Sejarah Idul Fitri dan Perayaannya
Kamis, 28 April 2022 - 13:23 WIB
loading...
Bila kita menengok sejarah masa lalu, perayaan Idul Fitri pertama kali diselenggarakan pada 624 Masehi atau tahun ke-2 Hijriyah. Foto ilustrasi/SINDOnews
A
A
A
Tahukah bahwa I dul Fitri , Ramadhan dan Perang Badar ternyata sangat berkaitan. Bila kita menengok sejarah masa lalu, perayaan Idul Fitri pertama kali diselenggarakan pada 624 Masehi atau tahun ke-2 Hijriyah.
Waktu perayaan tersebut bertepatan dengan selesainya Perang Badar yang dimenangkan oleh kaum Muslimin. Perang yang terjadi pada Ramadhan itu dengan jumlah pasukan di sisi umat Muslim yang jauh lebih sedikit dibanding kaum kafir, nyatanya diganjar Allah dengan perayaan yang luar biasa indah dan barokah: Idul Fitri .
Karena kemenangan inilah maka lahirlah ungkapan “Minal ‘Aidin wa Faizin” yang memiliki versi lengkapnya yaitu “Allahummaj ‘alna minal ‘aidin walfaizin” yang berarti Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang kembali (dari Perang Badar) dan mendapatkan kemenangan.
Baca juga: Surat Al-A'la Ayat 14-15: Idul Fitri sebagai Momentum Manusia yang Beruntung
Dalam buku 'Hayatu Muhammad', Husein Haikal menjelaskan, sejak awal Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam tidak pernah menginginkan peperangan, namun peperangan ini dipicu oleh aksi monopoli pasar dan blockade aktifitas dagang oleh kaum Quraisy Mekah terhadap Muslim Madinah. Pada hari ke-8 Ramadhanlah perang ini dimulai. Dengan tentara yang berjumlah 1000, pasukan Abu Jahal dan kafilah Abu Sufyan dari Syam menyerbu. Saat itu Nabi hanya membawa 300 sahabat menuju Badar.
Selanjutnya disebutkan dalam Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources karya Martin Lings, bahwa di Badarlah perang ini berlangsung pada pagi 17 Ramadhan. Dengan didampingi Sahabat yakni Hamzah, Umar, Ali, dan ‘Ubaidah, Nabi memimpin 300 pasukan melawan 1000 pasukan. Raut cemas menyelimuti wajah Nabi. Bahkan Abu Bakar, sahabat Nabi dapat menangkap kecemasan tersebut.
Hingga turunlah satu ayat Al Qur’an yang menenangkan gelombang kecemasan tersebut yaitu Surat Al Anfal ayat 65.
"Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti." (QS. Al Anfal: 65).
Berkat keteguhan iman, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya dapat memenangkan peperangan dengan waktu yang lumayan singkat. Dengan luka di tubuh, Rasulullah dan para sahabat melangsungkan shalat Ied pertamanya. Dalam suasan tersebut, para sahabat saling bertemu dengan mengucapkan doa “Taqabbalallahu minna waminkum” yang artinya semoga Allah menerima ibadah kita semua.
Baca juga: Begini Cara Mendapatkan Pahala Sholat Semalam Suntuk
Asal Mula Perayaan Idul Fitri
Waktu perayaan tersebut bertepatan dengan selesainya Perang Badar yang dimenangkan oleh kaum Muslimin. Perang yang terjadi pada Ramadhan itu dengan jumlah pasukan di sisi umat Muslim yang jauh lebih sedikit dibanding kaum kafir, nyatanya diganjar Allah dengan perayaan yang luar biasa indah dan barokah: Idul Fitri .
Karena kemenangan inilah maka lahirlah ungkapan “Minal ‘Aidin wa Faizin” yang memiliki versi lengkapnya yaitu “Allahummaj ‘alna minal ‘aidin walfaizin” yang berarti Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang kembali (dari Perang Badar) dan mendapatkan kemenangan.
Baca juga: Surat Al-A'la Ayat 14-15: Idul Fitri sebagai Momentum Manusia yang Beruntung
Dalam buku 'Hayatu Muhammad', Husein Haikal menjelaskan, sejak awal Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam tidak pernah menginginkan peperangan, namun peperangan ini dipicu oleh aksi monopoli pasar dan blockade aktifitas dagang oleh kaum Quraisy Mekah terhadap Muslim Madinah. Pada hari ke-8 Ramadhanlah perang ini dimulai. Dengan tentara yang berjumlah 1000, pasukan Abu Jahal dan kafilah Abu Sufyan dari Syam menyerbu. Saat itu Nabi hanya membawa 300 sahabat menuju Badar.
Selanjutnya disebutkan dalam Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources karya Martin Lings, bahwa di Badarlah perang ini berlangsung pada pagi 17 Ramadhan. Dengan didampingi Sahabat yakni Hamzah, Umar, Ali, dan ‘Ubaidah, Nabi memimpin 300 pasukan melawan 1000 pasukan. Raut cemas menyelimuti wajah Nabi. Bahkan Abu Bakar, sahabat Nabi dapat menangkap kecemasan tersebut.
Hingga turunlah satu ayat Al Qur’an yang menenangkan gelombang kecemasan tersebut yaitu Surat Al Anfal ayat 65.
"Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti." (QS. Al Anfal: 65).
Berkat keteguhan iman, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya dapat memenangkan peperangan dengan waktu yang lumayan singkat. Dengan luka di tubuh, Rasulullah dan para sahabat melangsungkan shalat Ied pertamanya. Dalam suasan tersebut, para sahabat saling bertemu dengan mengucapkan doa “Taqabbalallahu minna waminkum” yang artinya semoga Allah menerima ibadah kita semua.
Baca juga: Begini Cara Mendapatkan Pahala Sholat Semalam Suntuk
Asal Mula Perayaan Idul Fitri
Lihat Juga :