Mahkota Sufi Ibnu Arabi (3)

Mengapa Mereka Mengklaim Ibnu Arabi Orang Kristen Rahasia?

loading...
Mengapa Mereka Mengklaim Ibnu Arabi Orang Kristen Rahasia?
Ilustrasi/Ist
IBNU Arabi yang belajar di bawah bimbingan perempuan sufi Spanyol, Fatimah binti Waliyya, tidak diragukan bahwa ia cenderung pada keadaan-keadaan fisik tertentu; yang hal ini juga digunakan oleh para Sufi.

Idries Shah dalam bukunya The Sufis menyebutkan ia merujuk hal ini di berbagai kesempatan. Sebagian karyanya ditulis dalam keadaan "mabuk" (trance), dan maknanya tidak jelas baginya sampai setelah beberapa saat penulisannya. (Baca juga: Ibnu Arabi Antara Anak Gergaji dan yang Menghidupkan Agama)

Ketika berumur tiga puluh tujuh tahun, ia mengunjungi Ceuta, di mana ia memperbaharui madzhab Ibnu Sabain (penasehat Kaisar Roma, Frederick).

Di sana ia mengalami mimpi aneh yang ditakwilkan oleh seorang ulama masyhur. Orang alim itu mengatakan, "Tidak bisa diukur ... jika orang itu ada di Ceuta, ia tidak lain adalah anak muda Spanyol yang baru datang." (Baca juga: Tak Ada Puisi Cinta yang Lebih Besar dari Karya Ibnu Arabi)



Sumber inspirasinya adalah mimpi dimana kesadarannya masih aktif. Dengan melatih fakultas Sufi ini, ia mampu menghasilkan suatu hubungan dengan realitas terakhir (supermatif) dari akal batinnya -- realitas yang dijelaskannya mendasari penampakan dunia biasa.

Ajarannya menekankan arti penting pelatihan fakultas-fakultas ini yang tidak diketahui oleh semua orang dan oleh banyak orang telah diserahkan pada okultisme yang konyol. "Seseorang," tuturnya, "harus mengendalikan pikiran-pikirannya dalam mimpi. Dengan melatih kesigapan ini, ia akan menghasilkan kesadaran tentang dimensi perantara. Kesadaran ini akan mendatangkan manfaat besar bagi individu itu. Setiap orang seharusnya melatih diri untuk mencapai kemampuan yang sangat besar nilainya itu." (Baca juga: Jalaluddin Rumi Anggap Perempuan sebagai Suatu Pancaran Ilahi)

Tidak akan ada gunanya untuk mencoba menafsirkan Ibnu Arabi dari satu pandangan yang pasti.



Ajaran-ajarannya diambil dari pengalaman-pengalaman batin, kemudian disajikan dalam suatu bentuk yang mempunyai suatu fungsi. Jika puisinya mempunyai makna ganda dan sering demikian, ia bukan saja bertujuan menyampaikan kedua makna itu, tetapi juga menegaskan bahwa keduanya adalah valid. (Baca juga: Rumi: Cinta Terbesar Adalah Keheningan dan Tidak Bisa Diungkapkan dengan Kata-Kata)
halaman ke-1 dari 3
cover top ayah
وَكَذٰلِكَ جَعَلۡنَا فِىۡ كُلِّ قَرۡيَةٍ اَكٰبِرَ مُجۡرِمِيۡهَا لِيَمۡكُرُوۡا فِيۡهَا‌ ؕ وَمَا يَمۡكُرُوۡنَ اِلَّا بِاَنۡفُسِهِمۡ وَمَا يَشۡعُرُوۡنَ
Pada setiap negeri, Kami jadikan pembesar-pembesar yang jahat agar melakukan tipu daya di negeri itu. Tapi mereka hanya menipu diri sendiri tanpa menyadarinya.

(QS. Al-An’am:123)
cover bottom ayah
preload video