Begini Hal-Hal Tak Biasa yang Dilakukan Rasulullah SAW di 10 Malam Terakhir Ramadhan
Jum'at, 29 April 2022 - 18:41 WIB
loading...
Rasulullah membangunkan keluarganya untuk beribadah, baik yang sudah dewasa maupun yang anak-anak pada malam 10 terakhir Ramadhan. Foto/Ilustrasi : Ist
A
A
A
Sayyidah Aisyah ra dalam beberapa riwayat menyebutkan bahwa Rasulullah SAW melakukan aktivitas yang tidak biasa di malam-malam terakhir Ramadhan . Beliau, salah satunya adalah membangunkan keluarganya untuk beribadah, baik yang sudah dewasa maupun yang anak-anak.
Di sisi lain, jika Lailatul Qadar dikatakan sebagai malam yang penuh rahasia, maka Rasulullah SAW yang pertama kali membocorkan rahasia tersebut dengan menyebut sedikit ciri-cirinya, khususnya tentang waktunya, yakni di sepuluh hari terakhir Ramadan.
Baca juga: Pentingnya Mengajak Anak Menghidupkan Lailatul Qadar
Nah, riwayat-riwayat tersebut juga disinggung oleh beberapa mufasir ketika menafsirkan surah Al-Baqarah ayat 187.
Imam Ibn Katsir dan al-Razi, misalnya, tatkala menguraikan tafsir surah Al-Baqarah ayat 187 tersebut mendokumentasikan beberapa hadis yang menunjukkan keutamaan beribadah di 10 malam terakhir Ramadhan. Di antaranya diriwayatkan dari Aisyah dan disahihkan oleh Bukhari Muslim:
كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
Nabi Muhammad SAW ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, maka beliau akan menyisingkan lengan bajunya, menghidupkan malamnya, serta membangunkan keluarganya.
Salah satu kesimpulan yang dapat kita ambil dari hadis tersebut adalah, hendaknya seseorang memberikan dorongan kepada keluarganya untuk melaksanakan amal baik serta ibadah sunah. Dan tidak terbatas pada ibadah wajib saja.
Ibn Hajar al-Asqalani dalam "Fathul Bari" berkomentar tentang hadis di atas, khususnya tentang tujuan Nabi membangunkan keluarganya, yaitu agar mereka melaksanakan sholat.
Dalam rangka menguatkan pendapatnya, Ibn Hajar kemudian mengutip hadis yang diriwayatkan Imam al-Tirmidzi dari Zainab bin Ummi Salamah:
لَمْ يَكُنْ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا بَقِيَ مِنْ رَمَضَان عَشْرَة أَيَّام يَدَعُ أَحَدًا مِنْ أَهْله يُطِيق الْقِيَام إِلَّا أَقَامَهُ
Tatkala memasuki sepuluh hari bulan Ramadan, Nabi Muhammad selalu membangunkan semua keluarganya yang mampu melaksanakan sholat malam, untuk sholat malam.
Baca juga: Jadikan Setiap Malam Adalah Lailatul Qadar
Di sisi lain, jika Lailatul Qadar dikatakan sebagai malam yang penuh rahasia, maka Rasulullah SAW yang pertama kali membocorkan rahasia tersebut dengan menyebut sedikit ciri-cirinya, khususnya tentang waktunya, yakni di sepuluh hari terakhir Ramadan.
Baca juga: Pentingnya Mengajak Anak Menghidupkan Lailatul Qadar
Nah, riwayat-riwayat tersebut juga disinggung oleh beberapa mufasir ketika menafsirkan surah Al-Baqarah ayat 187.
Imam Ibn Katsir dan al-Razi, misalnya, tatkala menguraikan tafsir surah Al-Baqarah ayat 187 tersebut mendokumentasikan beberapa hadis yang menunjukkan keutamaan beribadah di 10 malam terakhir Ramadhan. Di antaranya diriwayatkan dari Aisyah dan disahihkan oleh Bukhari Muslim:
كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
Nabi Muhammad SAW ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, maka beliau akan menyisingkan lengan bajunya, menghidupkan malamnya, serta membangunkan keluarganya.
Salah satu kesimpulan yang dapat kita ambil dari hadis tersebut adalah, hendaknya seseorang memberikan dorongan kepada keluarganya untuk melaksanakan amal baik serta ibadah sunah. Dan tidak terbatas pada ibadah wajib saja.
Ibn Hajar al-Asqalani dalam "Fathul Bari" berkomentar tentang hadis di atas, khususnya tentang tujuan Nabi membangunkan keluarganya, yaitu agar mereka melaksanakan sholat.
Dalam rangka menguatkan pendapatnya, Ibn Hajar kemudian mengutip hadis yang diriwayatkan Imam al-Tirmidzi dari Zainab bin Ummi Salamah:
لَمْ يَكُنْ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا بَقِيَ مِنْ رَمَضَان عَشْرَة أَيَّام يَدَعُ أَحَدًا مِنْ أَهْله يُطِيق الْقِيَام إِلَّا أَقَامَهُ
Tatkala memasuki sepuluh hari bulan Ramadan, Nabi Muhammad selalu membangunkan semua keluarganya yang mampu melaksanakan sholat malam, untuk sholat malam.
Baca juga: Jadikan Setiap Malam Adalah Lailatul Qadar
Lihat Juga :