu itu yang disembah. Penyembahan itu dianggap begitu agung, sehingga tidak cukup bagi orang Arab hanya menyembah hajar aswad (batu hitam) yang di dalam Kakbah.
Bahkan dalam setiap perjalanan ia mengambil batu apa saja dan Kakbah untuk disembah dan dimintai persetujuannya akan tinggal ataukah akan melakukan perjalanan.
Mereka melakukan cara-cara peribadatan yang berlaku bagi bintang-bintang atau bagi pencipta bintang-bintang itu. Dengan cara-cara demikian menjadi kuatlah kepercayaan paganisma itu.
Patung-patung dikuduskan dan dibawanya sesajen-sesajen untuk itu sebagai kurban.
Haekal menjelaskan ini adalah suatu gambaran tentang perkembangan agama itu di tanah Arab sejak Nabi Ibrahim membangun Kakbah sebagai tempat beribadat kepada Tuhan, sebagaimana dilukiskan oleh beberapa ahli sejarah dan bagaimana pula hal itu kemudian berbalik dan menjadi pusat berhala.
Paganisme yang Mengakar
Dalam perjalanannya, mereka yang hidup di pusat penyembahan Allah yang Esa ini pelan tapi pasti meninggalkan agama tauhid yang dibawa Nabi Ibrahim. Mengapa ini bisa terjadi?
Muhammad Husain Haekal dalam "Sejarah Hidup Muhammad" menulis penjelasan soal itu masih merupakan dugaan-dugaan yang sudah dianggap sebagai suatu kenyataan.
Menurutnya, kaum Sabian yang menyembah bintang mempunyai pengaruh besar di tanah Arab. Pada mulanya mereka - menurut beberapa keterangan - tidak menyembah bintang itu sendiri, melainkan hanya menyembah Allah dan mereka mengagungkan bintang-bintang itu sebagai ciptaan dan manifestasi kebesaranNya.
Oleh karena lebih banyak yang tidak dapat memahami arti ketuhanan yang lebih tinggi, maka diartikannya bintang-bintang itu sebagai tuhan.
Baca juga: Kerja Iblis Sebelum Nabi Nuh, Merekayasa Orang Saleh Jadi Berhala
Beberapa macam batu gunung dikhayalkan sebagai benda yang jatuh dan langit, berasal dan beberapa macam bintang. Dari situ mula-mula manifestasi tuhan itu diartikan dan dikuduskan.
Kemudian batu-batu itu yang disembah. Penyembahan itu dianggap begitu agung, sehingga tidak cukup bagi orang Arab hanya menyembah hajar aswad (batu hitam) yang di dalam Kakbah.
Bahkan dalam setiap perjalanan ia mengambil batu apa saja dan Kakbah untuk disembah dan dimintai persetujuannya akan tinggal ataukah akan melakukan perjalanan.
Mereka melakukan cara-cara peribadatan yang berlaku bagi bintang-bintang atau bagi pencipta bintang-bintang itu. Dengan cara-cara demikian menjadi kuatlah kepercayaan paganisma itu.
Patung-patung dikuduskan dan dibawanya sesajen-sesajen untuk itu sebagai kurban.
Haekal menjelaskan ini adalah suatu gambaran tentang perkembangan agama itu di tanah Arab sejak Nabi Ibrahim membangun Kakbah sebagai tempat beribadat kepada Tuhan, sebagaimana dilukiskan oleh beberapa ahli sejarah dan bagaimana pula hal itu kemudian berbalik dan menjadi pusat berhala.
Lihat Juga :