Bagaimana Cara Berpuasa pada Masa Kedatangan Dajjal?

loading...
Bagaimana Cara Berpuasa pada Masa Kedatangan Dajjal?
Keadaan dunia di masa kedatangan Dajjal diprediksi akan menimbulkan persoalan hebat termasuk prosesi ibadah puasa dan sholat bagi kaum muslimin. Foto ilustrasi/Ist
Akhir zaman selalu dikaitkan dengan munculnya Dajjal (الدّجّال) si pembohong besar. Kedatangannya ditakuti semua orang mengingat fitnahnya yang sangat dahsyat.

Pertanyaannya, bagaimana cara kita berpuasa pada masa kedatangan Dajjal atau kemunculan Ya'juj dan Ma'juj?

Baca Juga: Kisah Tamim Ad-Dari Bertemu Dajjal di Sebuah Pulau Kecil

Umat Islam patut bersyukur karena Baginda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah mewanti-wanti kemunculan Dajjal di akhir zaman kelak. Beliau mengungkap identitas Dajjal beserta ciri-ciri fisiknya, pekerjaannya dan berapa lama dia berada di bumi.

Melansir laman hidayatullah.com disebutkan bahwa ciri fisik paling menonjol dalam diri Dajjal ialah matanya yang buta sebelah (a'war) dan di jidatnya terdapat tulisan "ka-fa-ra" yang dapat dibaca oleh semua orang mukmin sekalipun buta huruf.

Pekerjaan Dajjal adalah menebar kebohongan dan fitnah (ujian) yang merupakan fitnah paling besar selama bumi diciptakan. Tujuannya adalah menuhankan diri, serta mencari pengikut sebanyak-banyaknya untuk menemaninya di neraka yang kekal selamanya.

Sedangkan masa keberadaan Dajjal di dunia ini adalah 40 hari lamanya. Dimana terdapat satu hari yang lamanya seperti satu tahun, dan terdapat satu hari yang lamanya seperti satu bulan. Kemudian satu hari yang lamanya seperti satu minggu, dan hari-hari lainnya (37 hari) seperti hari-hari normal biasanya (24 jam).

Dengan demikian akan terjadi sebuah "keajaiban" pada masa itu karena teori peredaran bumi yang berotasi pada porosnya sekali setiap 24 jam tidak akan berlaku.

Perihal keberadaan Dajjal selama 40 hari di bumi akan disertai munculnya "kemacetan" tata-surya. Hal ini telah dikabarkan Rasulullah dalam hadis beliau yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shahih-nya melalui riwayat Nawwas ibnu Sam’an.

Hadits yang cukup panjang tersebut secara sistem transmisi periwayatan (sanad) tidak terdapat gangguan teknis alias clear. Oleh karenanya hadits ini mendapatkan rating sebagai hadits shahih yang dapat dijadikan sebagai landasan hukum.

Bahkan Imam Syafi'i pernah berkata, "Jika sebuah hadits mencapai derajat shahih, maka itulah mazhabku."

Berikut penggalan Hadis tersebut yang artinya:

"Para sahabat bertanya, 'Wahai Rasulullah, berapa lamakah ia (Dajjal) berada di bumi?" Rasulullah menjawab, "Empat puluh hari, sehari seperti setahun, dan sehari seperti sebulan, lalu sehari seperti sepekan, kemudian sisanya seperti hari-hari kalian pada biasanya."

Para sahabat bertanya kembali: 'Wahai Rasulullah , apakah pada hari yang lamanya seperti satu tahun itu cukup bagi kita mengerjakan sholat –lima waktu– sekali saja?" Rasulullah kemudian menjawab: "Tidak, akan tetapi tentukanlah waktu seperti biasanya (dan dirikanlah sholat sesuai ketentuan waktu tersebut)".

Jadi apa yang kita bicarakan mengenai keberadaan Dajjal di bumi selama 40 hari tersebut bukanlah rekaan atau mitos belaka. Melainkan sebuah realita yang akan terjadi kelak. Karena hal tersebut telah dikabarkan langsung oleh Rasulullah, dan segala yang beliau kabarkan adalah wahyu dari Yang Maha Mengetahui.

Para sahabat ketika Rasulullah mengabarkan tentang berita kedatangan Dajjal ini mereka tidak pernah bertanya tentang bagaimana bumi tidak beredar selama satu tahun, atau bagaimana rotasi bumi mengalami "slow motion" sedemikian rupa. Para sahabat dengan tingkat keimanan yang tinggi tidak pernah menemui kesulitan dalam "mencerna" setiap permasalahan gaib yang diceritakan Rasulullah seperti ini.

Mereka tidak pernah mengingkari bahwa Rasulullah dapat melakukan perjalanan ke Baitul Maqdis lalu ke Sidratul Muntaha dalam semalam saja ketika Isra’-Mi’raj. Mereka juga bukan seperti Bani Israil yang enggan menyembah Tuhannya Nabi Musa sebelum mereka melihat-Nya dengan kasat mata.

Oleh sebab itu, para sahabat tidak menanyakan tentang hal-hal remeh yang terlalu kecil untuk dapat terjadi atas kehendak Allah seperti kemacetan tata-surya pada masa Dajjal itu. Yang mereka tanyakan justru tentang amalan ibadah yang mungkin akan terganggu jika bumi tidak bergerak secara normal sekian lamanya.

Mereka lalu bertanya kepada Rasulullah : "Apakah pada hari yang lamanya seperti satu tahun itu cukup bagi kita mengerjakan shalat –lima waktu– sekali saja?” Rasulullah kemudian menjawab: "Tidak, akan tetapi tentukanlah waktu seperti biasanya (dan dirikanlah sholat sesuai ketentuan waktu tersebut)".

Kemacetan rotasi bumi pada masa Dajjal tersebut tentu menimbulkan problem dalam prosesi ibadah. Sebab kita ketahui bahwa sholat lima waktu memiliki ketergantungan kepada perputaran bumi dan peredarannya terhadap matahari, dimana shalat Subuh wajib dilaksanakan ketika fajar, shalat Zuhur yang wajib didirikan ketika matahari tergelincir dari puncak vertikal, shalat Maghrib yang wajib dikerjakan saat matahari tenggelam. Dan juga shalat Jumat yang wajib dilaksanakan sekali dalam sepekan.
halaman ke-1
preload video