Kisah Abdullah Ayah Rasulullah SAW yang akan Disembelih di Antara Berhala Isaf dan Na'ila
Senin, 31 Januari 2022 - 09:09 WIB
loading...
A
A
A
Tetapi saat itu juga orang-orang Quraisy serentak sepakat melarangnya. Mereka meminta Abdul Muthalib membatalkan penyembelihan itu dengan cara memohon ampun kepada Hubal.
Sekalipun mereka mendesak, namun Abdul Muthalib masih ragu-ragu juga. Ditanyakannya kepada mereka apa yang harus diperbuat supaya sang berhala itu berkenan. Mughira bin Abdullah dari suku Makhzum berkata: "Kalau penebusannya dapat dilakukan dengan harta kita, kita tebuslah."
Setelah antara mereka diadakan perundingan, mereka sepakat akan pergi menemui seorang dukun di Jathrib (kini Madinah) yang sudah biasa memberikan pendapat dalam hal semacam ini. Dalam pertemuan mereka dengan dukun wanita itu kepada mereka dimintanya supaya menangguhkan sampai besok.
"Berapa tebusan yang ada pada kalian?" tanya sang dukun.
"Sepuluh ekor unta."
"Kembalilah ke negeri kamu sekalian," kata dukun itu. "Sediakanlah tebusan sepuluh ekor unta. Kemudian keduanya itu diundi dengan anak panah. Kalau yang keluar itu atas nama anak kamu, ditambahlah jumlah unta itu sampai dewa berkenan."
Merekapun menyetujui. Namun, setelah saran itu dilakukan ternyata anak panah yang keluar atas nama Abdullah juga. Ditambahnya jumlah unta itu sampai mencapai jumlah seratus ekor. Ketika itulah anak panah keluar atas nama unta itu.
Sementara itu orang-orang Quraisy berkata kepada Abdul Muthalib: "Tuhan sudah berkenan."
"Tidak," kata Abdul Muthalib. "Harus kulakukan sampai tiga kali." Maka sampai tiga kali dikocok anak panah itupun tetap keluar atas nama unta itu juga. Barulah Abdul Muthalib merasa puas setelah ternyata sang dewa berkenan. Disembelihnya unta itu dan dibiarkannya begitu tanpa dijamah manusia atau binatang.
Baca juga: Hamzah bin Abdul Muthalib: Ketika Singa Allah Ditikam Lembing Wahsyi bin Harb
Nazar dalam Islam
Haekal menjelaskan, kisah itu telah banyak digambarkan dalam buku-buku biografi. Digambarkannya beberapa macam adat-istiadat orang Arab,
kepercayaan serta cara-cara mereka melakukan upacara kepercayaan itu.
Sekalipun mereka mendesak, namun Abdul Muthalib masih ragu-ragu juga. Ditanyakannya kepada mereka apa yang harus diperbuat supaya sang berhala itu berkenan. Mughira bin Abdullah dari suku Makhzum berkata: "Kalau penebusannya dapat dilakukan dengan harta kita, kita tebuslah."
Setelah antara mereka diadakan perundingan, mereka sepakat akan pergi menemui seorang dukun di Jathrib (kini Madinah) yang sudah biasa memberikan pendapat dalam hal semacam ini. Dalam pertemuan mereka dengan dukun wanita itu kepada mereka dimintanya supaya menangguhkan sampai besok.
"Berapa tebusan yang ada pada kalian?" tanya sang dukun.
"Sepuluh ekor unta."
"Kembalilah ke negeri kamu sekalian," kata dukun itu. "Sediakanlah tebusan sepuluh ekor unta. Kemudian keduanya itu diundi dengan anak panah. Kalau yang keluar itu atas nama anak kamu, ditambahlah jumlah unta itu sampai dewa berkenan."
Merekapun menyetujui. Namun, setelah saran itu dilakukan ternyata anak panah yang keluar atas nama Abdullah juga. Ditambahnya jumlah unta itu sampai mencapai jumlah seratus ekor. Ketika itulah anak panah keluar atas nama unta itu.
Sementara itu orang-orang Quraisy berkata kepada Abdul Muthalib: "Tuhan sudah berkenan."
"Tidak," kata Abdul Muthalib. "Harus kulakukan sampai tiga kali." Maka sampai tiga kali dikocok anak panah itupun tetap keluar atas nama unta itu juga. Barulah Abdul Muthalib merasa puas setelah ternyata sang dewa berkenan. Disembelihnya unta itu dan dibiarkannya begitu tanpa dijamah manusia atau binatang.
Baca juga: Hamzah bin Abdul Muthalib: Ketika Singa Allah Ditikam Lembing Wahsyi bin Harb
Nazar dalam Islam
Haekal menjelaskan, kisah itu telah banyak digambarkan dalam buku-buku biografi. Digambarkannya beberapa macam adat-istiadat orang Arab,
kepercayaan serta cara-cara mereka melakukan upacara kepercayaan itu.
Lihat Juga :