Surat Yasin Ayat 74-75: Kaum Musyrik dan Ketika Berhala Jadi Bahan Bakar Neraka
Jum'at, 04 Februari 2022 - 08:11 WIB
loading...
Surat Yasin ayat 74-75 berisi celaan kepada mereka yang menuhankan selain Allah Taala. (Foto/Ilustrasi: Dok. SINDOnews)
A
A
A
Surat Yasin ayat 74-75 berisi celaan kepada mereka yang menuhankan selain Allah Taala. Pada ayat 74, Allah SWT mengecam orang-orang musyrik yang tidak hanya abai terhadap ajaran Islam, tetapi mereka malah menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan dan sesembahan.
Menurut Ibnu Jarir al-Thabari, kaum musyrik ini berharap berhala itu dapat menolong mereka dari bencana dan azab. Pada redaksi surat Yasin ayat 75, Allah SWT menegaskan bahwa berhala-berhala itu tidak mampu untuk menolong mereka.
Allah SWT berfirman:
Mereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah agar mereka mendapatkan pertolongan.
Berhala-berhala itu tiada dapat menolong mereka, padahal berhala-berhala itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka. ( QS Yasin : 74-75)
Menurut Ath-Thabari, terdapat perbedaan penafsiran pada kalimat wahum lahum jundun muhdharuun. Berdasarkan riwayat dari Muhammad bin ‘Amr dari Abu ‘Ashim dari ‘Isa dari al-Harits dari al-Hasan dari Waraqa dari Abu Najih dari Mujahid, yang dimaksud dengan dihadirkan (muhdharuun) pada kalimat tersebut adalah pada Hari Perhitungan (‘inda al-hisab).
Adapun berdasarkan riwayat dari Basyar dari Yazid dari Sa’id dari Qatadah, ayat 75 ini berkaitan dengan kekecewaan orang-orang musyrik terhadap berhala-berhala mereka.
Orang-orang ini marah kepada berhala ketika di dunia karena tidak dapat mendatangkan kebaikan maupun tidak bisa menolak kesialan atau bencana yang menimpa mereka. Karena berhala ini hanyalah patung-patung yang tidak bisa berbuat apa pun.
Wahbah Az-Zuhaili berkomentar, berbagai kenikmatan yang diberikan Allah pada manusia sebagaimana yang disinggung pada ayat-ayat sebelumnya hendaknya disyukuri dengan cara hanya menyembah dan menaati Allah SWT. Namun orang-orang kafir dan musyrik mengingkari kewajiban ini. Mereka kufur nikmat, tetap bertahan dalam kesesatan dan enggan menyembah Allah. Mereka justru menyembah sesuatu yang tidak mampu memberikan manfaat maupun mudharat.
Hamka menjelaskan, sesembahan selain Allah ini tidak hanya terbatas pada patung-patung berhala, apalagi di masa sekarang di mana banyak orang yang menuhankan beragam hal. Antara lain batu, kayu, pohon atau gunung tertentu, termasuk kuburan orang yang telah mati. Mereka yang memuja dan meminta pertolongan pada tuhan-tuhan buatan inilah yang dituju oleh ayat di atas.
Menurut Ibnu Jarir al-Thabari, kaum musyrik ini berharap berhala itu dapat menolong mereka dari bencana dan azab. Pada redaksi surat Yasin ayat 75, Allah SWT menegaskan bahwa berhala-berhala itu tidak mampu untuk menolong mereka.
Allah SWT berfirman:
وَاتَّخَذُوا مِن دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لَّعَلَّهُمْ يُنصَرُونَ
لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَهُمْ وَهُمْ لَهُمْ جُندٌ مُّحْضَرُونَ
لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَهُمْ وَهُمْ لَهُمْ جُندٌ مُّحْضَرُونَ
Mereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah agar mereka mendapatkan pertolongan.
Berhala-berhala itu tiada dapat menolong mereka, padahal berhala-berhala itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka. ( QS Yasin : 74-75)
Menurut Ath-Thabari, terdapat perbedaan penafsiran pada kalimat wahum lahum jundun muhdharuun. Berdasarkan riwayat dari Muhammad bin ‘Amr dari Abu ‘Ashim dari ‘Isa dari al-Harits dari al-Hasan dari Waraqa dari Abu Najih dari Mujahid, yang dimaksud dengan dihadirkan (muhdharuun) pada kalimat tersebut adalah pada Hari Perhitungan (‘inda al-hisab).
Adapun berdasarkan riwayat dari Basyar dari Yazid dari Sa’id dari Qatadah, ayat 75 ini berkaitan dengan kekecewaan orang-orang musyrik terhadap berhala-berhala mereka.
Orang-orang ini marah kepada berhala ketika di dunia karena tidak dapat mendatangkan kebaikan maupun tidak bisa menolak kesialan atau bencana yang menimpa mereka. Karena berhala ini hanyalah patung-patung yang tidak bisa berbuat apa pun.
Wahbah Az-Zuhaili berkomentar, berbagai kenikmatan yang diberikan Allah pada manusia sebagaimana yang disinggung pada ayat-ayat sebelumnya hendaknya disyukuri dengan cara hanya menyembah dan menaati Allah SWT. Namun orang-orang kafir dan musyrik mengingkari kewajiban ini. Mereka kufur nikmat, tetap bertahan dalam kesesatan dan enggan menyembah Allah. Mereka justru menyembah sesuatu yang tidak mampu memberikan manfaat maupun mudharat.
Hamka menjelaskan, sesembahan selain Allah ini tidak hanya terbatas pada patung-patung berhala, apalagi di masa sekarang di mana banyak orang yang menuhankan beragam hal. Antara lain batu, kayu, pohon atau gunung tertentu, termasuk kuburan orang yang telah mati. Mereka yang memuja dan meminta pertolongan pada tuhan-tuhan buatan inilah yang dituju oleh ayat di atas.
Lihat Juga :