Ini yang Dilakukan Kaum Sufi Saat Ziarah di Makam Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani
Selasa, 18 Januari 2022 - 10:53 WIB
loading...
A
A
A
Orang Kurdi dari Irak Utara, yang menyebut wali ini sebagai Ghautsi Jailani (atau “penyelamat besar Jilani”) suka menggarisbawahi bahwa kampung itu juga dihuni oleh wakil etnis Kurdi.
Kompleks makam terletak di lahan luas berbentuk segi empat yang dikelilingi oleh tembok berhiaskan lubang-lubang yang tingginya sekitar lima meter. Ada beberapa pintu masuk, salah satu di antaranya adalah gerbang utama.
Pembawa Paham Hambali
Abdul Qadir adalah ulama fiqih yang sangat dihormati oleh Sunni dan dianggap wali dalam dunia tarekat dan sufisme. Ia adalah orang Kurdi atau orang Persia.
Syaikh Abdul Qadir dianggap wali dan diadakan di penghormatan besar oleh kaum Muslim dari anak benua India. Di antara pengikut di Pakistan dan India, ia juga dikenal sebagai Ghaus-e-Azam. Beliau dikenali sebagai seorang ulama Sunni bermazhab Hambali, seorang orator ulung dan bergelar sayyid dan faqīh, dikenal luas sebagai pendiri dari Thoriqot Qadiriyyah.
Nama besar Syaikh Abdul Qadir al-Jilani mulai melejit di Baghdad pada tahun 521 H/1127 M, saat usianya 50 tahun. Beliau dikenal sebagai ahli hukum bukan sebagai ahli tasawuf atau pun seorang sufi .
John Spencer Trimingham (17 November 1904 – 6 March 1987) dalam bukunya berjudul "The Sufi Orders in Islam" menyebut ajaran al-Jilani membawa pengaruh besar terhadap masyarakat luas. Banyak kalangan Kristen dan Yahudi yang masuk Islam karena dakwah dan ajarannya. Disebutkan bahwa para simpatisan yang hadir dalam majelisnya tiap ia mengajar mencapai 70.000 orang.
Jika mengajar, al-Jilani duduk di kursi yang tinggi. Beliau mesti berbicara lantang dan keras agar semua muridnya yang banyak itu bisa mendengar suaranya.
Baca juga: Kisah Sufi Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani: Orang yang Waktunya Keliru
Abul Husein Ali Husni Nadwi dalam Kitab Rijal al-Fikri wa’l-Da’wah fi’l-Islam mengutip Syaikh Umar al-Kaisani mengatakan, bahwa majelis pengajian al-Jilani dipenuhi oleh orang-orang Islam dari mualaf kalangan Kristen dan Yahudi, bekas para perampok, pembunuh dan para penjahat.
Dia menyebutkan bahwa al-Jilani telah mengislamkan orang-orang Yahudi dan Nasrani lebih dari 5000 orang dan menundukkan (menyadarkan) lebih 100.000 orang dari kalangan penjahat.
Hanya saja, Imam Adz-Dzahabi menyebutkan dalam kitabnya Siyar A'lamin Nubala, dan menukilkan perkataan Syaikh sebagai berikut, ”Lebih dari lima ratus (bukan 5.000) orang masuk Islam lewat tanganku, dan lebih dari seratus ribu orang telah bertaubat.”
Al-Nadwi juga menulis aktivitas keseharian al-Jilani hampir tidak mengenal istirahat. Di siang dan malam hari ia selalu mengadakan pengajian. Materi yang disampaikan meliputi, tafsir, hadis, ushu fiqh dan ilmu lain yang berkaitan dengannya.
Seusai salat zuhur ia memberikan fatwa yang berkaitan dengan masalah-masalah hukum. Di sore hari sebelum salat maghrib, beliau membagi-bagikan roti kepada fakir miskin. Sesudah sholat maghrib selalu makan malam, karena ia berpuasa sepanjang tahun.
Sebelum berbuka beliau menjamu makan malam tetangganya. Sesudah sholat isya’ berliau beristirahat sejenak di kamarnya sebagaimana layaknya tradisi para wali.
Kompleks makam terletak di lahan luas berbentuk segi empat yang dikelilingi oleh tembok berhiaskan lubang-lubang yang tingginya sekitar lima meter. Ada beberapa pintu masuk, salah satu di antaranya adalah gerbang utama.
Pembawa Paham Hambali
Abdul Qadir adalah ulama fiqih yang sangat dihormati oleh Sunni dan dianggap wali dalam dunia tarekat dan sufisme. Ia adalah orang Kurdi atau orang Persia.
Syaikh Abdul Qadir dianggap wali dan diadakan di penghormatan besar oleh kaum Muslim dari anak benua India. Di antara pengikut di Pakistan dan India, ia juga dikenal sebagai Ghaus-e-Azam. Beliau dikenali sebagai seorang ulama Sunni bermazhab Hambali, seorang orator ulung dan bergelar sayyid dan faqīh, dikenal luas sebagai pendiri dari Thoriqot Qadiriyyah.
Nama besar Syaikh Abdul Qadir al-Jilani mulai melejit di Baghdad pada tahun 521 H/1127 M, saat usianya 50 tahun. Beliau dikenal sebagai ahli hukum bukan sebagai ahli tasawuf atau pun seorang sufi .
John Spencer Trimingham (17 November 1904 – 6 March 1987) dalam bukunya berjudul "The Sufi Orders in Islam" menyebut ajaran al-Jilani membawa pengaruh besar terhadap masyarakat luas. Banyak kalangan Kristen dan Yahudi yang masuk Islam karena dakwah dan ajarannya. Disebutkan bahwa para simpatisan yang hadir dalam majelisnya tiap ia mengajar mencapai 70.000 orang.
Jika mengajar, al-Jilani duduk di kursi yang tinggi. Beliau mesti berbicara lantang dan keras agar semua muridnya yang banyak itu bisa mendengar suaranya.
Baca juga: Kisah Sufi Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani: Orang yang Waktunya Keliru
Abul Husein Ali Husni Nadwi dalam Kitab Rijal al-Fikri wa’l-Da’wah fi’l-Islam mengutip Syaikh Umar al-Kaisani mengatakan, bahwa majelis pengajian al-Jilani dipenuhi oleh orang-orang Islam dari mualaf kalangan Kristen dan Yahudi, bekas para perampok, pembunuh dan para penjahat.
Dia menyebutkan bahwa al-Jilani telah mengislamkan orang-orang Yahudi dan Nasrani lebih dari 5000 orang dan menundukkan (menyadarkan) lebih 100.000 orang dari kalangan penjahat.
Hanya saja, Imam Adz-Dzahabi menyebutkan dalam kitabnya Siyar A'lamin Nubala, dan menukilkan perkataan Syaikh sebagai berikut, ”Lebih dari lima ratus (bukan 5.000) orang masuk Islam lewat tanganku, dan lebih dari seratus ribu orang telah bertaubat.”
Al-Nadwi juga menulis aktivitas keseharian al-Jilani hampir tidak mengenal istirahat. Di siang dan malam hari ia selalu mengadakan pengajian. Materi yang disampaikan meliputi, tafsir, hadis, ushu fiqh dan ilmu lain yang berkaitan dengannya.
Seusai salat zuhur ia memberikan fatwa yang berkaitan dengan masalah-masalah hukum. Di sore hari sebelum salat maghrib, beliau membagi-bagikan roti kepada fakir miskin. Sesudah sholat maghrib selalu makan malam, karena ia berpuasa sepanjang tahun.
Sebelum berbuka beliau menjamu makan malam tetangganya. Sesudah sholat isya’ berliau beristirahat sejenak di kamarnya sebagaimana layaknya tradisi para wali.
Lihat Juga :