Leluhur Nabi Muhammad SAW Pimpinan Para Saudagar yang Tak Terlalu Tajir

Selasa, 25 Januari 2022 - 09:21 WIB
loading...
Leluhur Nabi Muhammad...
Mekkah menjadi negeri para pedagang berkat perjuangan leluhur Rasulullah SAW. (Foto/Ilustrasi: arabamerica.com)
A A A
Para leluhur Nabi Muhammad SAW , seperti Hasyim dan Abdul Muthalib , adalah pemimpin kafilah dagang kaum Quraish . Hanya saja, mereka bukanlan taipan yang berlimpah harta. "Klan Hasyim dikenal sebagai pedagang yang dermawan dan cenderung pada perdamaian," tutur Quraish Shihab dalam bukunya berjudul "Membaca Sirah Nabi Muhammad, Dalam Sorotan Al-Quran dan Hadis-Hadis Shahih".

Baca juga: Ketika Mekkah Jadi Negeri Para Pedagang, Begini Peran Penting Leluhur Nabi Muhammad SAW

Dr Jawwad Ali dalam bukunya berjudul "Sejarah Arab Sebelum Islam" juga menjelaskan secara umum, anak-anak Abdul Muthalib, memang tidak kaya raya seperti halnya para pedagang Mekkah dan tokok-tokoh tenar Quraisy lainnya. "Namun, mereka hidup berkecukupan (kelas menengah), kaya hati, serta menjadikan Qushay dan Hasyim sebagai teladan," tuturnya.

Seperti yang lainnya, Abdullah (Ayah Rasulullah SAW) juga keluar dari Mekkah untuk memimpin kafilah dagang. Dalam perjalanan pulang dari Gaza menuju Mekkah, beliau menderita sakit di Madinah hingga akhirnya menghebuskan nafas terakhirnya di sana.

Ayah Nabi meninggal dunia tanpa meninggalkan harta yang berlimpah kepada keluarganya. Tapi, dari generasi ke generasi klan Bani Hasyim menjadi pemimpin dan tokoh yang dihormati di tengah-tengah kaumnya.

Kafilah Besar
Leluhur Nabi Muhammad SAW telah membawa kaum Quraisy disegani di antara suku-suku di Semenanjung Arabia karena sukses dalam perdagangan. Untuk menggambarkan begitu hebatnya perdagangan kaum Quraisy bisa dilihat dari besarnya rombongan kafilah dagang Mekkah yang pernah dicegat oleh kaum Muslim Madinah, tak lama setelah Nabi menetap di sana, yang memicu terjadinya Perang Badar pada 16 Maret 624.

Philip K Hitti dalam bukunya berjudul "History of the Arabs" mencatat kafilah itu terdiri dari sekitar 1.000 ekor unta yang penuh muatan, dengan nilai barang dagangan sebesar 50.000 dinar, serta sekitar 300 orang yang ikut pada misi dagang tersebut.

Menurut Quraish Shihab, masyarakat Arab sebelum Islam telah menggunakan dua jenis mata uang asing, yakni dinar dan dirham. Satu Dinar Byzantium seberat 4,55 gram, sedangkan dirham adalah tujuh per sepuluh dinar.

Jika 1 dinar emas Bizantium, setara dengan 4,55 gram, maka 50.000 dinar (dengan konversi 1 gram emas Rp769.000), maka nilai barang dagangan karavan tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp175 miliar.

Baca juga: Begini Leluhur Nabi Muhammad SAW Mengelola Kakbah, Makan Gratis bagi Jamaah Haji

Karakteristik penting lain dari kegiatan ekonomi Mekkah ini adalah kehadiran sektor layanan pendukung dalam pemeliharaan karavan perdagangan: portir, pemandu, pengendara unta, gembala, pelayan, dan penghibur. Dan, yang terpenting adalah penjaga atau pengawal keamanan.

Akram Dhiya’ Al-Umuri dalam "Seleksi Sirah Nabawiyah, Studi Kritis Muhadditsin terhadap Riwayat Dhaif" menjelaskan suku Kinanah yang tinggal di dekat Mekkah, menjadi sekutu utama suku Quraisy dalam pengawalan ini.

Merekalah yang bertugas menjaga keamanan rombongan kafilah Mekkah. Saudagar Quraisy memberi upah atau gaji tertentu kepada mereka, dan para pemimpin mereka ikut memiliki andil dalam usaha perdagangan mereka.

Syair dan Puisi
Rombongan karavan dagang besar ini telah memberikan banyak penghasilan kepada penduduk Mekkah. Perkembangan perdagangan itu memastikan banyak orang di kota Mekkah senantiasa hidup dalam kemakmuran. Biasanya, dengan kekayaan akan mendatangkan gaya hidup perlente. Mereka memiliki rumah-rumah mewah dan hidup yang bermegah-megah.

Seperti halnya Abdullah bin Jadan al-Timi, menurut Quraish Shihab, dia minum dari gelas yang terbuat dari emas. Kekayaan yang dinikmati sejumlah elit Mekkah menciptakan suatu pola hidup masyarakat yang menjadikan mereka lebih banyak meluangkan waktu untuk menikmati syair dan puisi.

Dinamika pedagang Mekkah mulai mempengaruhi struktur sosial ketika serangkaian hubungan sosial yang lebih kompleks berdasarkan kepemilikan modal pedagang mulai muncul.

Baca juga: Mekkah Tidak Dikenal dalam Manuskrip Pra-Islam, Begini Penjelasannya

Pedagang kaya, secara bertahap membentuk kelompok dengan kepentingan bersama sebagai pemilik modal, akhirnya membentuk strata teratas masyarakat.

Status sosial terendah adalah budak dan keturunan mereka, baik yang berasal dari Arab maupun non-Arab. Akhirnya, secara sosial masyarakat Mekkah terpolarisasi menjadi kaya dan miskin.

Kendati demikian, menurut Quraish Shihab, berbeda dengan sejumlah pengusaha yang berupaya memonopoli aktivitas perdagangan di Mekkah, klan Hasyim dikenal sebagai pedagang yang dermawan dan cenderung pada perdamaian.

Dikisahkan, ketika satu keluarga Bani Makhzum mengalami kesulitan pangan, Hasyim, kakek Nabi Muhammad SAW, menyampaikan kepada suku Quraisy untuk bergotong-royong saling membantu. Yang belakangan melahirkan konsep kerjasama kemitraan dagang, di mana keuntungan dari perjalanan dagang dibagi rata antara si kaya dan miskin.

Baca juga: Doa Nabi Ibrahim dan Begini Gambaran Mekkah Pra-Islam
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Menelusuri Jejak Kehidupan...
Menelusuri Jejak Kehidupan Rasulullah di Museum Biografi Nabi Muhammad di Makkah
Menjadikan Rasulullah...
Menjadikan Rasulullah SAW sebagai Kiblat Ekonomi Umat
Jejak Sejarah Ibadah...
Jejak Sejarah Ibadah Umrah Rasulullah SAW, Hanya 4 Kali Seumur Hidup
Diplomasi Perang ala...
Diplomasi Perang ala Rasulullah SAW: Strategi Cerdas di Balik Kemenangan
Kumpulan Kisah Nabi...
Kumpulan Kisah Nabi SAW di Bulan Ramadan, Dari Terima Wahyu Al Quran hingga Perintah Segerakan Berbuka Puasa
Kisah Hikmah : Berhala...
Kisah Hikmah : Berhala Bisa Bicara dan Menyampaikan Kebenaran Nabi Muhammad SAW
Rekomendasi
Banjir Terbesar dalam...
Banjir Terbesar dalam Sejarah Dunia Diklaim Ciptakan Laut Mediterania
Mengapa Laut Mediterania...
Mengapa Laut Mediterania dan Samudra Atlantik Tidak Menyatu? Ini Penjelasan Lengkapnya
Jantung Mumi Berusia...
Jantung Mumi Berusia 2.500 Tahun Ini Masih Berdenyut, Ilmuwan Ungkap Keganjilan Ini
Artikel Terkini
Di Dua Waktu Istimewa...
Di Dua Waktu Istimewa Ini, Malaikat Pengawas Saling Bertemu
Kisah Nabi Daud Bertobat...
Kisah Nabi Daud Bertobat 40 Hari 40 Malam, Diampuni Allah pada 10 Muharram
Puasa Tasua, Keutamaan...
Puasa Tasua, Keutamaan dan Jadwal Pelaksanaannya
Asal-usul Puasa Asyura...
Asal-usul Puasa Asyura dan Tasua, Benarkah Berasal dari Tradisi Yahudi?
Rahasia Keutamaan Puasa...
Rahasia Keutamaan Puasa Asyura, Ibadah Sunnah yang Sangat Dianjurkan Rasulullah SAW
Khotbah Jumat Pertama...
Khotbah Jumat Pertama Muharram : Ada Apa dengan Hari Asyura?
Infografis
Ilmuwan Temukan Lubang...
Ilmuwan Temukan Lubang Hitam Tak Aktif yang Langka
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved