Kisah Khalifah Hisham, Angkat Keturunan Penghuni Neraka Saqar sebagai Gubernur Madinah
Rabu, 09 Maret 2022 - 13:55 WIB
loading...
A
A
A
Dalam History of Tabari dijelaskan pada periode Hisham pemberontakan satu persatu muncul. Gejala umum yang terjadi dari serangkaian pemberontakan tersebut adalah menguatnya paham kesukuan di kalangan masyarakat yang dikuasai, dan mengerasnya fregmentasi politik antara Arab dan non-Arab.
Anehnya, Bani Umayyah seolah tidak menyadari bahwa sumber dari segala sumber masalah yang mereka hadapi adalah diri mereka sendiri. Bertahun-tahun Hisham dan keluarga Umayyah berusaha mengembalikan situasi yang berlangsung di zaman Umar bin Abdul Aziz , tapi selama durasi itu pula ia disibukkan dengan masalah pemberontakan di berbagai kawasan di seluruh wilayah.
Padahal situasi tersebut lahir sebagai respons atas maraknya praktik nepotisme dalam tubuh Dinasti Umayyah di era Hisham bin Abdul Malik. Wilayah-wilayah yang jauh diperlakukan seperti koloni, dan masyarakat non-Arab diperlakukan berbeda status politiknya.
Hisham, misalnya, tanpa pertimbangan objektif sedikitpun mengangkat pamannya dari pihak ibu yang bernama Ibrahim bin Hisyam bin Ismail sebagai gubernur di Madinah dan memilihnya sebagai Amirul Hajj (pemimpin jamaah haji).
Sosok pilihan Hisham ini sangat tidak kompeten, bahkan kebodohannya dalam hal agama dipertontonkan di hadapan jamaah haji yang datang dari berbagai negeri. Yang lebih parahnya, ia menyandarkan kredibilitas kata-katanya dari nasabnya, yang ketika diurai secara rinci ternyata berasal dari sosok yang oleh Al-Qur'an divonis sebagai penghuni neraka Saqar.
Pada musim haji tahun 109 H, Ibrahim bin Hisham berpidato di depan khalayak dengan membanggakan nasabnya, “Tanyalah apa saja kepadaku, aku akan bisa menjawabnya karena aku lebih tahu dari kalian. Akulah keturunan seorang yang tersendiri dan sangat unik (al-wahid).”
Maksudnya adalah sosok yang Allah SWT ciptakan sediri sebagaimana yang disebut dalam Al-Qur'an, Surat al-Mudatssir ayat 11, “Biarlah Aku bertindak terhadap orang yang aku ciptakan sendiri (wahidan)”.
Menurut Imam al-Qurtubi, Imam Suyuthi, dan Imam Ibn Katsir rangkaian ayat 11-26 Surat al-Mudatssir ditujukan kepada al-Walid bin al-Mughirah, yang tidak lain adalah kakek dari Ibrahim bin Hisham. Ia adalah salah satu tokoh Quraisy yang sangat memusuhi dakwah Rasulullah SAW. Dan di Ayat 26 Surat al-Mudatssir, Allah SWT tegas mengatakan “Kelak Aku akan memasukkanya ke dalam (neraka) Saqar.”
Baca juga: Masjid Lumpur Bani Umayyah Ditemukan, Dibangun di Awal Islam
Dikepung dari Segala Penjuru
Sebagai respons dari praktik nepotisme yang kronis di tubuh Dinasti Umayyah adalah lahirnya sejumlah pemberontakan di berbagai wilayah, mulai dari India, Asia Tengah, Persia, hingga Eropa dan Afrika Utara. Takhta khalifah pada masa Hisham bin Abdul Malik seperti dikepung dari segala penjuru. Tapi harus diakui, bahwa Hisham memang tangguh.
Beberapa pemberontakan yang terjadi seperti di India, Spanyol dan Afrika Utara bisa dipadamkan oleh angkatan perang Hisham. Tapi yang khas dari tipologi pemberontakan yang dihadapi pada era Hisham, adalah motifnya.
Anehnya, Bani Umayyah seolah tidak menyadari bahwa sumber dari segala sumber masalah yang mereka hadapi adalah diri mereka sendiri. Bertahun-tahun Hisham dan keluarga Umayyah berusaha mengembalikan situasi yang berlangsung di zaman Umar bin Abdul Aziz , tapi selama durasi itu pula ia disibukkan dengan masalah pemberontakan di berbagai kawasan di seluruh wilayah.
Padahal situasi tersebut lahir sebagai respons atas maraknya praktik nepotisme dalam tubuh Dinasti Umayyah di era Hisham bin Abdul Malik. Wilayah-wilayah yang jauh diperlakukan seperti koloni, dan masyarakat non-Arab diperlakukan berbeda status politiknya.
Hisham, misalnya, tanpa pertimbangan objektif sedikitpun mengangkat pamannya dari pihak ibu yang bernama Ibrahim bin Hisyam bin Ismail sebagai gubernur di Madinah dan memilihnya sebagai Amirul Hajj (pemimpin jamaah haji).
Sosok pilihan Hisham ini sangat tidak kompeten, bahkan kebodohannya dalam hal agama dipertontonkan di hadapan jamaah haji yang datang dari berbagai negeri. Yang lebih parahnya, ia menyandarkan kredibilitas kata-katanya dari nasabnya, yang ketika diurai secara rinci ternyata berasal dari sosok yang oleh Al-Qur'an divonis sebagai penghuni neraka Saqar.
Pada musim haji tahun 109 H, Ibrahim bin Hisham berpidato di depan khalayak dengan membanggakan nasabnya, “Tanyalah apa saja kepadaku, aku akan bisa menjawabnya karena aku lebih tahu dari kalian. Akulah keturunan seorang yang tersendiri dan sangat unik (al-wahid).”
Maksudnya adalah sosok yang Allah SWT ciptakan sediri sebagaimana yang disebut dalam Al-Qur'an, Surat al-Mudatssir ayat 11, “Biarlah Aku bertindak terhadap orang yang aku ciptakan sendiri (wahidan)”.
Menurut Imam al-Qurtubi, Imam Suyuthi, dan Imam Ibn Katsir rangkaian ayat 11-26 Surat al-Mudatssir ditujukan kepada al-Walid bin al-Mughirah, yang tidak lain adalah kakek dari Ibrahim bin Hisham. Ia adalah salah satu tokoh Quraisy yang sangat memusuhi dakwah Rasulullah SAW. Dan di Ayat 26 Surat al-Mudatssir, Allah SWT tegas mengatakan “Kelak Aku akan memasukkanya ke dalam (neraka) Saqar.”
Baca juga: Masjid Lumpur Bani Umayyah Ditemukan, Dibangun di Awal Islam
Dikepung dari Segala Penjuru
Sebagai respons dari praktik nepotisme yang kronis di tubuh Dinasti Umayyah adalah lahirnya sejumlah pemberontakan di berbagai wilayah, mulai dari India, Asia Tengah, Persia, hingga Eropa dan Afrika Utara. Takhta khalifah pada masa Hisham bin Abdul Malik seperti dikepung dari segala penjuru. Tapi harus diakui, bahwa Hisham memang tangguh.
Beberapa pemberontakan yang terjadi seperti di India, Spanyol dan Afrika Utara bisa dipadamkan oleh angkatan perang Hisham. Tapi yang khas dari tipologi pemberontakan yang dihadapi pada era Hisham, adalah motifnya.
Lihat Juga :