3 Idiom yang Disorot Pada Surah Ar-Rum Ayat 30, Terakhir Soal Fitrah
Jum'at, 22 April 2022 - 14:31 WIB
loading...
A
A
A
Kedua, fitrah ada pada segenap individu manusia, terlepas dari segala perbedaan yang ada pada mereka. Syaikh Taqi Mishbah Yazdi dalam kitab "Ma’arif Al-Quran" menyebutkan dua manifestasi fitrah: pertama pada tataran pengetahuan dan kesadaran; dan kedua pada tataran keinginan dan kecenderungan.
Selanjutnya, fitrah manusia mengantarkannya kepada kehambaan dan penghambaan. Sejenak saja manusia menengok pada dirinya, ia akan menemukan hakikat kehambaan seperti terungkap pada kekurangan, ketergantungan, kefakiran, kehinaan dan kesementaraan yang menyelubungi hidupnya.
Dan hakikat itulah yang akan mengarahkannya kepada kesadaran dan penghayatan mengenai Pencipta alam. Sedikit teguran dan gugahan sudah memadai untuk menyadarkan seorang manusia akan keberadaan dan kehadiran Ilahi di alam semesta.
Baca juga: Surat Nuh: Kisah Nabi Nuh Lengkap dalam Satu Surat
Bagi para sufi, ada dua jenis teguran: yang diupayakan oleh manusia itu sendiri dengan perenungan dan pengendalian diri; dan yang dilakukan langsung oleh Tuhan melalui berbagai kejadian dan peristiwa.
Sekali waktu pernah Ja’far Ash-Shadiq diminta orang untuk menguraikan tentang Tuhan sehingga seakan dia melihat-Nya.
Imam bertanya: “Pernahkah kau berlayar?”
“Ya,” jawabnya.
“Pernahkah kapalmu diterjang ombak yang dahsyat?”
“Ya.”
“Apa pada waktu itu kau kehilangan harapan pada segala yang kau lihat dan kau merasa bahwa ajalmu telah tiba?”
“Ya.”
“Lalu apa kau masih punya harapan untuk selamat?”
“Ya.”
“Nah, kalau kau telah kehilangan harapan pada semua sarana (penyelamatan), lalu pada siapa kau gantungkan harapanmu di detik-detik terakhir itu?”
Selanjutnya, fitrah manusia mengantarkannya kepada kehambaan dan penghambaan. Sejenak saja manusia menengok pada dirinya, ia akan menemukan hakikat kehambaan seperti terungkap pada kekurangan, ketergantungan, kefakiran, kehinaan dan kesementaraan yang menyelubungi hidupnya.
Dan hakikat itulah yang akan mengarahkannya kepada kesadaran dan penghayatan mengenai Pencipta alam. Sedikit teguran dan gugahan sudah memadai untuk menyadarkan seorang manusia akan keberadaan dan kehadiran Ilahi di alam semesta.
Baca juga: Surat Nuh: Kisah Nabi Nuh Lengkap dalam Satu Surat
Bagi para sufi, ada dua jenis teguran: yang diupayakan oleh manusia itu sendiri dengan perenungan dan pengendalian diri; dan yang dilakukan langsung oleh Tuhan melalui berbagai kejadian dan peristiwa.
Sekali waktu pernah Ja’far Ash-Shadiq diminta orang untuk menguraikan tentang Tuhan sehingga seakan dia melihat-Nya.
Imam bertanya: “Pernahkah kau berlayar?”
“Ya,” jawabnya.
“Pernahkah kapalmu diterjang ombak yang dahsyat?”
“Ya.”
“Apa pada waktu itu kau kehilangan harapan pada segala yang kau lihat dan kau merasa bahwa ajalmu telah tiba?”
“Ya.”
“Lalu apa kau masih punya harapan untuk selamat?”
“Ya.”
“Nah, kalau kau telah kehilangan harapan pada semua sarana (penyelamatan), lalu pada siapa kau gantungkan harapanmu di detik-detik terakhir itu?”
Lihat Juga :