Jadikan Setiap Malam Adalah Lailatul Qadar
Senin, 25 April 2022 - 03:00 WIB
loading...
A
A
A
Sebagian ulama sebagaimana dinyatakan Imam Abu Thalib al-Makki dalam kitab "Qût al-Qulûb fî Mu’âmalah al-Mahbûb wa Washf Tharîq al-Murîd ilâ Maqâm al-Tauhîd" mengatakan: “Setiap malam bagi seorang ‘arif statusnya (sama dengan) lailatul qadar.”
“Status sama” di sini tidak dalam kedudukan dan kemuliaan hakikinya, tapi dalam hal pengamalan ibadah. Sebab, banyak orang yang mulai giat beribadah saat sepuluh hari terakhir untuk mendapatkan lailatul qadar.
Sedangkan bagi mereka, orang-orang arif, kegiatan ibadah tidak harus menunggu terjadinya lailatul qadar, tapi harus dilakukan setiap hari, setiap saat dan setiap waktu.
Tentunya hal ini tidak bermaksud menyalahkan orang yang mulai giat beribadah di sepuluh hari terakhir, karena itu adalah hal yang sangat baik untuk dilakukan.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengatakan bahwa hari yang di dalamnya tidak melakukan maksiat kepada Allah, maka hari itu adalah hari raya (yaum ‘îd). Ia mengatakan: “Setiap hari yang di dalamnya tidak bermaksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla maka hari tersebut bagi kami adalah hari raya (‘îd).” (Al-Makki, 2016: I/155)
Baca juga: Ibrahim bin Adham Bertemu Malaikat Jibril, Ini Permintaannya
Ustadz Muhammad Afiq Zahara, alumnus Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kebumen, Jawa Tengah, menjelaskan tentu, hari raya yang dimaksud bukan hari raya yang dipahami secara umum, melainkan hari yang perlu dirayakan dengan kebahagiaan dan perasaan kembali fitri.
Sebagaimana yang banyak orang tahu, hari raya sangat identik dengan kebahagiaan dan kesenangan. Oleh karena itu, Sayyidina Ali radhiyallahu ‘anhu memandang perlu merayakan keberhasilan menjauhi maksiat dengan menganggap hari itu sebagai hari raya.
"Itulah sebenarnya yang harus dihayati dalam hari raya, tidak sekadar kebaruan dalam bagian luarnya saja seperti baju baru dan lain sebagainya," ujar Ustadz Muhammad Afiq Zahara dalam tulisannya berjudul "Saat Ibrahim bin Adham Diajak Mencari Lailatul Qadar di Madinah" sebagaimana dilansir laman resmi Nahdlatul Ulama, Ahad (24/4/2022)
Dengan demikian, ucapan Imam Ibrahim bin Adham, dari polanya, tidak berbeda dengan ucapan Sayyidina Ali tentang hari raya, bahwa beramal tidak perlu menunggu sepuluh hari terakhir atau mendatangi tempat tertentu terlebih dahulu.
“Status sama” di sini tidak dalam kedudukan dan kemuliaan hakikinya, tapi dalam hal pengamalan ibadah. Sebab, banyak orang yang mulai giat beribadah saat sepuluh hari terakhir untuk mendapatkan lailatul qadar.
Sedangkan bagi mereka, orang-orang arif, kegiatan ibadah tidak harus menunggu terjadinya lailatul qadar, tapi harus dilakukan setiap hari, setiap saat dan setiap waktu.
Tentunya hal ini tidak bermaksud menyalahkan orang yang mulai giat beribadah di sepuluh hari terakhir, karena itu adalah hal yang sangat baik untuk dilakukan.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengatakan bahwa hari yang di dalamnya tidak melakukan maksiat kepada Allah, maka hari itu adalah hari raya (yaum ‘îd). Ia mengatakan: “Setiap hari yang di dalamnya tidak bermaksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla maka hari tersebut bagi kami adalah hari raya (‘îd).” (Al-Makki, 2016: I/155)
Baca juga: Ibrahim bin Adham Bertemu Malaikat Jibril, Ini Permintaannya
Ustadz Muhammad Afiq Zahara, alumnus Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kebumen, Jawa Tengah, menjelaskan tentu, hari raya yang dimaksud bukan hari raya yang dipahami secara umum, melainkan hari yang perlu dirayakan dengan kebahagiaan dan perasaan kembali fitri.
Sebagaimana yang banyak orang tahu, hari raya sangat identik dengan kebahagiaan dan kesenangan. Oleh karena itu, Sayyidina Ali radhiyallahu ‘anhu memandang perlu merayakan keberhasilan menjauhi maksiat dengan menganggap hari itu sebagai hari raya.
"Itulah sebenarnya yang harus dihayati dalam hari raya, tidak sekadar kebaruan dalam bagian luarnya saja seperti baju baru dan lain sebagainya," ujar Ustadz Muhammad Afiq Zahara dalam tulisannya berjudul "Saat Ibrahim bin Adham Diajak Mencari Lailatul Qadar di Madinah" sebagaimana dilansir laman resmi Nahdlatul Ulama, Ahad (24/4/2022)
Dengan demikian, ucapan Imam Ibrahim bin Adham, dari polanya, tidak berbeda dengan ucapan Sayyidina Ali tentang hari raya, bahwa beramal tidak perlu menunggu sepuluh hari terakhir atau mendatangi tempat tertentu terlebih dahulu.
Lihat Juga :