Kisah Ibnu Arabi: Ketika Pamannya Bertaubat, Tinggalkan Takhta, dan Menjadi Pencari Kayu Bakar

Senin, 07 Maret 2022 - 16:22 WIB
loading...
Kisah Ibnu Arabi: Ketika...
Paman Ibnu Arabi meninggalkan takhta sebagai jalan pertobatannya. (Foto/Ilustrasi: Ist)
A A A
Ibnu Arabi yang bernama lengkap Muhyiddin Abu Abdullah Muhammad ibn Ali ibn Muhammad ibn Ahmad ibn Abdullah Hatimi at-Ta'i adalah seorang sufi. Beliau lahir tahun 1165 Masehi (560 Hijriah) dalam sebuah kota benteng bernama Mursia, di timur Andalusia.

Claude Addas, dalam buku berjudul “Quest for The Red Sulphur; The Life og Ibn ‘Arabi” menulis bakat rohani Ibn Arabi mengalir deras dari garis ayah dan ibunya. Paling tidak ada tiga pamannya—dua dari garis ibu dan satu dari garis ayah—yang mengilhaminya memasuki jalan rohani.

Baca juga: Mengapa Mereka Mengklaim Ibnu Arabi Orang Kristen Rahasia?

Kisah pertobatan pamannya yang bernama Abu Muhammad Abdullah al-Arabi al-Thai adalah yang paling sederhana. Orang ini mengalami lompatan rohani yang kerap terjadi pada para wali: sebuah pertobatan sekonyong-konyong yang berlangsung di usia lanjut.

Suatu hari, seorang pemuda datang ke apotek Abu Muhammad untuk meminta obat tertentu. Melihat kebodohan pemuda itu dalam soal obat-obatan, Abu Muhammad tertawa meledek. Ternyata pemuda itu adalah orang yang sudah sampai pada ketinggian rohani yang jauh melampaui usianya.

Dia pun segera menjawab: “Kebodohanku dalam soal ini tak terlalu buruk. Sebaliknya, hai orang tua, kelalaian dan pembangkanganmu pada Allah bakal mendatangkan banyak keburukan yang besar!”

Jawaban pemuda itu terasa sangat menusuk hingga Abu Muhammad langsung minta pemuda itu membimbingnya dalam ibadah. Tak berapa lama setelah itu Abu Muhammad meninggal dunia.

Baca juga: Ibnu Arabi, Kecantikan Perempuan Berkaitan dengan Realitas Ketuhanan

Pangeran Berber
Kisah Yahya bin Yughan al-Sanhaji, paman Ibn Arabi dari garis ibu, mungkin membawa kesan paling mendalam. Yahya adalah pangeran Berber yang mendadak sontak melepas tahta dan menginfakkan seluruh hartanya untuk mengabdikan jiwa dan raganya pada Allah.

Ibn Arabi menempatkannya sebagai salah satu contoh orang zuhud, yaitu orang yang secara suka rela meninggalkan kenikmatan dunia rendah dan mengutamakan Allah di atas seluruh makhluk-Nya. Dalam karya utamanya, al-Futûhât al-Makkiyyah, Ibn Arabi menuturkan rincian kisah pertobatan penguasa Tlemcen ini.

Begini kisahnya:

Abu Abdullah Al-Tunisi adalah seorang ahli fiqih, agamawan dan abid asal Tunisia. Saat itu dia baru saja pindah ke Desa Al-Ubbad yang tak jauh dari Tlemcen. Hidupnya dia habiskan dalam ibadah di masjid dan mengabdikan diri di jalan Allah. Hingga kini kuburan Abu Abdullah Al-Tunisi menjadi tempat ziarah masyarakat Tlemcen.

Suatu hari, abid ini berjalan di pusat kota Tlemcen, sedang pamanku Yahya bin Yughan, pembesar Tlemcen, menunggang kuda di tengah rombongan pengawal dan pasukan. Saat berpapasan, seseorang berbisik kepadanya, ‘Itulah Abu Abdullah Al-Tunisi, orang suci di zaman kita!’

Yahya bergegas mengekang tali kudanya dan berhenti. Setelah berbalas salam, pangeran yang mengenakan pakaian kebesaran itu bertanya, ‘Hai Syaikh, bolehkah aku sholat dengan pakaian ini?’

Syaikh pun tertawa keras. ‘Apa yang kau tertawakan?’ tanyanya.

Baca juga: Ibnu Arabi Antara Anak Gergaji dan yang Menghidupkan Agama

Syaikh itu menjawab, ‘Betapa dangkal pemahamanmu dan bodohnya dirimu! Dalam keadaanmu yang seperti ini (kau bertanya tentang kesucian bajumu)?! Kau lebih mirip dengan anjing yang berlumuran darah bangkai lalu mengangkat kakinya saat kencing agar tidak mengotori tubuhnya. Kau adalah mangkok yang penuh kotoran. Kau bertanya padaku tentang (kesucian) bajumu sementara kau bertanggungjawab atas setiap derita rakyat yang berada di bawah kekuasaanmu?!’

Raja itu langsung menangis dan melompat turun dari kudanya. Di hadapan semua yang hadir di sana, dia menyatakan mundur dari kerajaannya.

Dia kemudian mengabdi pada sang syaikh. Tiga hari setelah itu, sang syaikh membawa tali dan berkata padanya, ‘Raja, tiga hari masa keramahan yang dianjurkan (oleh Nabi Muhammad bagi tiap tamu) telah berlalu. Sekarang pergi dan kumpulkan kayu untuk dijual.’

Maka raja itu pun mulai mencari kayu, memikulnya dan menjualnya di pasar. Rakyat yang menyaksikannya memikul tumpukan kayu segera terharu dan serentak menangis. Setelah menjual kayunya dan mengambil sebagian penghasilannya untuk dimakan, dia menyedekahkan semua sisanya.

Yahya melakukan semua itu di bekas kerajaannya sampai dia mati dikubur di sebelah sang Syaikh.

Syaikh Abu Abdullah sering menyatakan ke orang-orang yang meminta doanya, ‘Pergilah ke Yahya bin Yughan; dia adalah raja yang melepas kerajaannya demi Allah. Jika Allah mengujiku sepertinya, mungkin aku takkan sanggup meninggalkan kerajaanku!’

Baca juga: Ibnu Arabi Dianggap Pembohong Besar dan Ahli Bid'ah, Ini Sebabnya

Selain dua pamannya yang mengalami pertobatan dramatis itu, Ibn Arabi juga mengisahkan pamannya yang menjalani ibadah secara bertahap, tekun dan tabah. Namanya adalah Abu Muslim al-Khawlani. Orang ini, kata Ibn Arabi, masuk dalam kategori al-‘ubbâd (para abid).

Berbeda dengan al-zuhhâd (ahli zuhud) dan al-rahmâniyyûn (orang yang mencerap Nafas Sang Maha Pengasih), para ‘abid lebih tekun melaksanakan seluruh kewajiban syariat sejak masa muda. Mereka senantiasa memikirkan kematian, alam kubur, hari kebangkitan, surga, neraka dan seluruh pahala dan siksa yang mengiri masing-masingnya.

“Pamanku dari garis ibu,” tulis Ibn Arabi, “adalah salah seorang dari mereka. Dia biasa menunaikan sholat semalam suntuk. Bila kakinya mulai lemah, dia akan memukulinya dengan cambuk yang dia simpan khusus untuk tujuan ini.

Lalu dia berkata ke kedua kakinya: ‘Kau pantas mendapat cambuk lebih banyak dari kudaku. Jika para sahabat Nabi Muhammad percaya bahwa mereka mau mengambil Nabi hanya untuk diri mereka sendiri, maka demi Allah kita akan desak mereka sampai mereka sadar bahwa ada orang-orang penuh tekad yang layak pula mendapat nama sebagai sahabat Nabi.

Ibn Arabi menyimak kisah-kisah di atas sebelum beranjak dewasa. Di masa itu, Ibn Arabi masih dalam periode yang dia gambarkan sendiri sebagai jâhiliyyah (masa kebodohan). Kegairahan ibadah belum merasuki jiwanya. Perubahan besar baru terjadi setelah tarikan Ilahi (jadhbah Ilâhiyyah) merenggut kesadarannya.

Di masa jâhiliyyah, perhatian Ibn Arabi terbelah antara hasrat duniawi dan cinta Ilahi. Inilah masa manakala dia menangkap sekelumit pemahaman ihwal al-Haqq (Sang Mutlak), tapi tidak benar-benar mengetahui-Nya. Meski jelas bukan ahli maksiat, tapi dia juga belum menceburkan diri sepenuhnya dalam disiplin rohani kala itu.

Baca juga: Nasehat Aneh Ibnu Arabi kepada Nelayan yang Merasakan Jiwanya Buntu
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Kisah Hikmah : Tidak...
Kisah Hikmah : Tidak Melakukan Ibadah Haji Tapi Dapat Pahala Haji, Kok Bisa?
Kisah Bulan Zulhijjah...
Kisah Bulan Zulhijjah : Diijabahnya Doa Nabi Zakaria Mendapatkan Keturunan di Umur 90 Tahun
Kisah Uwais Al Qarni...
Kisah Uwais Al Qarni : Menggendong Ibunya dari Yaman ke Makkah untuk Melaksanakan Haji
Kisah Hikmah : Laki-laki...
Kisah Hikmah : Laki-laki yang Selamat dari Neraka karena Zikir Laa Ilaaha Illallaah
Kisah Hikmah : Diselamatkan...
Kisah Hikmah : Diselamatkan dari Siksa Kubur karena Fadilah Puasa Syawal
Kisah Hit, Seorang Waria...
Kisah Hit, Seorang Waria yang Hidup di Zaman Nabi SAW
Rekomendasi
Ilmuwan Deteksi Pemicu...
Ilmuwan Deteksi Pemicu Gempa Bumi Berkekuatan 9 Magnitudo
Jadi Tempat Terpanas...
Jadi Tempat Terpanas di Bumi, NASA Cap Gurun Dasht-e Lut sebagai Area Neraka
Lebih Dulu Zigot atau...
Lebih Dulu Zigot atau Embrio? Perspektif Al-Quran dan Sains Modern
Artikel Terkini
Sebaik-baikya Puasa...
Sebaik-baikya Puasa Setelah Ramadan, Ternyata Puasa Muharram!
Bacaan Niat 3 Jenis...
Bacaan Niat 3 Jenis Puasa Sunnah Muharram, Harian, Tasua dan Asyura
Puasa Asyura 2026: Jadwal,...
Puasa Asyura 2026: Jadwal, Dalil, dan Keutamaan Besarnya Menurut Hadis Nabi
Peristiwa di Bulan Muharram...
Peristiwa di Bulan Muharram : Bahtera Nabi Nuh AS Berlabuh setelah 150 Tahun Terombang-ambing Banjir
7 Kisah Para Nabi di...
7 Kisah Para Nabi di Bulan Muharram yang Diabadikan Al Quran
Bolehkah Menggabungkan...
Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Sunnah?
Infografis
Penemuan-penemuan Ilmuwan...
Penemuan-penemuan Ilmuwan Muslim yang Mengubah Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved