Ini yang Dilakukan Kaum Sufi Saat Ziarah di Makam Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani
Selasa, 18 Januari 2022 - 10:53 WIB
loading...
A
A
A
Ia mencurahkan waktu siang harinya untuk mengabdi pada umat manusia, sementara di malam harinya untuk mengabdi pada penciptanya.
Imam al- Isybili berkomentar, bahwa al-Jilani figur yang berwibawa, cepat menangis karena ingat Allah dalam berzikir, lembut hati, dermawan, dalam ilmunya, serta luhur budinya.
Demikian pula al-Baghdadi menyanjungnya dengan menyebutnya, bahwa ia jauh dari perbuatan keji (fakhsya’ wa munkar), dekat dengan kebenaran serta dekat kapada Allah SWT.
Al-Jilani pernah mengatakan, bahwa amal yang paling utama adalah memberi makan kepada orang miskin, dan paling mulia adalah berbudi luhur.
Selanjutnya ia mengatakan, seandainya dunia ini menjadi miliknya, maka akan diberikan kepada yang lapar. Dan disebutkan dalam “Qalaid al-Jawahir”, bahwa setiap malam ia menyuruh membentangkan tikar untuk makan bersama-sama tamu dan bergaul bersama kaum lemah.
Baca juga: Konsep Haji Syari’ah dan Thariqah Menurut Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani
Mawar dari Baghdad
Idries Shah dalam bukunya berjudul The Way of the Sufi dan diterjemahkan Joko S. Kahhar dan Ita Masyitha menjadi "Jalan Sufi: Reportase Dunia Ma'rifat" menyebutkan Hadrat Syaikh Abdul Qadir termasuk dalam suatu peristiwa yang memberinya julukan Mawar dari Baghdad.
Hal itu dikaitkan bahwa Baghdad telah demikian penuh dengan para guru kebatinan (mistik), ketika Abdul Qadir tiba di kota, maka diputuskan untuk mengiriminya sebuah pesan.
Kaum mistik oleh karena itu mengirimkan kepadanya, di pinggiran kota, sebuah bejana yang diisi penuh dengan air. Maksudnya sudah jelas: "Cawan Baghdad sudah penuh".
Semua kaum darwis menggunakan bunga mawar (ward) sebagai suatu lencana dan simbol dari persamaan bunyi (rima) dari kata wird (latihan konsentrasi-mengingat Allah).
Meski musim kemarau dan di luar musim, Abdul Qadir telah menghasilkan bunga mawar yang berkembang penuh, yang dia letakkan di atas air dalam bejana tersebut, menunjukkan kekuatannya yang luar biasa dan juga bahwa masih ada tempat bagi dirinya.
Ketika tanda-tanda ini telah dibawa kepada mereka, kumpulan kaum kebatinan tersebut berteriak, "Abdul Qadir adalah mawar kami," dan mereka pun cepat-cepat mengantarkannya ke kota.
Baca juga: Konsep Puasa Syari’ah, Thariqah, dan Hakikat Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani
Imam al- Isybili berkomentar, bahwa al-Jilani figur yang berwibawa, cepat menangis karena ingat Allah dalam berzikir, lembut hati, dermawan, dalam ilmunya, serta luhur budinya.
Demikian pula al-Baghdadi menyanjungnya dengan menyebutnya, bahwa ia jauh dari perbuatan keji (fakhsya’ wa munkar), dekat dengan kebenaran serta dekat kapada Allah SWT.
Al-Jilani pernah mengatakan, bahwa amal yang paling utama adalah memberi makan kepada orang miskin, dan paling mulia adalah berbudi luhur.
Selanjutnya ia mengatakan, seandainya dunia ini menjadi miliknya, maka akan diberikan kepada yang lapar. Dan disebutkan dalam “Qalaid al-Jawahir”, bahwa setiap malam ia menyuruh membentangkan tikar untuk makan bersama-sama tamu dan bergaul bersama kaum lemah.
Baca juga: Konsep Haji Syari’ah dan Thariqah Menurut Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani
Mawar dari Baghdad
Idries Shah dalam bukunya berjudul The Way of the Sufi dan diterjemahkan Joko S. Kahhar dan Ita Masyitha menjadi "Jalan Sufi: Reportase Dunia Ma'rifat" menyebutkan Hadrat Syaikh Abdul Qadir termasuk dalam suatu peristiwa yang memberinya julukan Mawar dari Baghdad.
Hal itu dikaitkan bahwa Baghdad telah demikian penuh dengan para guru kebatinan (mistik), ketika Abdul Qadir tiba di kota, maka diputuskan untuk mengiriminya sebuah pesan.
Kaum mistik oleh karena itu mengirimkan kepadanya, di pinggiran kota, sebuah bejana yang diisi penuh dengan air. Maksudnya sudah jelas: "Cawan Baghdad sudah penuh".
Semua kaum darwis menggunakan bunga mawar (ward) sebagai suatu lencana dan simbol dari persamaan bunyi (rima) dari kata wird (latihan konsentrasi-mengingat Allah).
Meski musim kemarau dan di luar musim, Abdul Qadir telah menghasilkan bunga mawar yang berkembang penuh, yang dia letakkan di atas air dalam bejana tersebut, menunjukkan kekuatannya yang luar biasa dan juga bahwa masih ada tempat bagi dirinya.
Ketika tanda-tanda ini telah dibawa kepada mereka, kumpulan kaum kebatinan tersebut berteriak, "Abdul Qadir adalah mawar kami," dan mereka pun cepat-cepat mengantarkannya ke kota.
Baca juga: Konsep Puasa Syari’ah, Thariqah, dan Hakikat Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani
(mhy)
Lihat Juga :