Kisah Bijak Para Sufi: Teh dan Angan-Angan Minuman Surgawi
Senin, 22 Juni 2020 - 06:27 WIB
loading...
Siapa yang minum, ia akan tahu. Siapa yang tak minum, ia tak akan tahu. Foto/Ilustrasi/Foodizz
A
A
A
Pada zaman dahulu, teh hanya dikenal di Cina . Hanya desas-desus tentang teh terdengar oleh orang bijak dan awam di berbagai negara. Lalu, setiap orang berusaha mencari tahu seperti apa teh itu sesuai dengan keinginan atau pikirannya tentang teh. (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Orang Berjalan di Atas Air )
Raja negeri Inja ('sini') menyuruh utusan ke Cina, dan mereka pun disuguhi teh oleh Kaisar Cina. Namun, para utusan itu menganggap suguhan tersebut kurang pantas sebab dilihat oleh mereka bahwa para petani pun meminum teh yang sama. Para suruhan itu menyimpulkan bahwa Kaisar Cina mencoba memperdaya mereka, membuat minuman surgawi tidak dengan bahan terbaik.
Filsuf agung negeri Anja ('sana') mengumpulkan semua berita tentang teh. Disimpulkannya bahwa teh itu ada tetapi langka, dan merupakan jenis minuman yang belum pernah dikenal sebelumnya. Bukankah kata orang, teh itu jamu , air, hijau, hitam, kadang pahit, kadang manis?
Di negeri Koshish dan Bebinem, sepanjang berabad-abad orang mencari tahu khasiat semua tumbuhan yang bisa mereka temukan. Banyak yang beracun, semuanya mengecewakan. Tentu saja orang-orang itu tidak menemukannya sebab memang di negeri mereka tak ada tanaman teh. Di samping itu, mereka juga meminum semua zat cair yang bisa diperoleh, tetapi tetap saja sia-sia.
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Membawa Sepatu
Di daerah Tarekat ('Pikiran Picik') sekantong kecil teh dibawa dalam arak-arakan meriah upacara keagamaan. Tak ada yang berpikir untuk mencicipinya sebab tak ada yang tahu caranya. Semua yakin bahwa teh itu punya kuasa gaib.
Seorang yang bijaksana pernah berkata, "Tuangkan air panas pada teh itu, orang-orang bodoh!"
Orang bijaksana itu pun mereka gantung dan dipaku pada sebuah tiang. Menurut kepercayaan mereka, mencampur teh dengan bahan lain akan merusak teh tersebut. Dengan demikian, nasihatnya menunjukkan bahwa orang bijaksana itu merupakan musuh.
Sebelum mati, orang bijaksana itu meneruskan rahasianya kepada beberapa orang, dan mereka ini mencari-cari teh untuk kemudian diminum secara sembunyi-sembunyi. Ketika ditanya, "Apa pula yang kalian lakukan?" Mereka menjawab, "Teh ini untuk mengobati penyakit tertentu." (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Emas Keberuntungan )
Dan begitulah yang terjadi di seluruh dunia. Beberapa orang sebenarnya menanam teh, tetapi tak mengenalinya. Banyak orang pernah mencicipinya, tetapi dikiranya minuman biasa. Orang lain lagi memiliki daun teh dan memujanya. Di luar Cina, hanya sedikit orang yang minum teh, dan mereka ini melakukannya secara tersembunyi.
Kemudian, tampilah seorang manusia bijaksana, yang berkata kepada pedagang dan peminum teh, serta yang lainnya, "Siapa yang minum, ia akan tahu. Siapa yang tak minum, ia tak akan tahu. Dari pada kalian berandai-andai tentang minuman surgawi, hidangkanlah teh itu dalam pesta.
Baca juga: Hikayat Mistis: Bunglon dan Kelelawar
Mereka yang menyukainya akan muncul masa ingin tahu. Yang tidak, berarti mereka bukanlah penggemar teh. Hentikan adu mulut dan tebak-tebakan. Bukalah kedai teh agar orang singgah dan meminumnya."
Raja negeri Inja ('sini') menyuruh utusan ke Cina, dan mereka pun disuguhi teh oleh Kaisar Cina. Namun, para utusan itu menganggap suguhan tersebut kurang pantas sebab dilihat oleh mereka bahwa para petani pun meminum teh yang sama. Para suruhan itu menyimpulkan bahwa Kaisar Cina mencoba memperdaya mereka, membuat minuman surgawi tidak dengan bahan terbaik.
Filsuf agung negeri Anja ('sana') mengumpulkan semua berita tentang teh. Disimpulkannya bahwa teh itu ada tetapi langka, dan merupakan jenis minuman yang belum pernah dikenal sebelumnya. Bukankah kata orang, teh itu jamu , air, hijau, hitam, kadang pahit, kadang manis?
Di negeri Koshish dan Bebinem, sepanjang berabad-abad orang mencari tahu khasiat semua tumbuhan yang bisa mereka temukan. Banyak yang beracun, semuanya mengecewakan. Tentu saja orang-orang itu tidak menemukannya sebab memang di negeri mereka tak ada tanaman teh. Di samping itu, mereka juga meminum semua zat cair yang bisa diperoleh, tetapi tetap saja sia-sia.
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Membawa Sepatu
Di daerah Tarekat ('Pikiran Picik') sekantong kecil teh dibawa dalam arak-arakan meriah upacara keagamaan. Tak ada yang berpikir untuk mencicipinya sebab tak ada yang tahu caranya. Semua yakin bahwa teh itu punya kuasa gaib.
Seorang yang bijaksana pernah berkata, "Tuangkan air panas pada teh itu, orang-orang bodoh!"
Orang bijaksana itu pun mereka gantung dan dipaku pada sebuah tiang. Menurut kepercayaan mereka, mencampur teh dengan bahan lain akan merusak teh tersebut. Dengan demikian, nasihatnya menunjukkan bahwa orang bijaksana itu merupakan musuh.
Sebelum mati, orang bijaksana itu meneruskan rahasianya kepada beberapa orang, dan mereka ini mencari-cari teh untuk kemudian diminum secara sembunyi-sembunyi. Ketika ditanya, "Apa pula yang kalian lakukan?" Mereka menjawab, "Teh ini untuk mengobati penyakit tertentu." (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Emas Keberuntungan )
Dan begitulah yang terjadi di seluruh dunia. Beberapa orang sebenarnya menanam teh, tetapi tak mengenalinya. Banyak orang pernah mencicipinya, tetapi dikiranya minuman biasa. Orang lain lagi memiliki daun teh dan memujanya. Di luar Cina, hanya sedikit orang yang minum teh, dan mereka ini melakukannya secara tersembunyi.
Kemudian, tampilah seorang manusia bijaksana, yang berkata kepada pedagang dan peminum teh, serta yang lainnya, "Siapa yang minum, ia akan tahu. Siapa yang tak minum, ia tak akan tahu. Dari pada kalian berandai-andai tentang minuman surgawi, hidangkanlah teh itu dalam pesta.
Baca juga: Hikayat Mistis: Bunglon dan Kelelawar
Mereka yang menyukainya akan muncul masa ingin tahu. Yang tidak, berarti mereka bukanlah penggemar teh. Hentikan adu mulut dan tebak-tebakan. Bukalah kedai teh agar orang singgah dan meminumnya."
Lihat Juga :