Surat Al-Qadr Ayat 3: Lailatul Qadar, Malam Lebih Baik dari Seribu Bulan
Selasa, 19 April 2022 - 14:25 WIB
loading...
A
A
A
“Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu (Lailatul Qadar) lebih baik daripada seribu bulan.” ( QS Al-Qadr [97] ayat 2-3).
Baca juga: Sejarah Nuzulul Quran, Wahyu Pertama Turun saat Nabi Muhammad SAW Belum Menjadi Rasul
Menurut Quraish Shihab , surat al-Qadr [97] ayat 2-3 merupakan penjelasan dari Allah SWT tentang kemuliaan Lailatul Qadar. Dia seakan-akan berfirman: “Dan apakah yang menjadikan engkau tahu apakah Lailatul Qadar? Engkau tidak akan mampu mengetahui dan menjangkau secara keseluruhan kemuliaan Lailatul Qadar itu. Tak ada kata yang mampu menjelaskannya dan engkau hanya mengetahui bahwa malam kemuliaan itu (Lailatul Qadar) lebih baik daripada seribu bulan.
Setidaknya ada empat makna qadr dari ayat di atas yang telah disampaikan ulama, yakni: Pertama, penetapan. Lailatul Qadar adalah malam penetapan Allah SWT atas perjalanan hidup makhluk selama setahun. Kedua, pengaturan. Artinya, Lailatul Qadar adalah malam di mana Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai khittah yang mengatur nabi Muhammad saw dalam mendakwahi manusia kepada kebaikan.
Ketiga, kemuliaan. Ini berarti bahwa sesungguhnya Allah swt telah menurunkan Al-Qur’an pada malam yang mulia. Malam tersebut dimuliakan karena Al-Qur’an turun padanya sebagaimana nabi Muhammad saw yang mendapatkan kemuliaan dengan datangnya wahyu. Keempat, sempit. Maksudnya pada malam itu bumi sesak karena banyaknya malaikat yang turun.
Menurut Syekh Nawawi al-Bantani dalam "Marah Labid" kemuliaan Lailatul Qadar – salah satunya – terletak pada kadar ibadah di malam Lailatul Qadar lebih baik dari pada ibadah seribu bulan yang tidak ada Lailatul Qadar di dalamnya.
Pandangan ini disampaikan oleh Imam Mujahid dengan dasar kisah dari Nabi SAW mengenai seorang bani Israil yang mendapatkan kebaikan setara seribu bulan manakala beribadah di malam Lailatul Qadar.
Baca juga: Apa itu Nuzulul Qur’an?
Pandangan serupa dituturkan al-Sa’adi dalam Tafsir al-Sa’adi. Menurutnya, surah al-Qadr [97] ayat 3 bermakna kemuliaan Lailatul Qadar sebanding dengan kemuliaan seribu bulan tanpa Lailatul Qadar. Ibadah yang dilakukan di dalamnya juga lebih baik daripada ibadah yang dilakukan dalam seribu bulan. Keistimewaan ini merupakan anugerah Allah swt bagi umat nabi Muhammad yang memiliki kelemahan seperti pendeknya umur.
Sedangkan menurut mayoritas ulama, kemuliaan Lailatul Qadar disebabkan karena Al-Qur’an turun padanya. Hal ini telah disyaratkan oleh AllahSWT pada surah al-Qadr ayat pertama, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar.” Karena itulah, Malam kemuliaan itu (Lailatul Qadar) lebih baik daripada seribu bulan yang di dalamnya tidak ada lailatul qadar.
Baca juga: Sejarah Nuzulul Quran, Wahyu Pertama Turun saat Nabi Muhammad SAW Belum Menjadi Rasul
Menurut Quraish Shihab , surat al-Qadr [97] ayat 2-3 merupakan penjelasan dari Allah SWT tentang kemuliaan Lailatul Qadar. Dia seakan-akan berfirman: “Dan apakah yang menjadikan engkau tahu apakah Lailatul Qadar? Engkau tidak akan mampu mengetahui dan menjangkau secara keseluruhan kemuliaan Lailatul Qadar itu. Tak ada kata yang mampu menjelaskannya dan engkau hanya mengetahui bahwa malam kemuliaan itu (Lailatul Qadar) lebih baik daripada seribu bulan.
Setidaknya ada empat makna qadr dari ayat di atas yang telah disampaikan ulama, yakni: Pertama, penetapan. Lailatul Qadar adalah malam penetapan Allah SWT atas perjalanan hidup makhluk selama setahun. Kedua, pengaturan. Artinya, Lailatul Qadar adalah malam di mana Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai khittah yang mengatur nabi Muhammad saw dalam mendakwahi manusia kepada kebaikan.
Ketiga, kemuliaan. Ini berarti bahwa sesungguhnya Allah swt telah menurunkan Al-Qur’an pada malam yang mulia. Malam tersebut dimuliakan karena Al-Qur’an turun padanya sebagaimana nabi Muhammad saw yang mendapatkan kemuliaan dengan datangnya wahyu. Keempat, sempit. Maksudnya pada malam itu bumi sesak karena banyaknya malaikat yang turun.
Menurut Syekh Nawawi al-Bantani dalam "Marah Labid" kemuliaan Lailatul Qadar – salah satunya – terletak pada kadar ibadah di malam Lailatul Qadar lebih baik dari pada ibadah seribu bulan yang tidak ada Lailatul Qadar di dalamnya.
Pandangan ini disampaikan oleh Imam Mujahid dengan dasar kisah dari Nabi SAW mengenai seorang bani Israil yang mendapatkan kebaikan setara seribu bulan manakala beribadah di malam Lailatul Qadar.
Baca juga: Apa itu Nuzulul Qur’an?
Pandangan serupa dituturkan al-Sa’adi dalam Tafsir al-Sa’adi. Menurutnya, surah al-Qadr [97] ayat 3 bermakna kemuliaan Lailatul Qadar sebanding dengan kemuliaan seribu bulan tanpa Lailatul Qadar. Ibadah yang dilakukan di dalamnya juga lebih baik daripada ibadah yang dilakukan dalam seribu bulan. Keistimewaan ini merupakan anugerah Allah swt bagi umat nabi Muhammad yang memiliki kelemahan seperti pendeknya umur.
Sedangkan menurut mayoritas ulama, kemuliaan Lailatul Qadar disebabkan karena Al-Qur’an turun padanya. Hal ini telah disyaratkan oleh AllahSWT pada surah al-Qadr ayat pertama, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar.” Karena itulah, Malam kemuliaan itu (Lailatul Qadar) lebih baik daripada seribu bulan yang di dalamnya tidak ada lailatul qadar.
Lihat Juga :