Ibnu Arabi Antara Anak Gergaji dan yang Menghidupkan Agama
Sabtu, 19 September 2020 - 11:49 WIB
loading...
Ilustrasi/Ist
A
A
A
BANYAK sekali peninggalan tulisan-tulisan Ibnu Arabi yang sampai saat ini dikaji sekaligus diperdebatkan, dibanding para sufi lainnya. Idries Shah dalam bukunya yang berjudul The Sufis menyebutkan sebagian tulisan Ibnu Arabi ditujukan kepada mereka yang telah memahami mitologi kuno dan disusun dengan istilah-istilah tersebut. Sebagian yang berhubungan dengan dunia Kristen berperan sebagai pembuka jalan bagi orang-orang yang mempunyai komitmen kepada Kristen. (Baca juga: Tak Ada Puisi Cinta yang Lebih Besar dari Karya Ibnu Arabi )
Puisi lainnya berperan memperkenalkan jalan sufi melalui wahana puisi cinta. Tidak seorang pun bisa menjelaskan semua karyanya hanya melalui makna skolastik, keagamaan, romantik dan perlengkapan intelektual. Hal ini membawa kita pada isyarat lain dari misinya yang terkandung dalam namanya. (Baca juga: Jalaluddin Rumi Anggap Perempuan sebagai Suatu Pancaran Ilahi )
Menurut tradisi sufi, misi Ibnu Arabi adalah "menyebarkan" (bahasa Arabnya adalah nasyr, NSYR) ajaran sufi melalui pandangan kontemporer dan berhubungan dengan berbagai tradisi hidup dalam masyarakat. (Baca juga: Rumi: Cinta Terbesar Adalah Keheningan dan Tidak Bisa Diungkapkan dengan Kata-Kata )
Pandangan tentang penyebaran ini tentu saja absah dan sesuai dengan pemikiran sufi . Karena istilah sufi untuk kata penyebaran (NSYR) pada waktu itu tidak dipergunakan secara umum, Ibnu Arabi menggunakan sebuah alternatif.
Di Spanyol ia dikenal sebagai Ibnu Saraqa, "anak gergaji". Akan tetapi Saraqa dengan akar kata SRQ merupakan kata lain dari gergaji yang diambil dari akar kata NSYR. Akar kata NSYR jika diubah secara normal bermakna "penerbitan, penyebaran", dan juga bermakna "menggergaji".
Kata ini juga bermakna menghidupkan. Nama pribadi Ibnu Arabi, Muhyiddin, diterjemahkan dengan "Yang Menghidupkan Agama." (Baca juga: Makanan Khas Sufi Tidak Sama dengan Makanan Biasa )
Dengan mengambil akar kata NSYR secara literal, seperti hampir semua sarjana melakukannya, bahkan menyebabkan seorang sejarawan yang terhormat semacam Ibnu al-Abbar menyimpulkan bahwa ayahnya adalah seorang tukang kayu. Ia hanya bisa dikatakan sebagai "tukang kayu" dalam pengertian kedua sebagaimana dikenal oleh para Sufi yang menggunakan istilah untuk pertemuan mereka, dalam menjelaskan jamaah mereka di suatu tempat bagi sejumlah orang yang tidak ingin terlihat sebagai kelompok penentang. (Baca juga: Sufisme Bekerja dengan Bahan-Bahan yang Terlihat dan Tidak )
Menurut Idries Shah, sebagian pernyataan Ibnu Arabi yang diambil dari karya-karyanya sendiri sangat mengejutkan. Dalam kitab Fushushul-Hikam, ia mengatakan bahwa Tuhan tidak pernah dilihat dalam suatu bentuk material. "Pandangan tentang Tuhan dalam perempuan adalah pandangan paling sempurna". (Baca juga: Jalaluddin Rumi: Jawaban untuk Seseorang yang Bodoh Adalah Diam )
Bagi Sufi, puisi cinta sebagaimana puisi lainnya, mampu memantulkan suatu pengalaman ketuhanan yang utuh dan koheren seraya memenuhi fungsi-fungsi lainnya. Setiap pengalaman Sufi merupakan suatu pengalaman mendalam dan mengandung ketidakterbatasan kualitatif.
Baca juga: Bawa Jenazah Saefullah ke Balai Kota, Fakta Pertanyakan Sikap Anies
Puisi lainnya berperan memperkenalkan jalan sufi melalui wahana puisi cinta. Tidak seorang pun bisa menjelaskan semua karyanya hanya melalui makna skolastik, keagamaan, romantik dan perlengkapan intelektual. Hal ini membawa kita pada isyarat lain dari misinya yang terkandung dalam namanya. (Baca juga: Jalaluddin Rumi Anggap Perempuan sebagai Suatu Pancaran Ilahi )
Menurut tradisi sufi, misi Ibnu Arabi adalah "menyebarkan" (bahasa Arabnya adalah nasyr, NSYR) ajaran sufi melalui pandangan kontemporer dan berhubungan dengan berbagai tradisi hidup dalam masyarakat. (Baca juga: Rumi: Cinta Terbesar Adalah Keheningan dan Tidak Bisa Diungkapkan dengan Kata-Kata )
Pandangan tentang penyebaran ini tentu saja absah dan sesuai dengan pemikiran sufi . Karena istilah sufi untuk kata penyebaran (NSYR) pada waktu itu tidak dipergunakan secara umum, Ibnu Arabi menggunakan sebuah alternatif.
Di Spanyol ia dikenal sebagai Ibnu Saraqa, "anak gergaji". Akan tetapi Saraqa dengan akar kata SRQ merupakan kata lain dari gergaji yang diambil dari akar kata NSYR. Akar kata NSYR jika diubah secara normal bermakna "penerbitan, penyebaran", dan juga bermakna "menggergaji".
Kata ini juga bermakna menghidupkan. Nama pribadi Ibnu Arabi, Muhyiddin, diterjemahkan dengan "Yang Menghidupkan Agama." (Baca juga: Makanan Khas Sufi Tidak Sama dengan Makanan Biasa )
Dengan mengambil akar kata NSYR secara literal, seperti hampir semua sarjana melakukannya, bahkan menyebabkan seorang sejarawan yang terhormat semacam Ibnu al-Abbar menyimpulkan bahwa ayahnya adalah seorang tukang kayu. Ia hanya bisa dikatakan sebagai "tukang kayu" dalam pengertian kedua sebagaimana dikenal oleh para Sufi yang menggunakan istilah untuk pertemuan mereka, dalam menjelaskan jamaah mereka di suatu tempat bagi sejumlah orang yang tidak ingin terlihat sebagai kelompok penentang. (Baca juga: Sufisme Bekerja dengan Bahan-Bahan yang Terlihat dan Tidak )
Menurut Idries Shah, sebagian pernyataan Ibnu Arabi yang diambil dari karya-karyanya sendiri sangat mengejutkan. Dalam kitab Fushushul-Hikam, ia mengatakan bahwa Tuhan tidak pernah dilihat dalam suatu bentuk material. "Pandangan tentang Tuhan dalam perempuan adalah pandangan paling sempurna". (Baca juga: Jalaluddin Rumi: Jawaban untuk Seseorang yang Bodoh Adalah Diam )
Bagi Sufi, puisi cinta sebagaimana puisi lainnya, mampu memantulkan suatu pengalaman ketuhanan yang utuh dan koheren seraya memenuhi fungsi-fungsi lainnya. Setiap pengalaman Sufi merupakan suatu pengalaman mendalam dan mengandung ketidakterbatasan kualitatif.
Baca juga: Bawa Jenazah Saefullah ke Balai Kota, Fakta Pertanyakan Sikap Anies
Lihat Juga :