Di Kaki Ka'bah, Tatkala Khalifah Meminta Fatwa dari Bekas Budak
Kamis, 18 Juni 2020 - 15:07 WIB
loading...
A
A
A
Telah diriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar berkunjung ke Makkah untuk melakukan Umrah. Orang-orang mengerumuni beliau untuk menanyakan persoalan agama dan meminta fatwa kepada beliau, lalu beliau berkata: “Sungguh aku heran kepada kalian wahai penduduk Makkah, mengapa kalian mengerumuni aku untuk bertanya tentang masalah-masalah tersebut padahal di tengah-tengah kalian ada Atha’ bin Abi Rabah?!”
Atha’ bin Abi Rabah mencapai puncak derajat dalam hal agama dan ilmu karena dua hal: Pertama, beliau mampu mengendalikan jiwanya sehingga tidak memberikan peluang untuk sibuk dalam urusan yang tidak berguna baginya.
Baca juga: Amalan Yang Bisa Menjadi Dosa Bagi Seorang Istri
Kedua, beliau mampu mengatur waktunya sehingga tidak membuangnya secara sia-sia, seperti mengobrol maupun perbuatan tak berguna lainnya.
Muhammad bin Suuqah menceritakan kepada jama’ah yang mengunjungi beliau: “Maukah aku ceritakan kepada kalian sesuatu yang mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi kalian sebagaimana kami telah mendapatkan manfaat karenanya?”
Mereka berkata: ‘Mau.”
Beliau berkata: “Suatu hari Atha’ bin Abi Rabah menasihatiku, “Wahai putra saudaraku, sesungguhnya orang-orang sebelum kita (yakni para sahabat) tidak menyukai banyak bicara.”
Lalu aku katakan: “Apa yang dianggap banyak bicara menurut mereka?”
Beliau menjawab: “Mereka menganggap bahwa setiap ucapan termasuk berlebih-lebihan melainkan dalam rangka membaca Al-Kitab dan memahaminya, atau membaca hadis Rasulullah yang diriwayatkan dan harus diketahui, atau memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah dan yang mungkar, atau berbicara tentang ilmu yang dengannya menjadi sarana taqarrub kepada Allah Ta’ala, atau engkau membicarakan tentang kebutuhan dan pekerjaan yang memang harus dibicarakan.
Lalu beliau memperhatikan raut wajahku seraya berkata: “Apakah kalian mengingkari firman Allah: ‘Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu)” (A1-Infithar:10-11) dan bahwa masing-masing dan kalian disertai oleh dua malaikat: “(yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kin. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaaf: 17-18)
Baca juga: 4 Perkara Syarat Diterimanya Amal Saleh dan Digandakan Pahalanya
Kemudian beliau berkata: “Tidakkah salah seorang di antara kita merasa malu manakala dibukakan lembaran catatan amal yang dikerjakan sepanjang siang, lalu dia mendapatkan di dalamnya sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan urusan agama maupun kepentingan dunianya?”
Sungguh, Allah memberikan manfaat kepada banyak orang dengan ilmu Atha’ bin Abi Rabah. Di antara mereka ada yang menjadi ahli ilmu yang handal, ada yang menjadi pengusaha dan lain- lain.
Baca juga: Ibadah Paling Dicintai Allah: Silaturahim, Amar Ma'ruf, dan N ahi Munkar
Imam Abu Hanifah An-Nu’man menceritakan pengalaman beliau: “Aku pemah melakukan lima kesalahan ketika melakukan manasik di Mekah, lalu seorang tukang cukur mengajariku. Peristiwa tersebut terjadi manakala aku bermaksud mencukur rambut karena hendak menyudahi ihram, maka aku mendatangi seorang tukang cukur, lalu aku bertanya: “Berapa upah yang harus aku bayar untuk mencukur rambut kepala?”
Tukang cukur itu menjawab: “Semoga Allah memberikan hidayah kepada Anda, ibadah tidak mempersyaratkan itu, duduklah dan posisikan kepala sesuka Anda.”
Akupun merasa grogi dan duduk. Hanya saja ketika itu aku duduk membelakangi kiblat, maka tukang cukur tersebut mengisyaratkan agar aku menghadap kiblat dan akupun menuruti kata-katanya. Yang demikian itu semakin membuat aku salah tingkah.
Lalu saya serahkan kepala bagian kiri untuk dipangkas rambutnya, namun tukang cukur itu berkata: “Berikan bagian kanan.”
Lalu akupun menyerahkan bagian kanan kepalaku. “Tukang cukur itu mulai memangkas rambutku sementara aku hanya diam memperhatikannya dengan takjub.
Melihat sikapku, tukang cukur itu berkata: “Mengapa Anda diam saja? Bertakbirlah!”
Lalu akupun takbir hingga aku beranjak untuk pergi. Untuk kesekian kalinya tukang cukur itu menegurku: “Hendak kemanakah Anda?”
Aku katakan: “Aku hendak pergi menuju kendaraanku.”
Tukang cukur itu berkata: “Salatlah dua rakaat dahulu baru kemudian silakan pergi sesuka Anda.”
Akupun salat dua rakaat, lalu aku berkata pada diriku sendiri: ‘Tidak mungkin seorang tukang cukur bisa berbuat seperti ini melainkan pasti dia memiliki ilmu.”
Kemudian aku bertanya kepadanya: “Dari manakah Anda mendapatkan tata cara manasik yang telah Anda ajarkan kepadaku tadi?”
Orang itu menjawab: “Aku melihat Atha’ bin Abi Rabah mengerjakan seperti itu lalu aku mengambilnya dan memberikan pengarahan kepada manusia dengannya.”
Baca juga: Berikut Ini Tiga Ibadah yang Paling Dicintai Allah Ta'ala
Sungguh, gemerlapnya dunia telah merayu Atha’ bin Abi Rabah namun beliau berpaling dan menampiknya dengan serius. Sepanjang hayat beliau hanya mengenakan baju yang harganya tidak lebih dan 5 dirham saja.
Para khalifah telah meminta kesediaan beliau untuk menjadi pendamping mereka, namun beliau tidak mengabulkannya. Karena beliau takut agamanya ternoda oleh dunianya. Namun demikian, terkadang beliau mengunjungi khalifah jika beliau merasa hal itu dapat mendatangkan manfaat bagi kaum muslimin maupun kebaikan bagi Islam.
Seperti dalam peristiwa yang dikisahkan oleh Utsman bin Atha’ Al-Khurasani:
Atha’ bin Abi Rabah mencapai puncak derajat dalam hal agama dan ilmu karena dua hal: Pertama, beliau mampu mengendalikan jiwanya sehingga tidak memberikan peluang untuk sibuk dalam urusan yang tidak berguna baginya.
Baca juga: Amalan Yang Bisa Menjadi Dosa Bagi Seorang Istri
Kedua, beliau mampu mengatur waktunya sehingga tidak membuangnya secara sia-sia, seperti mengobrol maupun perbuatan tak berguna lainnya.
Muhammad bin Suuqah menceritakan kepada jama’ah yang mengunjungi beliau: “Maukah aku ceritakan kepada kalian sesuatu yang mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi kalian sebagaimana kami telah mendapatkan manfaat karenanya?”
Mereka berkata: ‘Mau.”
Beliau berkata: “Suatu hari Atha’ bin Abi Rabah menasihatiku, “Wahai putra saudaraku, sesungguhnya orang-orang sebelum kita (yakni para sahabat) tidak menyukai banyak bicara.”
Lalu aku katakan: “Apa yang dianggap banyak bicara menurut mereka?”
Beliau menjawab: “Mereka menganggap bahwa setiap ucapan termasuk berlebih-lebihan melainkan dalam rangka membaca Al-Kitab dan memahaminya, atau membaca hadis Rasulullah yang diriwayatkan dan harus diketahui, atau memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah dan yang mungkar, atau berbicara tentang ilmu yang dengannya menjadi sarana taqarrub kepada Allah Ta’ala, atau engkau membicarakan tentang kebutuhan dan pekerjaan yang memang harus dibicarakan.
Lalu beliau memperhatikan raut wajahku seraya berkata: “Apakah kalian mengingkari firman Allah: ‘Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu)” (A1-Infithar:10-11) dan bahwa masing-masing dan kalian disertai oleh dua malaikat: “(yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kin. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaaf: 17-18)
Baca juga: 4 Perkara Syarat Diterimanya Amal Saleh dan Digandakan Pahalanya
Kemudian beliau berkata: “Tidakkah salah seorang di antara kita merasa malu manakala dibukakan lembaran catatan amal yang dikerjakan sepanjang siang, lalu dia mendapatkan di dalamnya sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan urusan agama maupun kepentingan dunianya?”
Sungguh, Allah memberikan manfaat kepada banyak orang dengan ilmu Atha’ bin Abi Rabah. Di antara mereka ada yang menjadi ahli ilmu yang handal, ada yang menjadi pengusaha dan lain- lain.
Baca juga: Ibadah Paling Dicintai Allah: Silaturahim, Amar Ma'ruf, dan N ahi Munkar
Imam Abu Hanifah An-Nu’man menceritakan pengalaman beliau: “Aku pemah melakukan lima kesalahan ketika melakukan manasik di Mekah, lalu seorang tukang cukur mengajariku. Peristiwa tersebut terjadi manakala aku bermaksud mencukur rambut karena hendak menyudahi ihram, maka aku mendatangi seorang tukang cukur, lalu aku bertanya: “Berapa upah yang harus aku bayar untuk mencukur rambut kepala?”
Tukang cukur itu menjawab: “Semoga Allah memberikan hidayah kepada Anda, ibadah tidak mempersyaratkan itu, duduklah dan posisikan kepala sesuka Anda.”
Akupun merasa grogi dan duduk. Hanya saja ketika itu aku duduk membelakangi kiblat, maka tukang cukur tersebut mengisyaratkan agar aku menghadap kiblat dan akupun menuruti kata-katanya. Yang demikian itu semakin membuat aku salah tingkah.
Lalu saya serahkan kepala bagian kiri untuk dipangkas rambutnya, namun tukang cukur itu berkata: “Berikan bagian kanan.”
Lalu akupun menyerahkan bagian kanan kepalaku. “Tukang cukur itu mulai memangkas rambutku sementara aku hanya diam memperhatikannya dengan takjub.
Melihat sikapku, tukang cukur itu berkata: “Mengapa Anda diam saja? Bertakbirlah!”
Lalu akupun takbir hingga aku beranjak untuk pergi. Untuk kesekian kalinya tukang cukur itu menegurku: “Hendak kemanakah Anda?”
Aku katakan: “Aku hendak pergi menuju kendaraanku.”
Tukang cukur itu berkata: “Salatlah dua rakaat dahulu baru kemudian silakan pergi sesuka Anda.”
Akupun salat dua rakaat, lalu aku berkata pada diriku sendiri: ‘Tidak mungkin seorang tukang cukur bisa berbuat seperti ini melainkan pasti dia memiliki ilmu.”
Kemudian aku bertanya kepadanya: “Dari manakah Anda mendapatkan tata cara manasik yang telah Anda ajarkan kepadaku tadi?”
Orang itu menjawab: “Aku melihat Atha’ bin Abi Rabah mengerjakan seperti itu lalu aku mengambilnya dan memberikan pengarahan kepada manusia dengannya.”
Baca juga: Berikut Ini Tiga Ibadah yang Paling Dicintai Allah Ta'ala
Sungguh, gemerlapnya dunia telah merayu Atha’ bin Abi Rabah namun beliau berpaling dan menampiknya dengan serius. Sepanjang hayat beliau hanya mengenakan baju yang harganya tidak lebih dan 5 dirham saja.
Para khalifah telah meminta kesediaan beliau untuk menjadi pendamping mereka, namun beliau tidak mengabulkannya. Karena beliau takut agamanya ternoda oleh dunianya. Namun demikian, terkadang beliau mengunjungi khalifah jika beliau merasa hal itu dapat mendatangkan manfaat bagi kaum muslimin maupun kebaikan bagi Islam.
Seperti dalam peristiwa yang dikisahkan oleh Utsman bin Atha’ Al-Khurasani:
Lihat Juga :