Uniknya Wanita, Muslimah Salehah atau Bidadari Surga?
Sabtu, 22 Januari 2022 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Allah Ta'ala berfirman:
“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 159)
Baca juga: Suami-Istri Ibarat Pakaian, Ini Penjelasannya Menurut Al-Qur'an dan Hadis Nabi
Benar, seorang suami adalah kepala rumah tangga, pemimpin bagi istri dan anak-anaknya. Tapi bukan berarti kediktatoran menjadi pilihannya. Pemimpin yang bijak adalah pemimpin yang mengerti keadaan rakyatnya, mendengarkan keluhannya, memperhatikan kondisi mereka dan melindunginya dari segala keburukan yang mengancam.
Allah Ta'ala berfirman:
“Dan bergaulah dengan mereka (istri-istri) menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya.” (QS. an-Nisa’: 19)
Hendaklah seorang suami menjadi pemimpin bijak yang dicintai anggota keluarganya. Ia harus paham, seorang istri adalah wanita yang diciptakan dari tulang rusuk yang paling bengkok. Bersikap Adil dan Perhatian Bersikaplah yang adil, lembut, penyabar dan perhatian kepadanya. Janganlah dipaksakan karakternya, selama itu baik dan tidak keluar dari rambu-rambu agama, biarkanlah karakter itu menjadi identitasnya. Seorang suami cukup memoles dan mengarahkannya sesuaituntunan syariat, dengan cara yang baik dan penuh kelembutan.
Sebuah hadis mengatakan:
“Hendaklah kalian saling menasihati kepada para wanita (istri) dengan kebaikan, karena sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk, dan tulang rusuk yang paling bengkok ialah yang paling atas. Apabila engkau memaksa untuk meluruskannya, maka ia akan patah, dan jika engkau biarkan apa adanya, ia akan tetap bengkok. Karena itu hendaklah kalian saling menasihati kepada para wanita (istri) dengan kebaikan.” (HR. Bukhari)
Selain itu, seorang suami juga harus paham, bahwa tabiat seorang istri diciptakan memiliki akal dan agama yang kurang sempurna. Sehingga ia pun harus bijak, sabar dan pengertian dalam menyikapi kekurangan ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“’Tidaklah aku melihat orang-orang yang memiliki kekurangan akal dan agama, yang mampu mengalahkan orang yang akalnya sempurna (seorang laki-laki ) daripada kalian (para wanita -penj)?’ Salah seorang sahabat dari kalangan wanita berkata, ‘Wahai Rasulullah! Apa yang dimaksud kekurangan akal dan agama?’ Nabi bersabda, ‘Adapun maksud kurang akalnya karena persaksian dua wanita setara dengan persaksian seorang laki-laki, dan ia (seorang wanita) akan berdiam diri beberapa malam tanpa mengerjakan shalat dan tidak berpuasa Ramadhan, dan ini yang dimaksud kurang agamanya.” (HR. Muslim)
Kurang akal di sini bukan berarti sejak awal wanita itu diciptakan lebih bodoh dibanding laki-laki, daya intelektualnya lebih lemah dan tingkat kecerdasannya lebih rendah. Tapi karena adanya faktor-faktor lain, daya pikirnya menjadi tidak tereksploitasi secara sempurna.
Bukankah sejarah mencatat, sebagian sahabat Nabi dari kalangan wanita, mereka dikenal kecerdasan dan kefakihannya? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat yang lain pun mengakui hal ini.
Menurut Syaikh Asy-Sya’rawi, yang mengatur hawa nafsu dan perasaan adalah akal, tapi porsi perasaan dalam diri seorang wanita lebih besar, sehingga akalnya berkurang. Karena itu, seorang wanita kuasa menahan lelahnya mengandung, sakitnya proses persalinan dan beratnya begadang malam demi menjaga sang buah hatinya. Adapun kurang agamanya, karena wanita ketika dalam kondisi haid atau nifas, ia harus meninggalkan shalat dan puasa serta tidak mengqadha shalatnya.
وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ
“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 159)
Baca juga: Suami-Istri Ibarat Pakaian, Ini Penjelasannya Menurut Al-Qur'an dan Hadis Nabi
Benar, seorang suami adalah kepala rumah tangga, pemimpin bagi istri dan anak-anaknya. Tapi bukan berarti kediktatoran menjadi pilihannya. Pemimpin yang bijak adalah pemimpin yang mengerti keadaan rakyatnya, mendengarkan keluhannya, memperhatikan kondisi mereka dan melindunginya dari segala keburukan yang mengancam.
Allah Ta'ala berfirman:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
“Dan bergaulah dengan mereka (istri-istri) menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya.” (QS. an-Nisa’: 19)
Hendaklah seorang suami menjadi pemimpin bijak yang dicintai anggota keluarganya. Ia harus paham, seorang istri adalah wanita yang diciptakan dari tulang rusuk yang paling bengkok. Bersikap Adil dan Perhatian Bersikaplah yang adil, lembut, penyabar dan perhatian kepadanya. Janganlah dipaksakan karakternya, selama itu baik dan tidak keluar dari rambu-rambu agama, biarkanlah karakter itu menjadi identitasnya. Seorang suami cukup memoles dan mengarahkannya sesuaituntunan syariat, dengan cara yang baik dan penuh kelembutan.
Sebuah hadis mengatakan:
اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلَاهُ فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ
“Hendaklah kalian saling menasihati kepada para wanita (istri) dengan kebaikan, karena sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk, dan tulang rusuk yang paling bengkok ialah yang paling atas. Apabila engkau memaksa untuk meluruskannya, maka ia akan patah, dan jika engkau biarkan apa adanya, ia akan tetap bengkok. Karena itu hendaklah kalian saling menasihati kepada para wanita (istri) dengan kebaikan.” (HR. Bukhari)
Selain itu, seorang suami juga harus paham, bahwa tabiat seorang istri diciptakan memiliki akal dan agama yang kurang sempurna. Sehingga ia pun harus bijak, sabar dan pengertian dalam menyikapi kekurangan ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
وَمَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَغْلَبَ لِذِي لُبٍّ مِنْكُنَّ. قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا نُقْصَانُ الْعَقْلِ وَالدِّينِ؟ قَالَ: أَمَّا نُقْصَانُ الْعَقْلِ فَشَهَادَةُ امْرَأَتَيْنِ تَعْدِلُ شَهَادَةَ رَجُلٍ فَهَذَا نُقْصَانُ الْعَقْلِ، وَتَمْكُثُ اللَّيَالِي مَا تُصَلِّي وَتُفْطِرُ فِي رَمَضَانَ فَهَذَا نُقْصَانُ الدِّينِ
“’Tidaklah aku melihat orang-orang yang memiliki kekurangan akal dan agama, yang mampu mengalahkan orang yang akalnya sempurna (seorang laki-laki ) daripada kalian (para wanita -penj)?’ Salah seorang sahabat dari kalangan wanita berkata, ‘Wahai Rasulullah! Apa yang dimaksud kekurangan akal dan agama?’ Nabi bersabda, ‘Adapun maksud kurang akalnya karena persaksian dua wanita setara dengan persaksian seorang laki-laki, dan ia (seorang wanita) akan berdiam diri beberapa malam tanpa mengerjakan shalat dan tidak berpuasa Ramadhan, dan ini yang dimaksud kurang agamanya.” (HR. Muslim)
Kurang akal di sini bukan berarti sejak awal wanita itu diciptakan lebih bodoh dibanding laki-laki, daya intelektualnya lebih lemah dan tingkat kecerdasannya lebih rendah. Tapi karena adanya faktor-faktor lain, daya pikirnya menjadi tidak tereksploitasi secara sempurna.
Bukankah sejarah mencatat, sebagian sahabat Nabi dari kalangan wanita, mereka dikenal kecerdasan dan kefakihannya? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat yang lain pun mengakui hal ini.
Menurut Syaikh Asy-Sya’rawi, yang mengatur hawa nafsu dan perasaan adalah akal, tapi porsi perasaan dalam diri seorang wanita lebih besar, sehingga akalnya berkurang. Karena itu, seorang wanita kuasa menahan lelahnya mengandung, sakitnya proses persalinan dan beratnya begadang malam demi menjaga sang buah hatinya. Adapun kurang agamanya, karena wanita ketika dalam kondisi haid atau nifas, ia harus meninggalkan shalat dan puasa serta tidak mengqadha shalatnya.
Lihat Juga :