Beberapa Ayat dalam Surat Ar-Rahman Merujuk Indonesia, Ini Penjelasan Pakar Perikanan
Selasa, 26 April 2022 - 14:33 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Jangan Tinggalkan Surah Ar-Rahman, Ini Keutamaannya
Dua Tempat Terbit
Yudi boleh saja menafsirkan hal seperti itu. Menafsirkan surat al-Rahman ayat 17, Wahbah al-Zuhaili dalam al-Tafsir al-Wasith mengatakan dua tempat terbit dan terbenam pada ayat tersebut adalah tempat terbit dan terbenam pada musim panas dan hujan yang berarti Allah menjaga, mengatur dan memelihara matahari sehingga terjadi empat musim di bumi yaitu semi, panas, gugur dan dingin serta terjadi beberapa iklim seperti iklim sedang, dingin, tropis dan subtropis.
Imam al-Baidhawi dalam kitab tafsirnya menyampaikan: “Dari ayat di atas terdapat berbagai manfaat dan faidah yang tidak terhitung seperti muncul iklim tropis, pergantian musim dan terjadinya berbagai hal pada tiap musim serta lain sebagainya.”
Sementara itu, dalam diskursus tafsir modern surat Al-Rahman ayat 19-21 memang dimasukkan dalam objek ‘tafsir ilmi’ sebuah corak penafsiran yang fokus pada pembahasan tentang isyarat-isyarat ilmiah yang ada dalam al-Quran.
Corak tafsir ini meniscayakan bahwa jauh sebelum teori-teori ilmiah mutakhir ditemukan, al-Quran telah memberikan sebuah isyarat mengenai hal itu. Salah satu contohnya adalah terkait dengan pertemuan dua arus laut tersebut.
Allah SWT berfirman:
“Dia membiarkan dua laut mengalir yang (kemudian) keduanya bertemu. Di antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” ( QS Al-Rahman :19-21)
Baca juga: Tadabur Surat Ar-Rahman Ayat 2 Sampai 4
Para ulama tafsir berbeda pendapat mengenai sejauh mana umat Islam dapat memahami al-Quran melalui corak tafsir ilmi. Sebagian mufassir cenderung menolak corak tafsir seperti ini karena dianggap apologetik. Artinya al-Quran hanya diglorifikasi karena ada kesesuaian dengan temuan ilmiah. Padahal pada kenyataannya sumber inspirasi penemuan ilmiah itu bukan berasal dari al-Quran. Sebagian yang lain berpendapat bahwa corak tafsir ilmi merupakan bagian dari tanda kemukjizatan al-Quran. Dengan kata lain, isyarat ilmiah ini diyakini sebagai salah satu bukti Kuasa Allah SWT yang mengungkap isyarat ilmiah jauh sebelum teori itu ditemukan.
Ibnu Jarir al-Thabari (w. 310 H) yang hidup di abad ke-3 mengemukakan dua penafsiran yang selaras dengan riwayat yang didapatkannya.
Pertama riwayat dari Sa’id dan Ibnu Abbas , makna dari dua laut di atas adalah pertemuan antara laut langit (bahr fi al-sama’) dan laut bumi (bahr fi al-ardh).
Dua Tempat Terbit
Yudi boleh saja menafsirkan hal seperti itu. Menafsirkan surat al-Rahman ayat 17, Wahbah al-Zuhaili dalam al-Tafsir al-Wasith mengatakan dua tempat terbit dan terbenam pada ayat tersebut adalah tempat terbit dan terbenam pada musim panas dan hujan yang berarti Allah menjaga, mengatur dan memelihara matahari sehingga terjadi empat musim di bumi yaitu semi, panas, gugur dan dingin serta terjadi beberapa iklim seperti iklim sedang, dingin, tropis dan subtropis.
Imam al-Baidhawi dalam kitab tafsirnya menyampaikan: “Dari ayat di atas terdapat berbagai manfaat dan faidah yang tidak terhitung seperti muncul iklim tropis, pergantian musim dan terjadinya berbagai hal pada tiap musim serta lain sebagainya.”
Sementara itu, dalam diskursus tafsir modern surat Al-Rahman ayat 19-21 memang dimasukkan dalam objek ‘tafsir ilmi’ sebuah corak penafsiran yang fokus pada pembahasan tentang isyarat-isyarat ilmiah yang ada dalam al-Quran.
Corak tafsir ini meniscayakan bahwa jauh sebelum teori-teori ilmiah mutakhir ditemukan, al-Quran telah memberikan sebuah isyarat mengenai hal itu. Salah satu contohnya adalah terkait dengan pertemuan dua arus laut tersebut.
Allah SWT berfirman:
مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ (19) بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَا يَبْغِيَانِ (20) فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
“Dia membiarkan dua laut mengalir yang (kemudian) keduanya bertemu. Di antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” ( QS Al-Rahman :19-21)
Baca juga: Tadabur Surat Ar-Rahman Ayat 2 Sampai 4
Para ulama tafsir berbeda pendapat mengenai sejauh mana umat Islam dapat memahami al-Quran melalui corak tafsir ilmi. Sebagian mufassir cenderung menolak corak tafsir seperti ini karena dianggap apologetik. Artinya al-Quran hanya diglorifikasi karena ada kesesuaian dengan temuan ilmiah. Padahal pada kenyataannya sumber inspirasi penemuan ilmiah itu bukan berasal dari al-Quran. Sebagian yang lain berpendapat bahwa corak tafsir ilmi merupakan bagian dari tanda kemukjizatan al-Quran. Dengan kata lain, isyarat ilmiah ini diyakini sebagai salah satu bukti Kuasa Allah SWT yang mengungkap isyarat ilmiah jauh sebelum teori itu ditemukan.
Ibnu Jarir al-Thabari (w. 310 H) yang hidup di abad ke-3 mengemukakan dua penafsiran yang selaras dengan riwayat yang didapatkannya.
Pertama riwayat dari Sa’id dan Ibnu Abbas , makna dari dua laut di atas adalah pertemuan antara laut langit (bahr fi al-sama’) dan laut bumi (bahr fi al-ardh).
Lihat Juga :