Bagaimana Cara Berpuasa pada Masa Kedatangan Dajjal?
Minggu, 20 Maret 2022 - 22:42 WIB
loading...
A
A
A
Bahkan Imam Syafi'i pernah berkata, "Jika sebuah hadits mencapai derajat shahih, maka itulah mazhabku."
Berikut penggalan Hadis tersebut yang artinya:
"Para sahabat bertanya, 'Wahai Rasulullah, berapa lamakah ia (Dajjal) berada di bumi?" Rasulullah menjawab, "Empat puluh hari, sehari seperti setahun, dan sehari seperti sebulan, lalu sehari seperti sepekan, kemudian sisanya seperti hari-hari kalian pada biasanya."
Para sahabat bertanya kembali: 'Wahai Rasulullah , apakah pada hari yang lamanya seperti satu tahun itu cukup bagi kita mengerjakan sholat –lima waktu– sekali saja?" Rasulullah kemudian menjawab: "Tidak, akan tetapi tentukanlah waktu seperti biasanya (dan dirikanlah sholat sesuai ketentuan waktu tersebut)".
Jadi apa yang kita bicarakan mengenai keberadaan Dajjal di bumi selama 40 hari tersebut bukanlah rekaan atau mitos belaka. Melainkan sebuah realita yang akan terjadi kelak. Karena hal tersebut telah dikabarkan langsung oleh Rasulullah, dan segala yang beliau kabarkan adalah wahyu dari Yang Maha Mengetahui.
Para sahabat ketika Rasulullah mengabarkan tentang berita kedatangan Dajjal ini mereka tidak pernah bertanya tentang bagaimana bumi tidak beredar selama satu tahun, atau bagaimana rotasi bumi mengalami "slow motion" sedemikian rupa. Para sahabat dengan tingkat keimanan yang tinggi tidak pernah menemui kesulitan dalam "mencerna" setiap permasalahan gaib yang diceritakan Rasulullah seperti ini.
Mereka tidak pernah mengingkari bahwa Rasulullah dapat melakukan perjalanan ke Baitul Maqdis lalu ke Sidratul Muntaha dalam semalam saja ketika Isra’-Mi’raj. Mereka juga bukan seperti Bani Israil yang enggan menyembah Tuhannya Nabi Musa sebelum mereka melihat-Nya dengan kasat mata.
Oleh sebab itu, para sahabat tidak menanyakan tentang hal-hal remeh yang terlalu kecil untuk dapat terjadi atas kehendak Allah seperti kemacetan tata-surya pada masa Dajjal itu. Yang mereka tanyakan justru tentang amalan ibadah yang mungkin akan terganggu jika bumi tidak bergerak secara normal sekian lamanya.
Mereka lalu bertanya kepada Rasulullah : "Apakah pada hari yang lamanya seperti satu tahun itu cukup bagi kita mengerjakan shalat –lima waktu– sekali saja?” Rasulullah kemudian menjawab: "Tidak, akan tetapi tentukanlah waktu seperti biasanya (dan dirikanlah sholat sesuai ketentuan waktu tersebut)".
Kemacetan rotasi bumi pada masa Dajjal tersebut tentu menimbulkan problem dalam prosesi ibadah. Sebab kita ketahui bahwa sholat lima waktu memiliki ketergantungan kepada perputaran bumi dan peredarannya terhadap matahari, dimana shalat Subuh wajib dilaksanakan ketika fajar, shalat Zuhur yang wajib didirikan ketika matahari tergelincir dari puncak vertikal, shalat Maghrib yang wajib dikerjakan saat matahari tenggelam. Dan juga shalat Jumat yang wajib dilaksanakan sekali dalam sepekan.
Berikut penggalan Hadis tersebut yang artinya:
"Para sahabat bertanya, 'Wahai Rasulullah, berapa lamakah ia (Dajjal) berada di bumi?" Rasulullah menjawab, "Empat puluh hari, sehari seperti setahun, dan sehari seperti sebulan, lalu sehari seperti sepekan, kemudian sisanya seperti hari-hari kalian pada biasanya."
Para sahabat bertanya kembali: 'Wahai Rasulullah , apakah pada hari yang lamanya seperti satu tahun itu cukup bagi kita mengerjakan sholat –lima waktu– sekali saja?" Rasulullah kemudian menjawab: "Tidak, akan tetapi tentukanlah waktu seperti biasanya (dan dirikanlah sholat sesuai ketentuan waktu tersebut)".
Jadi apa yang kita bicarakan mengenai keberadaan Dajjal di bumi selama 40 hari tersebut bukanlah rekaan atau mitos belaka. Melainkan sebuah realita yang akan terjadi kelak. Karena hal tersebut telah dikabarkan langsung oleh Rasulullah, dan segala yang beliau kabarkan adalah wahyu dari Yang Maha Mengetahui.
Para sahabat ketika Rasulullah mengabarkan tentang berita kedatangan Dajjal ini mereka tidak pernah bertanya tentang bagaimana bumi tidak beredar selama satu tahun, atau bagaimana rotasi bumi mengalami "slow motion" sedemikian rupa. Para sahabat dengan tingkat keimanan yang tinggi tidak pernah menemui kesulitan dalam "mencerna" setiap permasalahan gaib yang diceritakan Rasulullah seperti ini.
Mereka tidak pernah mengingkari bahwa Rasulullah dapat melakukan perjalanan ke Baitul Maqdis lalu ke Sidratul Muntaha dalam semalam saja ketika Isra’-Mi’raj. Mereka juga bukan seperti Bani Israil yang enggan menyembah Tuhannya Nabi Musa sebelum mereka melihat-Nya dengan kasat mata.
Oleh sebab itu, para sahabat tidak menanyakan tentang hal-hal remeh yang terlalu kecil untuk dapat terjadi atas kehendak Allah seperti kemacetan tata-surya pada masa Dajjal itu. Yang mereka tanyakan justru tentang amalan ibadah yang mungkin akan terganggu jika bumi tidak bergerak secara normal sekian lamanya.
Mereka lalu bertanya kepada Rasulullah : "Apakah pada hari yang lamanya seperti satu tahun itu cukup bagi kita mengerjakan shalat –lima waktu– sekali saja?” Rasulullah kemudian menjawab: "Tidak, akan tetapi tentukanlah waktu seperti biasanya (dan dirikanlah sholat sesuai ketentuan waktu tersebut)".
Kemacetan rotasi bumi pada masa Dajjal tersebut tentu menimbulkan problem dalam prosesi ibadah. Sebab kita ketahui bahwa sholat lima waktu memiliki ketergantungan kepada perputaran bumi dan peredarannya terhadap matahari, dimana shalat Subuh wajib dilaksanakan ketika fajar, shalat Zuhur yang wajib didirikan ketika matahari tergelincir dari puncak vertikal, shalat Maghrib yang wajib dikerjakan saat matahari tenggelam. Dan juga shalat Jumat yang wajib dilaksanakan sekali dalam sepekan.
Lihat Juga :