alexametrics

Allah Mencintai Orang-Orang yang Lisannya Basah karena Zikir

loading...
Allah Mencintai Orang-Orang yang Lisannya Basah karena Zikir
Allah Taala menyebutkan zikir dalam ayat yang sangat banyak dalam al-Quran. Foto/Ilustrasi/Ist
ADA belasan ibadah yang sangat dicintai Allah. Iman kepada Allah adalah yang paling utama. Ibadah lainnya yang juga dicintai Allah adalah silaturahim, amar ma'ruf dan nahi munkar, juga faraidh (kewajiban), witir dan masih banyak lagi. Memang, banyak riwayat hadis tentang fadhail amal yang menjelaskan tentang amalan yang paling dicintai Allah. Namun para ulama hadis berkata bahwa jawaban Rasulullah dalam hadis-hadis tersebut disesuaikan dengan sang penanya. (Baca juga: Iman Kepada Allah: Ibadah Hati yang Paling Dicintai Allah)

Asma` binti Rasyid ar-Ruwaisyid dalam "Ibadah Yang Paling Dicintai Allah" menyebut zikir kepada Allah juga salah satu ibadah yang sangat dicintai Allah SWT. (Baca juga: Ibadah Paling Dicintai Allah: Silaturahim, Amar Ma'ruf, dan Nahi Munkar)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) bersabda:



قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( أحب الأعمال إلى الله أن تموت ولسانك رطب من ذكر الله ))

“Ibadah yang paling dicintai Allah subhanahu wa ta’ala bahwa engkau wafat sedangkan lisanmu basah karena zikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala.’

Baca juga: Berikut Ini Tiga Ibadah yang Paling Dicintai Allah Ta'ala

Menurut Ath-Thibiy, basahnya lisan adalah ungkapan karena mudahnya berlakunya sebagaimana keringnya adalah ungkapan kebalikannya, kemudian mengalirnya lisan adalah ungkapan tentang selalu berzikir.

Asma' mengatakan asal zikir adalah ingatnya hati kepada yang disebutkan dan terjagi baginya. Zikir dengan lisan dinamakan zikir karena ia menunjukan atas zikir hati, namun ketika banyak penggunaan zikir terhadap ucapan dengan lisan, jadilah ia yang dipahami.

Zikir adalah mendatangkan dengan lafazh-lafazh ada dorongan mengucapkan dan memperbanyaknya, seperti al-Baqiyat ash-shalihat, yaitu subhanallah, al-hamdulillah, laailaaha illallah, dan Allahu Akbar.

Baca juga: Agar Kerja Menjadi Ibadah, Ingat Allah Maha Pemberi Rezeki

Dan yang lainnya semisal, hauqalah (laahaula wa laaquwwata illa billah), basmalah, hasbalah (hasbiyallahu ...), istighfar dan semisal yang demikian itu serta doa untuk kebaikan dunia dan akhirat.

Zikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala juga ditujukkan dan dimaksudkan tekun melakukan amal ibadah yang wajib atau sunnah seperti membaca al-Qur`an, membaca hadis, mempelajari ilmu dan salat sunnah.

Baca juga: Al-Qur'an Menjawab Para Pengingkar Hari Kiamat

Menurut Asma', zikir bisa dengan lisan dan pembacanya diberi pahala, akan tetapi disyaratkan bahwa ia tidak bermaksud selain maknanya. Dan bila ditambahkan kepada zikir lisan dengan zikir hati maka ia lebih sempurna. Dan bila ditambahkan kepada hal itu menghadirkan makna zikir dan kandungannya berupa pengagungan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan menafikan kekurangan dari-Nya niscaya bertambah sempurna. Maka jika hal itu terjadi dalam amal shalih niscaya bertambah sempurna.

Jika benar pengarahan dan ikhlas kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam hal itu maka ia lebih sempurna.

Baca juga: Baca juga: Bukti-bukti Keniscayaan Hari Akhir Menurut Al-Qur'an

Zikir Hati
Asma' mengatakan yang dimaksud zikir lisan adalah lafazh-lafazh yang menunjukkan tasbih, tahmid, dan tamjid.
Yang dimaksud zikir hati adalah tafakkur pada dalil-dalil zat dan sifat, pada dalil-dalil perintah dan larangan sehingga ia mengetahui hukum-hukumnya, pada dalil-dalil berita pembalasan, dan pada rahasia rahasia makhluk-makhluk Allah subhanahu wa ta’ala.

Menurut Asma' zikir hati ada dua bagian. Salah satunya, yaitu zikir tertinggi dan paling agung, yaitu memikirkan keagungan Allah subhanahu wa ta’ala, jabarut-Nya, malakut-Nya, dan ayat-ayat-Nya di langit dan bumi-Nya.

Baca juga: Hati Adalah Raja, Amalan Hati Lebih Penting Ketimbang Amal Badan.

Kedua, zikir hati di sisi perintah dan larangan, maka ia melaksanakan yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarang, karena mengharapkan pahala dan takut terhadap siksa-Nya.

Adapun zikir anggota tubuh, yaitu ia tenggelam dalam taat, dan dari itulah salat dinamakan zikir. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

قال الله تعالى: ﴿ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ﴾ [ الجمعة: 9]

Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah (QS. al-Jum’at:9)

قال تعالى: ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ﴾ [ الأحزاب: 41]

Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. (QS. al-Ahzab:41)

Baca juga: Hubungan Akrab Nabi Sulaiman dengan Malaikat Izrail

Allah subhanahu wa ta’ala menyuruh hamba-hamba-Nya agar berzikir dan bersyukur kepada-Nya, mempekerjakan lisannya dalam setiap kondisi mereka dengan tasbih, tahlil, tahmid dan takbir.

Menurut Mujahid, inilah bacaan-bacaan yang diucapkan orang yang bersuci, berhadats dan junub, dan ia berkata: Tiadalah seseorang banyak berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala sehingga ia berzikir sambil berdiri, duduk dan berbaring.

Baca juga: Kematian, Hanya Nabi Ibrahim dan Nabi Musa yang Bisa Menawar

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menyatakan sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mewajibkan kepada hamba-Nya satu kewajiban kecuali menjadikan baginya batasan yang diketahui, kemudian ia memaafkan pelakunya di saat tidak bisa melakukan selain zikir. Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menjadikan baginya batasan akhirnya dan tidak memaafkan seseorang dalam meninggalkannya kecuali yang terpaksa meninggalkannya. (Baca juga: Kisah Cinta Mengharukan Atikah dan Abdullah Putra Abu Bakar).

Allah Ta’ala berfirman:

قال تعالى :﴿ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ ﴾ [النساء: 103]

... ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. (QS. an-Nisaa`:103)

Malam dan siang, di darat dan di laut, saat safar dan menetap, kaya dan fakir, sakit dan sehat, tersembunyi dan tidak, dalam setiap kondisi, bila kamu melakukan hal itu niscaya Allah subhanahu wa ta’ala dan para malaikat-Nya mengucapan shalawat kepadamu.

Mu`adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Tidak ada sesuatu yang lebih menyelamatkan dari siksa Allah Ta’ala selain zikir kepada Allah Ta’ala.

Baca juga: Tiga Soal Ujian di Alam Kubur untuk Dapat Tiket Surga atau Neraka

Allah Ta’ala menyebutkan zikir dalam ayat yang sangat banyak dalam al-Qur`an dan menjadikan zikir-Nya bagi yang berzikir sebagai balasan bagi yang berzikir kepada-Nya, sesungguhnya ia yang terbesar dan menutup amal shalih dengannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( ألا أنبئكم بخير أعمالكم وأزكاها عند مليككم وأرفعها في درجاتكم وخير لكم من إنفاق الذهب والورق وخير لكم من تلقوا عدوكم فتضربوا أعناقهم ويضربوا أعناقكم ! قالوا: بلى! قال: ذكر الله تعالى )) [أخرجه الترمذي].

“Maukah kamu kukabarkan amalmu yang terbaik dan paling bersih di sisi Raja-mu, paling tinggi pada derajatmu, lebih baik bagimu dari berinfak emas dan perak, lebih baik dari bertemu musuhmu lalu kamu menebas leher mereka dan mereka menebas lehermu? Mereka menjawab: ‘Tentu.’ Beliau bersabda: “Dzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala.’ (HR At-Tirmidzi).

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (( أحب الكلام إلي الله أربع سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر لا يضرك بأيهن بدأت ))
[أخرجه مسلم].

‘Ucapan yang paling dicintai Allah subhanahu wa ta’ala ada empat: ‘subhanallah (maha suci Allah), al-hamdulillah (segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala), laailaaha illallah (Tidak Ilah yang berhak disembah selain Allah subhanahu wa ta’ala), dan allahu akbar (Allah Maha Besar). Tidak mengapa engkau memulai dengan yang manapun.” (HR Muslim).

Baca juga: Jangan Remehkan Kriteria Jodohmu, Ukhti!

Faedah ‘laailaaha illallah’ ada dua keistimewaan. Pertama, sesungguhnya semua hurufnya ada jaufiyah (rongga), dan huruf jauf adalah yang tempat keluarnya adalah dari rongga. Tidak ada padanya satu huruf dari huruf syafahiyyah (bibir) yang tempat keluarnya dari dua bibir, seperti ba’, faa`, mim, sebagai isyarat bahwa mendatangkannya dari rongga yang murni, yaitu hati, bukan dari kedua bibir. Wallah'alam. (Baca juga: 4 Perkara Syarat Diterimanya Amal Saleh dan Digandakan Pahalanya)

(mhy)
cover top ayah
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا اجۡتَنِبُوۡا كَثِيۡرًا مِّنَ الظَّنِّ اِنَّ بَعۡضَ الظَّنِّ اِثۡمٌ‌ۖ وَّلَا تَجَسَّسُوۡا وَلَا يَغۡتَبْ بَّعۡضُكُمۡ بَعۡضًا‌ ؕ اَ يُحِبُّ اَحَدُكُمۡ اَنۡ يَّاۡكُلَ لَحۡمَ اَخِيۡهِ مَيۡتًا فَكَرِهۡتُمُوۡهُ‌ ؕ وَاتَّقُوا اللّٰهَ‌ ؕ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيۡمٌ
Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.

(QS. Al-Hujurat:12)
cover bottom ayah
preload video
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak