Memahami Sidratul Muntaha Tempat Terakhir Nabi Ketika Mikraj
Jum'at, 11 Februari 2022 - 09:44 WIB
loading...
A
A
A
Seperti yang ditulis oleh Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki dalam kitabnya "Huwa fi Ufuq al-'Ala" menyatakan bahwa kedua hadits benar adanya dengan menggabungkan bahwa Sidratul Muntaha diibaratkan sebuah pokok pohon yang akarnya di langit ke-6, sedangkan dahan serta ranting-rantingnya menembus hingga ke langit ke-7.
Jadi dengan demikian, klop dan sinkron, pandangan saya sepakat ini bahwa Sidratul Muntaha yang dimasuki Rasulullah menerima perintah sholat 50 hingga 5 waktu adalah Sidratul Muntaha yang berada di level tingkat langit ke-6, sebab hal tersebut lebih memungkinkan seringnya berjumpa dan berdialog dengan Nabi Musa yang sama-sama berada di level tingkatan yang sama.
Pertanyaan selanjutnya, dimanakah Nabi berjumpa dengan Allah? Apakah di Sidratul Muntaha atau kah di luar itu?
Jika dikatakan perjumpaan dengan Allah Azza wajalla di Sidratul Muntaha, maka Sidrah itu tempat, Sidratul Muntaha itu dimensi ruang, dan mustahil bagi Allah menempati ruang atau dimensi.
Memang, Al-Qur'an maupun hadis tidak menyebutkan secara eksplisit dimana perjumpaan itu terjadi, melainkan hanya menyebutkan kedekatan jarak perjumpaan itu, meskipun lagi-lagi menurut Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki bahwa mustahil Allah berhajat pada jarak maupun arah jihah.
Walhasil, bagaimana pun cara kita memahami kisah-kisah Isra dan Mi'raj tersebut berdasarkan riwayat-riwayat hadits yang shahih, jangan sampai pemahaman kita terjebak bahwa Allah itu bertempat atau Allah berada di langit. Tidak!
Meskipun perjalanan Mi'raj Nabi menembus dimensi ruang dan waktu melampui 7 tingkatan langit, tapi Allah dengan sifat Qudus-Nya, tetap tidak bertempat, tidak membutuhkan tempat, tidak berhajat pada tempat, tidak pula di langit, tidak di Sidratul Muntaha dan Dia tetap bersifat "Laitsa Kamitslihi Syai'un" (berbeda dengan makhluk).
Inilah akidah Ahlussunnah wal Jama'ah yang wajib dan harus jaga dan kita pahamkan kepada generasi anak-anak kita. Jangan sampai terjebak pada akidah "Allah fis Samaa".
Wallahu A'lam
Baca Juga: Perjalanan Isra Mikraj Nabi Berkecepatan 4.320.000.000 Km/Jam?
Jadi dengan demikian, klop dan sinkron, pandangan saya sepakat ini bahwa Sidratul Muntaha yang dimasuki Rasulullah menerima perintah sholat 50 hingga 5 waktu adalah Sidratul Muntaha yang berada di level tingkat langit ke-6, sebab hal tersebut lebih memungkinkan seringnya berjumpa dan berdialog dengan Nabi Musa yang sama-sama berada di level tingkatan yang sama.
Pertanyaan selanjutnya, dimanakah Nabi berjumpa dengan Allah? Apakah di Sidratul Muntaha atau kah di luar itu?
Jika dikatakan perjumpaan dengan Allah Azza wajalla di Sidratul Muntaha, maka Sidrah itu tempat, Sidratul Muntaha itu dimensi ruang, dan mustahil bagi Allah menempati ruang atau dimensi.
Memang, Al-Qur'an maupun hadis tidak menyebutkan secara eksplisit dimana perjumpaan itu terjadi, melainkan hanya menyebutkan kedekatan jarak perjumpaan itu, meskipun lagi-lagi menurut Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki bahwa mustahil Allah berhajat pada jarak maupun arah jihah.
Walhasil, bagaimana pun cara kita memahami kisah-kisah Isra dan Mi'raj tersebut berdasarkan riwayat-riwayat hadits yang shahih, jangan sampai pemahaman kita terjebak bahwa Allah itu bertempat atau Allah berada di langit. Tidak!
Meskipun perjalanan Mi'raj Nabi menembus dimensi ruang dan waktu melampui 7 tingkatan langit, tapi Allah dengan sifat Qudus-Nya, tetap tidak bertempat, tidak membutuhkan tempat, tidak berhajat pada tempat, tidak pula di langit, tidak di Sidratul Muntaha dan Dia tetap bersifat "Laitsa Kamitslihi Syai'un" (berbeda dengan makhluk).
Inilah akidah Ahlussunnah wal Jama'ah yang wajib dan harus jaga dan kita pahamkan kepada generasi anak-anak kita. Jangan sampai terjebak pada akidah "Allah fis Samaa".
Wallahu A'lam
Baca Juga: Perjalanan Isra Mikraj Nabi Berkecepatan 4.320.000.000 Km/Jam?
(rhs)
Lihat Juga :