Kisah Bijak Para Sufi: Orang Berjalan di Atas Air

Minggu, 21 Juni 2020 - 06:44 WIB
loading...
Kisah Bijak Para Sufi:...
Ucapan U YA itu kembali keliru dilafalkan ... Foto/Ilustrasi/Ist
A A A
SUATU hari seorang darwis yang setia pada adat kebiasaan, yang berasal dari madrasah yang sangat disiplin-saleh, berjalan menyusuri tepi sungai. Ia berkonsentrasi merenungkan berbagai masalah moral dan ajaran, sebab begitulah bentuk pengajaran Sufi yang lazim di madrasahnya. Ia menyamakan agama perasaan dengan pencarian Kebenaran hakiki.

Tiba-tiba, renungannya terganggu oleh teriakan keras. Seseorang sedang mengulang-ulang suatu ungkapan darwis. "Tak ada maknanya itu," katanya kepada diri sendiri, "sebab orang itu salah melafalkannya. Seharusnya YA HU, ia bilang U YA HU."

Kemudian, ia menyadari bahwa ia mempunyai kewajiban, sebagai murid yang lebih teliti, untuk membetulkan ucapan orang yang patut dikasihani itu. Barangkali orang itu belum pernah mempunyai kesempatan mendapat bimbingan yang baik, dan sebab itu mungkin hanya berusaha yang terbaik untuk menyesuaikan diri dengan ide di balik ungkapan tersebut.

Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Membawa Sepatu

Begitulah darwis itu menyewa sebuah perahu untuk membawanya menuju pulau di tengah-tengah sungai darimana suara tadi berasal.

Ditemukannya orang itu duduk di sebuah gubug alang-alang, mengenakan jubah darwis, bergerak-gerak sambil mengucapkan ungkapan tadi. "Sahabat," kata darwis pertama, "engkau keliru melafalkan ungkapan itu. Sudah kewajibanku untuk memberitahumu, sebab ada pahala bagi mereka yang memberi dan menerima nasihat. Beginilah ucapan yang benar." Lalu diberitahukannya ucapan itu. (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Emas Keberuntungan )

"Terima kasih," kata darwis kedua dengan rendah hati.

Darwis pertama naik kembali ke perahunya, merasa puas karena telah melakukan suatu perbuatan baik. Bagaimanapun, konon orang yang bisa mengulang-ulang ungkapan rahasia itu dengan benar, akan bisa berjalan di atas air. Darwis pertama itu belum pernah menyaksikannya sendiri, tetapi senantiasa berharap karena alasan tertentu agar dirinya bisa melakukannya.

Baca juga: Hikayat Mistis: Bunglon dan Kelelawar

Kini, ia tak lagi mendengar suara dari gubug alang-alang itu, dan yakin bahwa pelajarannya sudah diterima dengan baik.

Kemudian, didengarnya darwis kedua itu mulai mengulang-ulang ungkapannya; tetapi ucapan U YA itu kembali keliru dilafalkan

Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Saudagar dan Darwis Kristen

Sementara darwis pertama memikirkan hal ini, merenungkan betapa manusia sering kali keras kepala mempertahankan kekeliruan, tiba-tiba ia melihat pemandangan yang ganjil dari pulau itu darwis kedua datang menuju perahunya, berjalan di atas air!

Ia pun berhenti mendayung karena takjub. Darwis kedua tadi mendekatinya dan berkata, "Saudara, maaf saya mengganggu Saudara, tetapi saya harus menemui Saudara untuk menanyakan kembali cara pengucapan yang benar yang Saudara sampaikan tadi, sebab saya kesulitan untuk mengingatnya."

Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Kandil Besi

===

Dalam bahasa Inggris hanya satu arti yang bisa kita tangkap dari kisah ini. Versi Arab sering menggunakan kata-kata yang bunyinya sama tetapi artinya berbeda (homonim) untuk menandakan bahwa kata itu dimaksudkan untuk memperdalam kesadaran, dan juga untuk menunjukkan suatu moral yang dangkal nilainya.

Selain terdapat dalam sastra populer masa kini di Timur, kisah ini juga ditemukan dalam naskah-naskah ajaran darwis, beberapa di antaranya merupakan naskah yang besar.

Versi ini berasal dari tarekat Asaaseen ('esensial', 'asli') di Timur Dekat dan Tengah.

Dinukil dari Idries Shah "Tales of The Dervishes" diterjemahkan Ahmad Bahar menjadi Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi.
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Kisah Hikmah : Tidak...
Kisah Hikmah : Tidak Melakukan Ibadah Haji Tapi Dapat Pahala Haji, Kok Bisa?
Kisah Bulan Zulhijjah...
Kisah Bulan Zulhijjah : Diijabahnya Doa Nabi Zakaria Mendapatkan Keturunan di Umur 90 Tahun
Kisah Uwais Al Qarni...
Kisah Uwais Al Qarni : Menggendong Ibunya dari Yaman ke Makkah untuk Melaksanakan Haji
Kisah Hikmah : Laki-laki...
Kisah Hikmah : Laki-laki yang Selamat dari Neraka karena Zikir Laa Ilaaha Illallaah
Kisah Hikmah : Diselamatkan...
Kisah Hikmah : Diselamatkan dari Siksa Kubur karena Fadilah Puasa Syawal
Kisah Hit, Seorang Waria...
Kisah Hit, Seorang Waria yang Hidup di Zaman Nabi SAW
Rekomendasi
Ilmuwan Ungkap Fenomena...
Ilmuwan Ungkap Fenomena Alam Mematikan yang Dikaitkan dengan Nyi Roro Kidul
Fenomena Hujan Es, Begini...
Fenomena Hujan Es, Begini Penjelasan Al-Qur'an dan Sains
Malam Ini Puncak Hujan...
Malam Ini Puncak Hujan Meteor Eta Aquarid, Bisa Dilihat di Indonesia?
Artikel Terkini
Bacaan Niat 3 Jenis...
Bacaan Niat 3 Jenis Puasa Sunnah di Bulan Muharram
Deretan Dalil Kuat Anjuran...
Deretan Dalil Kuat Anjuran 3 Puasa Sunnah di Bulan Muharram
Jadwal Puasa Muharam...
Jadwal Puasa Muharam 1448 H Tahun 2026, Kapan Puasa Tasu'a dan Asyura Dilaksanakan?
Jangan Libatkan Anak...
Jangan Libatkan Anak dalam Konflik Perceraian, Ini Pesan Buya Yahya untuk Orang Tua
Ramai Kasus Perebutan...
Ramai Kasus Perebutan Hak Asuh Anak, Begini Aturan Hadhanah dalam Islam
5 Putusan Rasulullah...
5 Putusan Rasulullah SAW tentang Hak Asuh Anak Setelah Perceraian
Infografis
Abu Musa Jabir Bin Hayyan,...
Abu Musa Jabir Bin Hayyan, Ilmuwan Islam di Bidang Kimia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved