Idul Fitri, Pentingnya Jalin Tali Silaturahmi untuk Urai Kebencian dan Intoleransi

Sabtu, 14 Mei 2022 - 20:17 WIB
loading...
Idul Fitri, Pentingnya Jalin Tali Silaturahmi untuk Urai Kebencian dan Intoleransi
Dai milenial, Habib Husein Jafar Al Hadar menyatakan budaya silaturahmi di Idul Fitri jadi momen penting guna saling mengenal dan berkomunikasi satu sama lain. Foto/Ist
A A A
JAKARTA - Budaya silaturahmi pada Idul Fitri menjadi momen penting guna saling mengenal dan berkomunikasi satu sama lain. Sehingga kesalahpahaman dan sentimen buruk dapat hilang oleh keberkahan dari silaturahmi itu sendiri.

Silaturahmi yang dipercaya menjadi jembatan untuk saling mengenal terhadap hal yang berbeda karena kebencian dan mengebalkan imunitas dari paham intoleransi dan radikalisme.

Baca juga: Quraish Shihab Bicara Halalbihalal Menurut Al-Qur'an

“Silaturahmi itu didalamnya bukan hanya ada pemaafan dan pemberian maaf, tapi ada kesepahaman, kesalingkenalan satu sama lain. Sehingga karena kenal itu masalah menjadi terurai dan kalaupun ada masalah menjadi termaafkan,” kata dai milenial, Habib Husein Ja'far Al Hadar, Sabtu (14/5/2022).

Dia menjelaskan, membangun silaturahmi juga sejatinya mampu mengurangi perbedaan diantara individu. Sehingga ia menilai, budaya silaturahmi yang berkembang di Nusantara ini perlu untuk terus dilestarikan guna menjaga kearifan lokal dan menjadi momen untuk lebih memahami esensi ajaran agama.

“Untuk terus melestarikan dan menjaga silaturahmi, yang pertama adalah dengan mengetahui betapa besarnya pahala bagi orang yang menjaga tali silaturahmi dan betapa besar dosanya orang yang memutus silaturahmi itu,” ujarnya.

Habib Ja'far menyatakan bahwa dalam salah satu sabdanya Nabi Muhammad SAW mengatakan "terlaknat orang yang memutus silaturahmi".

Baca juga: Jokowi: Tidak Ada Makan dan Minum saat Halalbihalal

Bahkan Nabi Muhammad pun memuji orang-orang yang saling memaafkan, sehingga menjadi pahala bagi yang menjaga tali silaturahmi dan dosa bagi yang mengutusnya.

“Kedua, adalah mengetahui manfaat silaturahmi. Terlalu banyak pertengkaran tanpa persoalan, karena salah paham saja sehingga kemudian kita jadi bertengkar,” katanya.

Dalam kesempatannya, Habib Ja'far juga menyinggung terkait enggannya generasi muda untuk ikut menjalin dan membangun silaturahmi. Ia menilai hal ini akibat daripada pola pikir para pemuda yang pragmatis dalam melihat hubungan.

“Kalau tidak ada hubungan bisnis atau tidak ada kepentingan di antara mereka untuk bertemu ya nggak bertemu. Itu yang membuat mereka enggan melakukan silaturahmi. Justru hubungan-hubungan yang berbasis kultural itu yang menjadi kekuatan bagi mereka termasuk dalam bisnis,” jelasnya.



Dia menilai, saat ini justru forum silaturahmi seperti forum motor, mobil atau hobi bisa menjadi bagian dari silaturahmi. Hal tersebut tumbuh dari kesadaran pada kesamaan hobi atau kesamaan fashion. Bahkan nantinya pada dasarnya tanpa kesamaan itu sendiri justru dalam titik perbedaan mereka seharusnya membangun silaturahmi agar bisa mengurangi perbedaan di antara mereka.

“Sehingga perlu membentuk media media komunikasi baik secara online maupun offline untuk menjadi ruang publik yang sehat bagi masyarakat yang akhirnya bisa mengobrol secara terbuka tanpa ada kebencian, tanpa ada prasangka dan lain sebagainya,” ujarnya.

Peraih gelar Magister bidang Tafsir Qur’an dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini bahkan menilai pada aspek yang lebih besar keuntungannya itu bukan hanya bagi kedua belah pihak tapi bagi umat dan bangsa ini sendiri.

“Sehingga perlu diajarkan kepada generasi muda yang pertama bahwa silaturahmi itu bisa membuat kedua belah pihak saling memahami, sehingga masalah menjadi terurai. Kedua, membuat kedua belah pihak saling belajar satu sama lain sehingga saling menambah ilmu,” tuturnya.

Ketiga menurutnya yaitu membuat kedua belah pihak membuka peluang-peluang untuk bekerjasama dalam hal-hal yang bersifat positif dan konstruktif bagi keduanya.

“Misalnya ketemu di satu kafe duduk bersama silaturahmi, akhirnya justru ada hal positif dan konstruktif yang menguntungkan bagi kedua belah pihak untuk dikerjakan bersama. Bukan hanya kedua belah pihak, tetapi juga bagi umat dan bangsa ini Itulah pentingnya silaturahmi,” kata Habib Ja'far.

Aktivis di Gerakan Islam Cinta ini juga menilai perlu adanya peran dari para tokoh agama dan juga tokoh masyarakat, dalam hal menjaga dan saling mengingatkan guna memperkuat ukhuwah atau persaudaraan kebangsaan melalui tali silaturahmi.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.3012 seconds (11.97#12.26)