Ini Si Pemalu yang Dicintai Allah Ta'ala
Senin, 15 Juni 2020 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( الحياء خير كله )) . أو قال: ((الحياء كله خير ))
“Sifat malu adalah baik semuanya, atau beliau bersabda: semuanya adalah baik.” Maksudnya bahwa ia adalah sebab untuk menarik kebaikan kepadanya.
Dan beliau bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((ما كان الحياء في شيء إلا زانه))
“Tidak ada sikap malu pada sesuatu kecuali menghiasinya. ’’Sabdanya ‘pada sesuatu” merupakan mubalaghah, maksudnya jikalau sikap malu ada pada benda padat niscaya menghiasinya, maka bagaimana dengan manusia?
Dalam kalimat hikmah dikatakan, “Siapa yang melakukan perbuatan ketika sendirian yang ia malu melakukannya saat dilihat orang, maka ia tidak berhak mendapatkan kemulian.” Kalimat hikmah yang lain mengatakan, “Hendaknya malu kepada diri sendiri lebih besar dibanding malu kepada orang lain.”
Rasulullah SAW adalah figur yang sempurna dalam akhlak malu. Beliau tidak pernah menjulurkan kakinya ketika sedang duduk bersama sahabatnya. Pada suatu hari beliau lewat dan berpapasan dengan orang yang sedang mandi. Lalu beliau bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya Allah maha hidup, maha lembut, dan maha menutupi. Allah cinta pada rasa malu dan menutup diri. Jika kalian mandi maka lindungilah diri kalian dari pandangan orang.”
Baca juga: Hati Adalah Raja, Amalan Hati Lebih Penting Ketimbang Amal Badan .
Aisyah RA adalah putri yang sangat pemalu dan menjaga kehormatan dirinya. Suatu saat beliau pernah bercerita, “Ketika aku masuk ke rumahku yang di dalamnya terdapat makam Rasulullah (suamiku) dan ayahku Abu Bakar , aku menampakkan sebagian auratku, dalam hati aku berkata, “Sesungguhnya aku sedang berada di kuburan suamiku dan ayahku.”
Akan tetapi, ketika Umar bin Khattab meninggal dan makamkan di samping suami dan ayahku, aku tidak pernah menampakkan auratku lagi, karena malu kepada Umar.”
Bisa dibayangkan akhlak malu yang dimiliki Aisyah, hingga kepada orang sudah berada di dalam kubur.
Selanjutnya, kita hindari sifat malu yang dilarang. Yaitu malu ketika akan melakukan kebaikan, malu ketika membela ajaran Islam, malu berkata jujur, malu mengingkari kemungkaran dan membela kebenaran. Orang yang malu dalam kebaikan tidak akan mendapatkan keberkahan dalam hidupnya.
Menutupi
Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
قال الله تعالى : ﴿ يَا بَنِي آَدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآَتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ﴾ [ الأعراف: 26]
Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan pakaian untuk menutupi 'auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang baik. (QS. al-A’raaf:26)
Allah subhanahu wa ta’ala menyuruh manusia agar menutup semua aurat dan tubuh, karena Dia menyukai tertutup dan membenci telanjang, demikian pula Rasul-Nya menyuruh menutup dan memperhatikan menjaga aurat, melarang telanjang, seraya bersabda: ‘Jauhilah telanjang.”
Baca juga: Berikut Ini Tiga Ibadah yang Paling Dicintai Allah Ta'ala
Aurat adalah suatu angggota badan yang tidak boleh di tampakkan dan di perlihatkan oleh lelaki atau perempuan kepada orang lain.
Dirman Allâh Azza wa Jalla:
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Katakanlah kepada orang laki–laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allâh maha mengatahui apa yang mereka perbuat.”
Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera–putera mereka, atau putera–putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allâh, wahai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. [an-Nûr/24:31]
Baca juga: Allah Ta'ala Paling Mencintai Hamba yang Berakhlak Baik
Dan Allâh Ta'ala juga berfirman:
يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
Wahai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allâh tidak menyukai orang-orang yang berlebihan. [al-A’râf/7:31]
Baca juga: Allah Mencintai Orang-Orang yang Lisannya Basah karena Zikir
Sebab turunnya ayat ini sebagaimana yang di sebutkan dalam Shahîh Muslim dari Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhuma, beliau berkata:
كَانَتْ الْمَرْأَةُ تَطُوفُ بِالْبَيْتِ وَهِيَ عُرْيَانَةٌ … فَنَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ
Dahulu para wanita tawaf di Ka’bah tanpa mengenakan busana … kemudian Allâh menurunkan ayat:
“Sifat malu adalah baik semuanya, atau beliau bersabda: semuanya adalah baik.” Maksudnya bahwa ia adalah sebab untuk menarik kebaikan kepadanya.
Dan beliau bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((ما كان الحياء في شيء إلا زانه))
“Tidak ada sikap malu pada sesuatu kecuali menghiasinya. ’’Sabdanya ‘pada sesuatu” merupakan mubalaghah, maksudnya jikalau sikap malu ada pada benda padat niscaya menghiasinya, maka bagaimana dengan manusia?
Dalam kalimat hikmah dikatakan, “Siapa yang melakukan perbuatan ketika sendirian yang ia malu melakukannya saat dilihat orang, maka ia tidak berhak mendapatkan kemulian.” Kalimat hikmah yang lain mengatakan, “Hendaknya malu kepada diri sendiri lebih besar dibanding malu kepada orang lain.”
Rasulullah SAW adalah figur yang sempurna dalam akhlak malu. Beliau tidak pernah menjulurkan kakinya ketika sedang duduk bersama sahabatnya. Pada suatu hari beliau lewat dan berpapasan dengan orang yang sedang mandi. Lalu beliau bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya Allah maha hidup, maha lembut, dan maha menutupi. Allah cinta pada rasa malu dan menutup diri. Jika kalian mandi maka lindungilah diri kalian dari pandangan orang.”
Baca juga: Hati Adalah Raja, Amalan Hati Lebih Penting Ketimbang Amal Badan .
Aisyah RA adalah putri yang sangat pemalu dan menjaga kehormatan dirinya. Suatu saat beliau pernah bercerita, “Ketika aku masuk ke rumahku yang di dalamnya terdapat makam Rasulullah (suamiku) dan ayahku Abu Bakar , aku menampakkan sebagian auratku, dalam hati aku berkata, “Sesungguhnya aku sedang berada di kuburan suamiku dan ayahku.”
Akan tetapi, ketika Umar bin Khattab meninggal dan makamkan di samping suami dan ayahku, aku tidak pernah menampakkan auratku lagi, karena malu kepada Umar.”
Bisa dibayangkan akhlak malu yang dimiliki Aisyah, hingga kepada orang sudah berada di dalam kubur.
Selanjutnya, kita hindari sifat malu yang dilarang. Yaitu malu ketika akan melakukan kebaikan, malu ketika membela ajaran Islam, malu berkata jujur, malu mengingkari kemungkaran dan membela kebenaran. Orang yang malu dalam kebaikan tidak akan mendapatkan keberkahan dalam hidupnya.
Menutupi
Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
قال الله تعالى : ﴿ يَا بَنِي آَدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآَتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ﴾ [ الأعراف: 26]
Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan pakaian untuk menutupi 'auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang baik. (QS. al-A’raaf:26)
Allah subhanahu wa ta’ala menyuruh manusia agar menutup semua aurat dan tubuh, karena Dia menyukai tertutup dan membenci telanjang, demikian pula Rasul-Nya menyuruh menutup dan memperhatikan menjaga aurat, melarang telanjang, seraya bersabda: ‘Jauhilah telanjang.”
Baca juga: Berikut Ini Tiga Ibadah yang Paling Dicintai Allah Ta'ala
Aurat adalah suatu angggota badan yang tidak boleh di tampakkan dan di perlihatkan oleh lelaki atau perempuan kepada orang lain.
Dirman Allâh Azza wa Jalla:
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Katakanlah kepada orang laki–laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allâh maha mengatahui apa yang mereka perbuat.”
Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera–putera mereka, atau putera–putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allâh, wahai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. [an-Nûr/24:31]
Baca juga: Allah Ta'ala Paling Mencintai Hamba yang Berakhlak Baik
Dan Allâh Ta'ala juga berfirman:
يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
Wahai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allâh tidak menyukai orang-orang yang berlebihan. [al-A’râf/7:31]
Baca juga: Allah Mencintai Orang-Orang yang Lisannya Basah karena Zikir
Sebab turunnya ayat ini sebagaimana yang di sebutkan dalam Shahîh Muslim dari Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhuma, beliau berkata:
كَانَتْ الْمَرْأَةُ تَطُوفُ بِالْبَيْتِ وَهِيَ عُرْيَانَةٌ … فَنَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ
Dahulu para wanita tawaf di Ka’bah tanpa mengenakan busana … kemudian Allâh menurunkan ayat:
Lihat Juga :