3 Idiom yang Disorot Pada Surah Ar-Rum Ayat 30, Terakhir Soal Fitrah
Jum'at, 22 April 2022 - 14:31 WIB
loading...
A
A
A
Orang itu pun lantas tertegun dan teringat oleh keadaan yang menimpanya, yakni kesadaran fitri manusia akan keberadaan Tuhannya.
Baca juga: Makna dan Keutamaan Membaca Surat At-Tin, Surat Favorit Para Imam
Kecenderungan kuat pada Tuhan ini memang bisa saja “tergantikan” oleh tuhan-tuhan palsu, sebagaimana dot bisa saja menggantikan puting ibu. Akan tetapi, sebagaimana bayi akan segera kembali menangis dan meraung hingga parau begitu ia sadar bahwa dot tidak bisa memuaskannya, demikian pula halnya dengan penghambaan manusia kepada tuhan-tuhan palsunya.
Fitrah manusia menuntut untuk kembali kepada hakikatnya sebagai hamba yang hanya merunduk rendah di hadapan Tuhan sejati. Dan sebelum kehambaan (‘ubudiyyah) dan penghambaan (‘ibadah) kepada Tuhan dan Pemilik Sejati itu tercapai, manusia akan senantiasa berada dalam keadaan sesat, sakit, lalai, keluar dari keasliannya, hina dina dan sebagainya. Allah berfirman,
“Dan jangan kamu bikin-bikin tuhan selain Allah sehingga kamu menjadi hina dina. Dan Tuhanmu telah memerintahkanmu untuk tidak menyembah selain-Nya…” ( QS 17 :22-23)
Dalam pandangan para sufi, bagian pertama ayat ini menegaskan bahwa penghambaan pada berbagai manifestasi tuhan palsu hanya akan memerosokkannya kepada kehinaan dan kenistaan.
Sedangkan bagian setelahnya mengungkapkan bahwa Allah telah menurunkan perintah dan putusan (qadha’) pada manusia, baik dalam konteks hukum kealaman (takwini) maupun syariat, agar tidak menyembah selain-Nya. Dan perintah Allah pastilah terlaksana berdasarkan firman-Nya,
“Sesungguhnya perintah-Nya bilamana Dia menghendaki sesuatu ialah dengan mengatakan kepadanya: “Jadilah!”, maka menjadilah ia.” ( QS 36 :83).
Baca juga: Surat Ibrahim : Pentingnya Bersyukur
Dalam konteks yang sama Allah berfirman,
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama selurus-lurusnya, dan supaya mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”( QS Al-Bayyinah [98] :5).
Senada dengan itu, dalam doa Nabi Khidir as disebutkan, “Sesungguhnya Engkau telah memutuskan (qadha) hamba-hamba-Mu agar mereka hanya menyembah-Mu, dan Engkau perintahkan mereka agar hanya berdoa kepada-Mu, lalu Engkau menjamin akan menerima dan menjawab semua itu.”
Baca juga: Makna dan Keutamaan Membaca Surat At-Tin, Surat Favorit Para Imam
Kecenderungan kuat pada Tuhan ini memang bisa saja “tergantikan” oleh tuhan-tuhan palsu, sebagaimana dot bisa saja menggantikan puting ibu. Akan tetapi, sebagaimana bayi akan segera kembali menangis dan meraung hingga parau begitu ia sadar bahwa dot tidak bisa memuaskannya, demikian pula halnya dengan penghambaan manusia kepada tuhan-tuhan palsunya.
Fitrah manusia menuntut untuk kembali kepada hakikatnya sebagai hamba yang hanya merunduk rendah di hadapan Tuhan sejati. Dan sebelum kehambaan (‘ubudiyyah) dan penghambaan (‘ibadah) kepada Tuhan dan Pemilik Sejati itu tercapai, manusia akan senantiasa berada dalam keadaan sesat, sakit, lalai, keluar dari keasliannya, hina dina dan sebagainya. Allah berfirman,
“Dan jangan kamu bikin-bikin tuhan selain Allah sehingga kamu menjadi hina dina. Dan Tuhanmu telah memerintahkanmu untuk tidak menyembah selain-Nya…” ( QS 17 :22-23)
Dalam pandangan para sufi, bagian pertama ayat ini menegaskan bahwa penghambaan pada berbagai manifestasi tuhan palsu hanya akan memerosokkannya kepada kehinaan dan kenistaan.
Sedangkan bagian setelahnya mengungkapkan bahwa Allah telah menurunkan perintah dan putusan (qadha’) pada manusia, baik dalam konteks hukum kealaman (takwini) maupun syariat, agar tidak menyembah selain-Nya. Dan perintah Allah pastilah terlaksana berdasarkan firman-Nya,
“Sesungguhnya perintah-Nya bilamana Dia menghendaki sesuatu ialah dengan mengatakan kepadanya: “Jadilah!”, maka menjadilah ia.” ( QS 36 :83).
Baca juga: Surat Ibrahim : Pentingnya Bersyukur
Dalam konteks yang sama Allah berfirman,
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama selurus-lurusnya, dan supaya mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”( QS Al-Bayyinah [98] :5).
Senada dengan itu, dalam doa Nabi Khidir as disebutkan, “Sesungguhnya Engkau telah memutuskan (qadha) hamba-hamba-Mu agar mereka hanya menyembah-Mu, dan Engkau perintahkan mereka agar hanya berdoa kepada-Mu, lalu Engkau menjamin akan menerima dan menjawab semua itu.”
(mhy)
Lihat Juga :